PAKAIAN TRADISIONALKU MATI DI TANGANKU

Oleh: Anselmus Papua Barat Faan

Pakaian Tradisional dalam Budaya Suku Moskona, Setiap suku-suku bangsa di dunia ini memiliki kebiasaan dan adat istiadat tersendiri termasuk Indoneisa. Indoensia dikenal dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dan salah satu aspek perbedaan tersebut adalah perbedaan budaya. Perbedaan budaya ini terdapat di berbagai daerah di Indoensia termasuk Papua. Papua sendiri memiliki keragaman budaya dengan semua suku yang ada di Papua dan Papua Barat. Penulis akan memfokuskan pakaian tradisional khususnya orang suku Moskona di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat. Pakaian tradisional dalam suku Moskona ini merupakan pakaian yang dipakai untuk melindungi bagian tubuh tertentu dalam kehidupan sehari-hari sebagai warisan leluhur. Tulisan ini akan lebih banyak membahas tentang pakaian adat dalam budaya suku Moskona. Dengan memperkenalkan sedikit perubahan dengan proses perubahan dan perkembangan zaman sejak awal masuknya Misi agama dan Pemerintah sekaligus merekomendasikan agar diberi perhatian serius dengan ancaman globaliasi yang sedang dihadapi masyarakat di Suku Moskona-Papua Barat.

  1. Pakaian tradisional sebelum masuknya agama  

Pakaian tradisional itu biasanya disebut meegin/kiet dan memec, ketiganya kini lumrah dikenal dengan sebutan cawat. Cawat yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki-laki terbuat dari kulit kayu. Cawat yang dikenakan oleh wanita dikenal oleh masyarakat dengan sebutan memec. Sedangkan meegin adalah cawat yang dienakan oleh pria yang asalnya dari Morogri alias sejenis daun. Kemudia masyarakat melepaskan itu dan menggunakan kain timur. Cawat tidak hanya digunakan oleh manusia suku Moskona saja tetapi juga beberapa suku lainnya yakni Aifat, Aitinyo, Ayamaru, Mpur, Karon, Mandacan, Hatam, dan suku Sou di wilayah Papua Barat.

Selain cawat ada juga mokes yang berfungsi sebagai ikat pinggang untuk menahan cawat agar tidak terlepas pada saat kerja atau tidur malam. Tali ikat pinggang ini terbuat dari kulit pohon genemo yang telah dirajut sedemikian rupa dengan baik. Ada juga tali ikat pinggang (mosok/meregri) untuk perempuan. Tali tersebut terbuat dari daun nanas dengan anyaman yang indah. Tentunya tali ikat pinggang ini berfungsi untuk menahan cawat agar tidak mudah terlepas pada saat tidur atau beraktifitas. Cara mengenakan cawa pada laki-laki dan perempuan hampir sama. Cawat pada laki-laki maupun perempuan hampir sama yakni untuk menutupi bagian sekitar alat vital.

Orang tua dulu merasa aman dan nyaman menggunakan pakaian tersebut. Tubuh mereka terlindungi dari bahaya di luar termasuk bahaya karena sentuhan benda keras dan halus maupun agar terhindar dari ketertarikan lain pada umumnya. Bagian tertentu dari tubuh manusia yang terlindungi oleh pakaian tradisional tidak boleh disentuh oleh siapa pun, terutama tubuh seorang wanita muda. Perempuan yang menggunakan pakaian tersebut harus duduk, berdiri, berjalan dan beraktivitas seturut etika kebudayaan yang ada.

Dulu masyarakat tidak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengurus pakaian seperti membeli, mencuci-menyetrika dan aktivitas lainya serta membawa koper pakaian yang berat dari satu tempat ke tempat lain. Waktu lebih banyak mereka gunakan untuk berbuat hal-hal yang menjamin kebutuhan hidup bersama seperti mancing, berkebun, mendidik anak, berelasi dengan alam dan sesama demi mengetahui tanda-tanda baik dan buruk yang muncul dari relasi itu.

Kaum pria pada umumnya menggunakan cawat berwarna merah dan hitam sesuai kondisi dan situasi. Cawat warna hitam membuat orang tua dulu mudah berelasi dengan alam dan sesama. Saat mereka berburu dengan mudah mendapatkan binatang. Cawat warna hitam membuat seorang pria terhindar dari musuh saat bersembunyi dibalik kayu lapuk atau gelonggongan kayu karena warna cawat menyesuaikan dengan kayu lapuk atau gelonggongan kayu yang ada.  Sedangkan cawat merah kurang diminati karena warnanya mudah kentara dan cepat diketahui musuh atau binatang buruan.

 

  1. Pakaian tradisional setelah masuknya agama

 

Pada umumnya agama adalah tata cara yang mengatur peribadahan manusia kepada Tuhan Yang Mahasa Esa, serta tata cara yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain, manusia dengan lingkungan yang merupakan bagian dari makhluk ciptaan Tuhan”. Nilai kebenaran dan keselamatan manusia yang ada dalam ajaran masing-masing agama membentuk suatu perkumpulan tata kehidupan masyarakat yang baru (http://.id.Wekepedia. Com).

