Tuhan, Penciptaan Dan Manusia Dalam Suku Mee

Oleh Antonius Tebai

Mahasiswa STFT Fajar Timur

Suku Mee memiliki pandangan tersendiri tentang Tuhan. Sebutan nama Tuhan dalam suku Mee ialah “Awee Pito Mee”. “Awee” berarti “Terang”, “Pito” berarti “Cahaya” dan “Mee” berarti “Manusia”. Pengertian umum mengenai Tuhan dalam bahasa Mee ialah manusia yang memiliki terang dan cahaya. Artian mengenai Tuhan dalam bahasa mee bukan mengungkapakan identitas kemanusiaannya namun mengungkapkan keilahiaanya. Keilahiaanya dapat terungkap dengan pemahaman orang Mee mengenai Tuhan yakni manusia yang tidak berwujud. Manusia yang membungkus diri dengan terang dan cahaya, oleh karena itu  tubuhnya tidak dapat terlihat. Manusia hannya dapat melihat terang dan cahaya yang keluar dari tubuhnya.
Agama suku Mee mengenal konsep penciptaan. Segala yang ada merupakan karya dari Awo Pito Mee. Orang-orang tua dari suku mee menyebutnya demikian “Epa Maki, Uwo, utu, Piha, ibo one kebo, mee, kemugamaketa Mee”. Epa “Langit”, Maki “ Tanah”, Uwo “air”, Piha “Pohon”, ibo one kebo “Gunung dan Lembah”,  mee “Manusia” Kemugamaketa Mee “Seorang  Pengukir”. Dengan demikian, orang Mee meyakini bahwa langit, bumi, pohon atau tetumbuhan, air, bukit, lembah dan manusia merupakam karya seni ukiran dari tangan Tuhan. Kata mengukir memiliki makna yang luas. Orang Mee meyakini semua ciptaan termasuk manusia yang ada merupakan ciptaan Tuhan sendiri dengan cara mengukir, seperti seorang pengukir patung memahat dan membentuk patung dengan tangan sesuai dengan apa yang diimajinasikan dalam ide atau gagasannya.
Suku Mee melihat manusia sebagai makhluk yang berbeda dari ciptaan lain. Manusia memiliki “dimi kegepa”. Manusia mempunyai akal budi. Oleh karena itu, orang Mee dalam filosofisnya menyebut “dimi akauwai” yang berarti akal budi sebagai kaka atau yang tertua dalam dirinya. Oleh karena itu, setiap perilaku, cara berbicara, dan mengambil keputusan harus mendengarkan keputusan yang lahir dari akal budi bukan berdasarkan rasionalisasi. Akan tetapi, manusia Mee melihat dirinya sebagai manusia yang lemah.  Ada suatu wujud yang melampaui kekuatanya. Wujud tersebut ialah Ewe Pito Mee.
Manusia perlu mendekati Ewe Pito Mee. Selagi jiwa belum terpisah dengan tubuh, manusia harus hidup sesuai dengan ajaran-ajaran dari Ewe Pito Mee.  Melalui  itu, manusia dapat sampai kepada Awe Pito Mee. Keterpisahan dari dunia ini melalui kematian tidak berarti terputusnya hubungan antara manusia mee. Orang Mee meyakini bahwa orang meninggal masih memiliki hubungan dengan keluarganya. Mereka dapat  saling bertemu dalam dunia mimpi maupun khayalan dan juga melakukan kontak fisik langsung.
 
Relevansi Agama Suku Mee Secara Antropologis Dan Sosilogis Menurut Pandangan Clifford Geertz Dan Robert Bellah
Secara antropologis terdapat kaitan agama suku Mee dengan pandangan Clifford Geertz. Secara emosionalnya orang Mee dilarang untuk menyebut nama Tuhan “Awe Pito Mee” secara sembarangan dan di sembarang tempat, kecuali dalam ritual-ritual agama. Misanya, Seorang Mee sebelum membuka kebun akan mengungkapkan kata-kata ritual keagaman sebagai bentuk meminta izin terhadap Ewe Pito Mee yang menciptahkan  segalanya. Kata-kata yang sering dipakai ialah, “piha kemugaitata Mee, Ewe Pito Mee ani bugi epa taine kou makida makae” artinya Tuhan saya hendak membuka lahan baru sebagai kebun kehidupan, beri aku lahan ini untuk mengelolah dan hasil panenan yang memuaskan”.  
            Aspek sosiologis sangat relevan dengaan agama suku Mee jika direlevansikan dengan gagasan menurut Bellah. Aspek sosiologi dalam ritual orang Mee aka  terlihat ketika pemberian nama anak. Orang tua dan kerabatnya akan menghadiri ritual pemberian nama anak yang baru lahir. Saat memberi nama adat terhadap anak, didalam ritual adanya doa syukur atas pemebrian anak dari Tuhan atau Ewe Pito Mee. Sekaligus perlindungan dalam perjalanan pertumbuhan hidupnya. Disana mereka akan menyebut nama dari Tuhan itu dalam ritualnya.
Agama suku Mee saangat erat kaitan dengan agama Melanesia. Karena manusia Orang Mee mempunyai keyakinan akan adanya Tuhan, adanya ritual, simbul-simbol dan hubunngan atau relasinya dengan nenek moyang yang telah meninggal.
 
Daftar Pustaka
Renwarin, Bernardus. Bahan  Ajar Agama-agama suku. Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur. 2022.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.