Kemiskinan sebagai Wajah Kristus yang Konkret

Oleh: Dedidores May
Mahasiswa STFT FAJAR TIMUR
Apa itu Miskin
Dalam KBBI, miskin adalah tidak berharta, serba kekurangan, berpenghasilan sangat rendah, dan tidak mampu mencukupi kehidupan sosia masyarakat dalam ber-rumah tangga maupun, kebutuhan lainnya. Kata lain kemiskinan merupakan keadaan yang sangat kurang  mampu untuk memenuhi dasar seperti makanan, pakaian, tempat perlindungan, pendidikan kesehatan, dan lain sebagainya. Kemiskinan juga dapat disebabkan oleh kelangkahan alat pemenuhan kebutuhan dasar, ataupun akses-akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global, sebagaimana orang memahami secara subyektif dan komperatif, sementara yang lainya melihat melalui segi moral dan evaluatif, dan yang lain lagi memahaminya dari sudut pandang ilmiah yang telah mapa

  1. Pandangan Calvin

Dalam pandangan Calvin kemiskinan dan kekayaan adalah dua realitas kehidupan. Keduanya harus dihadapi oleh semua manusia saat kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Namun, keduanya perlu disikapi dengan benar bahwa setiap orang Kristen perlu menyadari akan eksistensinya sebagai manusia yang berdosa. Orang Kristen perlu melihat kedua realitas ini secara teologis. Perbedaan status sosial ini bukan suatu keadaan yang normal,  tetapi manusia harus memasrahkan diri untuk menerima tantangan apapun yang terjadi. Semua ini mesti dilihat sebagai realitas “kemanusiaan” (humanitas). Dalam perjalanan di bumi sebagai musafir dan jauh dari rumah sorgawinya yang sejati, manusia masih selalu dihadapkan pada ketidak sempurnaan. Bagi Calvin, hal yang terpenting adalah bagaimana “kehendak Allah” yang di atasnya setiap orang berdiri dinyatakan melalui realitas yang tidak ideal.
Ini tak berarti bahwa hidup dalam kemiskinan atau menjadi orang miskin adalah “kehendak Allah,” seperti apa yang dipercayai oleh pandangan fatalistis. Sebaliknya, justru di dalam hidup yang seperti ini, “kehendak Allah” yang baik itu menjadi lebih nyata. Kehendak Allah adalah supaya orang miskin atau kemiskinan diatur oleh hukum negara yang dibuat oleh manusia. Menurut Calvin, hukum negara yang mengatur kehidupan sosial manusia, misalnya hukum keadilan dan kesamaan, adalah “ungkapan kehendak Allah yang kekal”. Meskipun tidak seratus persen sempurna untuk mengatur hidup manusia (orang miskin) menjadi lebih baik, tetapi hukum harus tetap ada. Maksudnya ialah agar manusia tetap hidup, dan tetap terjaga dalam suatu realitas yang berlangsung dan manusia, siap bertangung jawab atas sesamanya  sebagai makhluk bersosial.

  1. Guenther

Pemikiran H. Haas menegaskan demikian. Masih ada “jejak-jejak” kehendak Allah yang baik di dalamnya sebagai bagian dari providensia-Nya. Intinya, orang yang berada dalam kemiskinan semestinya dapat melihat “kehendak Allah” melalui hukum yang mengatur hidupnya. Menurut Kisah Penciptaan Walter Eichrodt menyebutkan bahwa kuasa yang Allah berikan kepada manusia untuk menaklukkan alam semesta mengandung sebuah tanggung jawab yang besar. Manusia bukan diberikan hak pakai yang tidak terbatas, baik terhadap dunia binatang maupun tanah. Namun, itu menjadi satu dari tugas-tugasnya untuk menghormati kehidupannya.  Allah menciptakan dan menempatkan manusia di dunia adalah sebagai tanda dari otoritas pemerintahan Allah, agar manusia menegakkan dan memperkuat klaim Allah sebagai Tuhan.
Oleh karena itu, hal krusial dari manusia sebagai gambaran Allah adalah menyangkut fungsinya di dunia ini. Dengan demikian semakin jelas bahwa manusia diciptakan sebagai gambaran Allah yang menunjukan pada sebuah tanggung jawab dalam relasinya dengan Allah dan ciptaan lainnya. Manusia diciptakan sebagai gambaran Allah karena perannya selalu pelaksana atas ciptaan. Maksudnya ilah manusia berhak atas dirinya sendiri dan bagi sesamanya, manusia diciptakan untuk memgembangkan hidupnya dan sesame. Maka itu jika terjadi suatu musibah seperti kelaparan atau kemiskinan, manusia berhak mempertahankan hidupnya, dengan cara bekerja dan menafkai keluarganya dan membantu orang lain yang membutuhkan perhatian dari sesama yang lain.

