Persipura Papua dan Barcelona Catalan

 
Oleh: Renold isak dapla
Memang, berbicara tentang keberadaan posisi kedua bangsa ini secara geografis, budaya, cara hidup, sejarah perkembangan masyarakat itu sungguh sangat jauh beda. Namun, keberadaan posisi kedua bangsa ini secara politiknya sama. Bangsa Papua hidup dibawah indonesia, kemudian bangsa Catalan dibawah Madrid.
Catalan melaluhi Club Barca mempunyai sebuah motto yang sungguh manerik, yaitu “Més que un club” (Lebih dari sebuah klub). Sedangkan Papua melaluhi team kebanggaan masyarakat Papua (Persipura) mempunyai semboyan dengan julukan Mutiara hitam (the black pearl). Masyarakat Catalan mengakui bahwa Barca itu lebih dari Club, demikian pula dengan Persipura Jayapura oleh masyarakat Papua.
Persipura ini didirikan pada tahun-tahun yang maraknya situasi politik. Akibat operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 1962 yang tak menentu, membuatnya sedih akan kondisi pemuda Papua. Sebab, tanah Papua saat itu sangat mencekam serta membuat frustasi banyak anak muda Papua.
Basis materi untuk membentuk sebuah wadah Persipura oleh Mesack dan kawan-kawan lainya adalah untuk mempersatukan semua pemuda Papua. Mempersatukan ini sudah jelas, bahwa latar belakang Mesak dan kawan-kawannya adalah Pendeta, sehingga mereka ingin melawan ketidakadilan yang terjadi di Papua, namun karena posisi mereka sebagai Pendeta, maka mereka (Mesak dan kawan-kawanya) mengambil jalan alternatif lain sebagai bentuk perlawanan dan protes dengan pembentukan Tim Persipura. Oleh sebabnya mereka membentuk Tim Persipura yang adalah sebuah wadah untuk melawan dan perjuang hak dasar orang Papua.
Tim kebanggaan masyarakat Catalan, Barcelona. Ia juga hadir setelah perkembngan Injil di Papua. Barcelona itu lahir sejak tahun 1899, sedangkan Injil di Papua itu pada tahun 1855, keduanya berada di durasi waktu yang sama. Batsan tentang tulisan ini, bukan membahas soal kehadiran Injil di Papua dan juga mayoritas masyarakat Kristen di Catalan, namun melihat dari segi kelahiran Tim raksasa milik masyarakat Catalan ini berada di posisi yang bersamaan dengan kehadiran Injil di Papua, karena latar belakang pembentukan Persipura itu oleh Pendeta-Pendeta. Jika menyebut Pendeta disini, maka tentunya Injil itu ada lebih dulu.
Pada tahun 61 Papua di deklerasikan oleh pejuang Papua sebagai Negara yang sudah berdaulat, namun Negara Indonesia dan Amerika serta Roma abaikan itu dan membuat beragam Perjanjian seakan orang Papua itu bodah. Rakyat Catalan melakukan Referendum yang lebih dari satu kali, mala penjajah Madrid tidak mengakui kemerdekaan dan kemudian menutupinya.
Masyarakat Catalan diberikan otonomi khusus, hal yang sama juga kepada masyarakat Papua. Dominasi warga non Catalan di Catalan juga lebih tinggi, demikian pula warga masyarakat di Papua. Represifitas yang di lakukan militer Madrid di Catalan, sama demikian pula dengan militer Indonesia di Papua hari ini.
Lambang Persipura berwarna hitam dan putih adalah suatu filosofi perlawanan tersendiri, demikian pula dengan lambang milik masyarakat Catalan di Tim Barcelona pada jersi kebanggaanya. Kedua Tim ini mempunyai semboyan yang sama, nilai yang sama, yaitu menuju pada perlawanan untuk merebut kemerdekaan, namun pertanyaanya adalah siapa yang sedang ada di dalam sistem kedua Tim yang mengaku sebagai manager dan mengatur kedua tim milik masyarakat Catalan dan Papua ini?
Perjuangan Barcelona dan Persipura ini bukan soal juaranya, bukan soal pujianya, bukan soal hebatnya, bukan soal tropinya, bukan soal skillnya. Namun, perjuangan kedua Tim ini adalah memperjuangkan soal harkat dan martabat masyarakat Catalan dan masyarakat Papua, meperjuangkan identitas politik, digniti mereka yang seharusnya hidup dan mengatur dirinya sendiri sebagai bangsa yang sudah merdeka. Kedua Tim ini adalah metode perjuangan melaluhi literasi bersepak bola.
Ketika melihat situasi kedua tim di tahun ini, posisinya berada dibawah, barca kalah beberapa kali, kemudian Persipura berada di posisi degradasi di liga BRI. Ini sebenarnya adalah kalah strategi politik perjuangan kemerdekaan, kalah taktik perjuangan, kalah konsolidasi perjuangan, kalah kekonsistenan perjuangan. Oleh sebabnya, butuh dukungan melaluhi doa, Tindakan Gerakan yang matang dengan skil-skil melaluhi kedua tim ini untuk bangkit lagi, karena kedua tim ini adalah obat penyembuh bagi kedua masyarakat-bangsa yang sedang dalam posisi penindasan.
Penulis adalah pecinta persipura mania, karena Persipura bukan soal bermain bola, namun Persipura adalah perjuangan melawan diskriminasi, rasis, ketidakadilan, stigma, separatis, teroris, bodoh, primitive dan banyak lagi. Bangkitlah Persipuraku.
)* Penulis Adalah Pencinta Persipura di Papua.
Publisher: Admin
 
 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.