Cemburu pada Tuhan

Sebuah puisi karya Celsius Agustinus Mahuze

Mahasiswa Tingkat II STFT Fajar Timur

Kau tahu?
Tentang kau, aku selalu cemburu pada Tuhan.
 
Disaat kau belum mengenal dunia, kau telah dinobatkan sebagai milik-Nya semata.
Disaat kau dilahirkan, kau sudah diperkenalkan bersama-Nya melalui Agama-Nya.
Saat kau mulai bertumbuh, kau sudah dididik untuk selalu mencintai-Nya lebih dari pada segala sesuatu di dunia ini.
T e r m a k s u d      a k u.
 
Aku iri pada-Nya. Dia selalu lebih beruntung dariku.
Disaat kita telah bersama, kau masih saja mengingat dan mencintai-Nya.
Cinta dan kasih sayang yang seharusnya kumiliki seorang, selalu saja terbagi oleh karena-Nya. Karena Dia, terlahirlah cinta segitiga. Dan hal itu sungguh nyata diantara kita.
 
Disaat aku membisikan sepatah kata di telingamu, dia selalu lebih cepat dariku membisikan seribu satu kata di hatimu. Disaat aku ingin melanjutkan cerita kita, Dia telah lebih dulu dariku membelokan perhatianmu pada-Nya. Saat aku ingin memadati memorimu dengan cerita kita, Dia sudah lebih dahulu masuk di bagian terdalam benakmu dan mengusainya ketimbang aku. Aku selalu kalah oleh-Nya.
 
dan nanti saat kau telah tiada dari dunia ini, tentunya kau akan kembali kepada-Nya. Saat itu kau benar-benar menjadi miliknya semata. Saat itu mungkin kita tidak lagi saling mengenal. Dia telah menghapus semua pikiran, perasaan dan juga emosi yang pernah kita bina.
 
Dan karena keinginan-Nya, hubungan kita berakhir. Ia membuatku harus berpikir lain dan berusaha menempuh jalan lain pula.
Sebenarnya aku ingin sekali mau bertanya pada-Nya, “apa mau-Mu bagi masa depanmu; juga kita, sayang”.
Jujur, aku masih kesal kepada Dia yang telah mencurimu dariku. Dia sungguh memanfaatkan kecerobohan kita untuk dapat mencapai ambisi pribadi-Nya.
Dia benar-benar adalah orang yang sungguh aneh. Dikatakan bahwa dunia ini adalah milikNya, Dialah yang membuatnya. “Termaksud kau sayang”’, yah begitulah kata orang. Di saat dunia telah kita raih untuk menjadi milik kita, Dia selalu mengintai kita. Dunia yang pernah kita miliki, kini tidak lagi.
Walaupun mungkin kau tak pernah untuk mau memikirkanya, tetapi aku telah lebih dahulu berusaha berpikir dan mempertanyakan semuanya ini. Tentang “apa arti dari semuanya ini dan siapakah penyebab forma diantara kita?” Tapi nyatanya kesalahan ini bukan ada pada kita.
Aristoteles kini telah membuka kacamataku dengan melihat hukum kausalitas. Dalang dari semua adalah Dia atas ambisi-Nya untuk membangun kerajaan-Nya di dunia ini. Aku ingin sekali bertindak dan memperebutkan kembali kemerdekaan kita. Namun dikemudian hari aku sadar bahwa aku sungguh lemah untuk mau bertindak melawan-Nya. Dia telah mengambil dan menggantikan semuanya dariku. Aku lemah. Maafkan aku jika ku tak mampu untuk memperjuangkanmu dan semua yang pernah kita impikan. Tetapi, saat ini aku pun telah bersyukur. Bahwa oleh sebab kecerobohan kita dahulu, kini aku telah sadar akan semua tentang aku, kamu dan juga Dia. Ternyata dulu aku begitu serakah. Aku terlalu mementingkan keinginan diriku pribadi. Aku lupa akan apa yang selama ini kau lakukan adalah jalan terbaik yang kau tempuh, yakni “mencintai-Nya dengan segenap hati dan juga akal budi adalah jalan terbaik”. Aku keliru soal itu, maafkan aku. Terima kasih pula tentang cerita konyol kita dahulu. Salam dari dia yang selalu menyayangimu.

NBX, 09 Juni 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.