  1. Keberpihakan Yesus

GS, 5. Keberpihakan Yesus mewartakan kerajaan Allah. Sebagai daya pembebasan bagi orang miskin, pewartaan Yesus harus dilihat dalam dua sisih yakni sikap terhadap soal sosial-ekonomi, Allah menjadi solidaritas dalam menghadapi masalah bersama. Dan orang miskin mempunyai tempat yang khusus bagi Yesus. Perjanjian baru mengambarkan orang-orang yang secara matrial dan miskin. Mereka miskin baik dalam arti ekonomi maupun dalam arti sosial. Miskin juga bukan untuk orang yang pengemis di jalanan, tetapi juga mereka yang penggangur, cacat, butah, tuli, ekonominya kurang dan lain-lain.
Yesus menjadi model bagi sesamanya dalam pewartaan. Yesus berpihak kepada orang-orang miskin, Yesus mengajrakan orang agar mengerti tentang keberpihakan bagi sesama yang lain. Yesus pun mengajarkan bagi para pejabat dan orang kaya, agar mereka pun juga peduli terhadap sesama yang lain sebagai ciptaan-Nya. Dengan demikian tujuan  manusia adalah membangun sesama dari ketidakmampuan menjadi suatu hal yang bisa di lakukan oleh setiap individu (manusia). Keculai orang yang pemalas bekerja atau tidak mau usaha untuk mempertahankan dan mengembagan hidupnya.
Sebab Yesus mengatakan pada diri-Nya bahwa anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakam kepala-Nya. Injil Lukas menceritakan bahwa Yesus dibaraingkan di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka dalam rumah penginapan akhirnya Yesus dilahirkan di kandang. Dengan penegasan Lukas ini, mengajarkan agar manusia mengerti dan memahami tentang sesama yang lain, dan supaya manusia mengeri bahwa yang dipandang miskin adalah orang yang Tuhan Allah kasihi ( Luk 2:7).
Orang Samaria yang murah hati; pandangan manusia dalam dunia sekarang ialah; apa yang diperbuat oleh seorang pemimpin bukan apa yang dibicarakan itu, namun kadang manusia tidak mengerti tentang sesama. Pesan utama adalah manusia harus saling, membangun antara satu sama lain terutama dengan tindakan nyata. Kata-kata kalau tidak diseratakan dengan perbuatan maka sia-sia saja, manusia atas sesamanya. Manusia harus memperhatikan sesamanya dari apa yang ia memerlukan yang menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-harinya. Tujuan hidup manusia dalam sebuah komunitas, ialah membaguan dan memperdayakan sesama yang lain dengan cara mengenbangkan bakat misalnya dalam bidang ekonomi, dengan bidang ini mendorong sesama untuk bekerja, agar supaya meniadakan kemiskinan yang terjadi disekitar sesama manusia ( Luk. 10:25-37)
Aku menanti belas-kasihan, tetapi sia-sia; banyak orang menantikan belas-kasihan dari sesama yang membutuhkan. Namun semua itu tidak terpunihi apa yang diinginkan oleh sesama manusia yang lain, dan begitu juga apa yang di alami oleh Tuhan. Sebab sesama manusia adalah Tuhan, maka yang membutuhkan belas-kasihan adalah orang-orang sakit, miskin, menderita dan kesepihan, baik seacara jasmani maupun rohani. Lewat orang-orang inilah Tuhan senantiasa memanggil manusia untuk memperhatikan-Nya, lewat orang-orang inilah Tuhan ingin menyatkan agar manusia sadar, dan bertobat dan memperhatiakan apa yang diinginkan oleh Tuhan (Mazmur,69:21). Keberpihakan yang dimaksudkaan disini ilalah, menghargai hak dan martabat orang-orang kecil dan yang terpinggirkan sebab mereka juga adalah sesama ciptaan Allah. Janganlah merakus kekuasaan dan kekayaan tetapi berikanlah kepada mereka yang membutuhkan.
Daftar Pustaka:

  1. https://www.researchgate.net
  2. LAI, Deuterokanonika Jakarta, 1974-1976
  3. Guna Frans, Theol. Lic, Teologi Sosial, 2018, hal. 22-25

 
Editor: Melpianus Uropmabin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.