PEMIKIRAN ORANG MIGANI TERHADAP PIKIRAN (MEGO AU)

Oleh: Anselmus Belau
mahasiswa tingkat II STFT Fajar Timur, Jayapura


Migani adalah salah satu suku di Papua yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Intan Jaya. Secara umum letak geografis Intan jaya terletak di sebelah timur Kabupaten Paniai dan sebelah Barat Kabupaten Puncak Jaya. Letak Intan jaya berada 2500 kaki di atas permukaan air laut.
Pemikiran Orang Migani terhadap pikiran (mego au) merupakan suatu hal yang hidup dan menjadi bagian dari kehidupan orang Migani. Pikiran merupakan suatu kekuatan untuk menghidupkan kehidupan yang dihidupi. Pikiran menjadi sumber kekuatan individual maupun secara umum dalam komunitas Orang Migani. Orang Migani berpandangan bahwa dengan memiliki pemikiran yang baik, manusia akan hidup dan menjalani kehidupan yang lebih baik dan lama.
Orang yang menjalani kehidupan yang lama disebut dengan Dole au mego au mene.  Dole au mego au mene berarti orang yang bijaksana atau orang yang hidup karena kebijaksanaannya. Andre Ata Ujan – dalam tulisannya terkait pikiran Plato, mengungkapkan bahwa filsafat pada hakekatnya merupakan hasil kontemplasi yang berkarakter untuk mengetahui bagaimana manusia harus hidup sebagai manusia. Dalam pemaparan Andre Ata Ujan, Plato mengaitkan filsafat dengan suatu pengetahuan yang benar tentang cara hidup sebagai manusia. Pandangan Plato tersebut selaras dengan pandangan orang Migani bahwa Pikiran (mego au) merupakan suatu kekuatan untuk memperoleh kehidupan yang baik dan benar. Bagi orang Migani, Kehidupan yang baik dan benar itu dihasilkan dari pengetahuan yang dimiliki oleh akal yang kemudian diolah (menimbang-nimbang), yang kemudian dapat diterima oleh roh alam, leluhur, sesama manusia dan Tuhan (Emo). Orang Migani meyakini bahwa roh alam, leluhur, sesama dan Tuhan dapat menerima pikiran manusia karena manusia juga memiliki pengetahuan yang mendalam tentang mereka. Pemikiran ini masih diteruskan dari generasi ke generasi dan menjadi suatu pola berpikir orang Migani terutama untuk membentuk kualitas pribadi yakni menjadi manusia yang bermutu dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang bermutu adalah realisasi dari makna menjadi manusia seturut kacamata orang Migani.
Pikiran (Mego Au) Menurut Orang Migani
Orang Migani memandang pikiran (mego au) sebagai sumber kekuatan manusia untuk mencapai kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan membentuk kualitas manusia untuk menjalani kehidupan yang baik dan benar. Di lain sisi, manusia yang memiliki kualitas pribadi yang bermutu ditentukan melalui pengetahuan tentang Roh alam, leluhur, sesama dan Tuhan (Emo). Orang yang memiliki pengetahuan tentang empat hal tersebut adalah manusia yang bijaksana (mego au tia mene).
Manusia yang bijaksana tidak hanya ditentukan oleh aspek kognitif atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang bijaksana (mego au tia mene). Manusia yang bijaksana juga ditentukan oleh kualitas pribadi yang menonjol dalam kehidupan bersama. Orang bijaksana adalah juga orang yang mampu merealisasikan pemikiran-pemikiran yang baik dan hal-hal baik lain yang dikehendaki oleh sesama, Tuhan, dan alam di mana mereka hidup. Orang Migani mengidentifikasi orang bijaksana melalui lamanya usia hidup seseorang. Lamanya kehidupan yang dijalani seseorang bukan hanya dilihat dari kelakuan baiknya tetapi juga karena pengetahuan dan ketaatan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan individual, kelompok dan umum komunitas orang Migani.
Memahami dan mentaati norma-norma hidup adalah suatu kewajiban dan keharusan. Norma-norma hidup merupakan hal yang didukung oleh Roh alam, leluhur, sesama dan Tuhan (Emo). Norma-norma hidup dalam kebudayaan orang Migani diturunkan dari generasi ke generasi sehingga pengetahuan dan ketaatan pada norma-norma juga merupakan ukuran untuk memperoleh hidup yang didukung dan dilindungi oleh alam, leluhur, sesama dan Tuhan. Hidup yang didukung dan dilindungi oleh alam, leluhur, sesama dan Tuhan akan mendatangkan berkat yakni kehidupan yang lama. Dalam ungkapan sehari-hari orang Migani sering berkata, “hege baguma tia mene go, tugu jagi mene”. Ungkapan tersebut diartikan sebagai “Orang yang menjalani hidup lama adalah mereka yang mengetahui dan menaati norma-norma hidup yang berlaku dalam kehidupan”. Ungkapan tersebut menunjukkan suatu buki jelas bahwa barang siapa yang memiliki pengetahuan yang baik pasti berpikir yang baik untuk membentuk kualitas pribadi dan kehidupan sehari-hari.
Fungsi Pikiran bagi Orang Migani
Pikiran memiliki beragam fungsi dalam pandangan orang Migani. Kehidupan itu sendiri merupakan bukti keberadaan pikiran. Beberapa fungsi pikiran bagi orang Migani ialah:

  1. Pikiran untuk hidup

Orang Migani meyakini bahwa menggunakan pikiran dengan baik dalam kehidupan sehari-hari akan menjadikan hidup layak dan bermoral. Menjalani kehidupan yang lama atau singkat tergantung pada tindakan seseorang dalam mempergunakan akal budinya secara baik. Menggunakan pikiran secara baik akan mendatangkan hidup yang baik.
Mereka yang menggunakan akal dengan baik tentu akan mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan keyakinan. Pertimbangan akal yang sering dilakukan ialah terhadap roh alam, leluhur, norma-norma hidup, serta Emo (Tuhan). Keempatnya merupakan sesuatu yang diyakini memiliki daya kontrol terhadap kehidupan manusia.

  1. Pikiran Untuk Berpengetahuan

Orang Migani meyakini adanya pengetahuan yang diperoleh dengan pikiran dari gejala-gejala yang terjadi dalam kehidupan. Mereka mengetahui bahwa segala dinamika kehidupan yang dialami merupakan respon dari roh alam, leluhur, norma-norma hidup dan Emo (Tuhan). Pengetahuan akan keempat hal tersebut akan membantu orang Migani untuk mengendalikan diri dengan baik. Orang migani juga mengatakan bahwa barang siapa yang memiliki pikiran yang baik, ia akan memperoleh pengetahuan yang baik untuk menjalankan kehidupan yang berpatokkan pada hal-hal di atas. Dengan demikian, ketika orang melakukan tindakan yang menyimpang dari norma-norma kehidupan, mereka dengan lebih mudah berefleksi dan mempertanyakan pada diri sendiri, apakah pemikirannya menyadari betul perbuatannya atau sebaliknya. Bagi orang Migani, tidak ada pikiran tanpa pengetahun dan tidak ada pengetahuan tanpa berpikir dan tanpa keduanya merupakan ketiadaan hidup.

  1. Pikiran Untuk Bertindak

Secara ontologis pribadi manusia terletak pada rasionalitas. Thomas Aquinas, seorang filsuf dan teolog, mengatakan bahwa kualitas pribadi ditentukan oleh tindakan sebagai makhluk ciptaan. Thomas Aquinas juga mengatakan bahwa kualitas tindakan manusia sebagai pribadi terletak dalam cara-cara hidup di tengah masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat Migani, mereka meyakini akan  sebab dari perbuatan manusia yang baik adalah memiliki pikiran yang baik. Kualitas kehidupan dan kehormatan bagi orang Migani dapat diperoleh dari tindakan-tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi mereka tindakan yang dilakukan merupakan ungkapan secara nyata, apa yang ada dalam pikiran. Kualitas tindakan yang dilakukan akan membuat orang menghormati dan segan terhadap pemikiran yang diperoleh untuk melakukan suatu tindakan.
Peran Pikiran bagi Orang Migani
Pemikiran dapat berperan aktif untuk menjalani kehidupan, baik untuk bertindak, berpengetahuan, berkomunikasi dengan sesama manusia dan semua hal yang kelihatan maupun yang tak kelihatan. Yang tak kelihatan dalam hal ini terkait dengan sesuatu yang menjadi keyakinan. Sementara itu sesuatu yang kelihatan berkaitan dengan relasi sesama manusia dan lingkungan alam di mana meraka hidup.
Bagi orang Migani, akal terutama berperan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan. Misalnya dalam pemecahan masalah sepele dalam keluarga maupun yang berskala besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam pemecahan masalah berskala besar, semua orang bebas berpikir untuk mengungkapkan pendapatnya dalam pemecahan masalah namun yang sering diyakini sebagai pemecahan masalah secara baik merupakan pemikiran manusia yang menggunakan analogi-analogi. Dalam hal ini kekuatan analogi dapat mempertahankan pendapat yang lain dan membantah pernyataan yang lain baik antara pihak korban maupun pihak pelaku. Melihat pihak yang memiliki kemampuan yang dapat mengalahkan pemikiran yang lain kemudian berdamai melalui denda dan harta benda yang lain sebagai keputusan yang diperoleh dari pertandingan akal tadi. Dengan demikian pastinya mereka yakin bahwa mereka telah berdamai dengan alam, leluhur, dan Tuhan. Sehingga mereka menjalani hidup dengan bebas dan damai.
Pikiran adalah suatu kekuatan yang dapat hidup dalam diri manusia untuk menghidupkan kehidupan yang dihidupi. Demikianlah pikiran dalam kacamata orang Migani.  Semua tingkah laku dan pikiran manusia harus selalu diselaraskan dalam hubungannya dengan alam, roh alam, leluhur, norma-norma dan Tuhan. Pikiran dapat mengendalikan semua persoalan kehidupan dan mendorong manusia untuk mencapai apa yang disebut dengan makna menjadi manusia.
SUMBER

  1. Sihotang, Kasdin. 2018. Filsafat Manusia. Yogyakarta: PT. Kanisius.
  2. Bosetti, Giancarlo. 2009. Iman Melawan Nalar. Yogyakarta: PT. Kanisius.

 
Editor : Juan Izako

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.