Awal orang Moskona menggunakan pakaiaan meninggalkan budaya cawat karena adanya pengaruh dari luar yang masuk. Pengaruh yang saya maksudkan yakni masuknya agama dan pemerintah di wilayah Moskona. Para misionaris katolik dan misionaris protestan (GPKI: Gereja Persekutuan Alkitab Indonesia) yang masuk bermisi di wilayah Moskona pada umumnya dan terlebih khusus di dusun Misah, kini Kampung Moyeba Distrik Moskona Utara.  Menurut Bapak Efradus Orocomna S.IP. M. SI. “Bahwa Injil atau agama dibawakan oleh seorang missionaris dari GPKI berkebangsaan Amerika Serikat atas nama Tuan D. Miler didampingi seorang penerjemah Bahasa Indonesia dalam Bahasa Meyah dan Bahasa Moskona atas nama Bapak Gembala Yohan Dewansiba, sekarang Ketua Majelis Daerah Moskona Tengah (Merdey)”. Mereka mendarat dengan helicopter di Dusun Misah, Moyeba pada tanggal 4 Mei 1978 dan diterima oleh tiga orang tua asli Moyeba atas nama Alm. Musa Orocomna, Alm Simon Orocomna dan Bapak Dorus Orocomna, S. Sos. MM. (Sekarang kepala Dinas Kawasan Pemukiman dan Perumahan Kab. Teluk Bintuni. Mereka menerima Injil pada jam 10.00 waktu Moskona, Papua Barat.

Setelah perjumpaan antara para missionaris dan ketiga orang itu kemudian datanglah Bapak Efradus dan keluarga lainnya lari dari dusun dan bergabung dengan mereka tiga itu. Pada bulan Juli 1978 ditugaskan dua orang gembala atau pewarta Firman Tuhan yakni Yohanes Dewansiba dan Roberth Ullo sebagai pewarta sejak itu hingga sekarang. Usia mereka berdua kini sekitar75 tahun (Lansia). “Masyarakat mengenal pemerintah dan Injil terhitung dari pembaptisan Jemaat (bertobat).

Pembabtisan itu membuat mereka hidup baru dalam Kristus Tuhan, kemudian mereka tidak merokok, minuman enau/minuman keras, kulit kayu/fui-fui/suanggi dan lepas cawat ”. Ungkap Bapak Efradus Orocomna, S. IP. MSI. Ketua Adat sekaligus Kepala Distrik Moskona Utara dalam akun facebooknya kepada saya saat saya mewawancarai dia tentang awal masuknya agama GPKI di Moskona Utara (Jayapura 27 Mei 2020, pukul 23.45 waktu Papua)”.  Pertobatan jemaat (celana dan baju) yang dikenakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka telah merasa nyaman dengan pakaian itu sehingga cawat tidak lagi digunakan setiap hari namun hanya dikenakan pada saat pementasan tertentu seperti kunjungan bupati.  Pada jaman sekarang generasi muda Moskona kurang memaknai pakaian adat sebagai identitas suci yang dipegang dan dipertahankan,  bahkan ada yang tidak memakai. Karena malu menggunakan pakaian adat di depan banyak orang. Perasaan malu seperti itulah yang menyebabkan perubahan pakaian adat perempuan suku Moskona dari kulit kayu menjadi kain yang dikenakan sebatas ketiak ke bawah kaki hingga sekarang. Tidak hanya orang Moskona, lebih parah lagi beberapa perempuan dari suku Ayamaru, Aitinyo dan Aifat telah menjahit kain timur  menjadi pakaian lalu dipakai sebagai pakaian adat. Perubahan ini tidak ada bedanya kain adat dengan pakaian sehari-hari.  Hasil jahitan kain timor sebagai pakaian dan kedudukannya menggantikan memec. Perubahan itu hanya terjadi pada perempuan di suku Ayamaru dan Aifat di Kab. Maybrat. Perubahan tersebut secara otomatis telah menghilangakan keaslian pakaian tradisional dalam budaya suku itu sendiri. Perlu diketahui bahwa sekolah mengikuti perkembangan bertujuan untuk mempertahankan budaya, bukan pintar untuk mengubah budaya yang telah diturunkan dari leluhur  hingga hilang atau punah di tangan kita sendiri. Pakaian tradisional dalam budaya suku Moskona di kab. Teluk Bintuni, sama dengan suku Aifat di Kab. Maybrat, suku Karon di Kab. Tambraw, Suku Mandacan di Manokwari dan Suku Sou di Kabupaten Teluk Bintuni.

Masyarakat Moskona dewasa ini mulai menggunakan celana dan baju. Mereka meninggalkan pakaian tradisional dan menggunakan pakaian modern agar mudah berelasi dengan orang lain. Lambat laun karena telah nyaman, mereka tak lagi menggunakan pakaian tradisionalnya setiap hari, bahkan ada masyarakat yang tidak menggunakan pakaian tradisional pada saat acara tertentu, karena masyarakat lain kerap beranggapan bahwa masyarakat itu primitif atau berperilaku pornografi dan berbagai stigma lainya. Tanggapan negatif itu berasal dari luar dan berasal dari beberapa anggota dari suku Moskona yang telah mengikuti perkembangan dari budaya lain. Mereka seakan melupakan budayanya sendiri. Tanggapan buruk seperti ini membuat masyarakat tidak berdaya, kurang percaya diri, minder, dan malu saat menggunakan pakaian tradisional. Rasa minder terhadap budaya sendiri membuat para gadis dalam suku kami sekarang ini mengubah pakaian tradisional dari kulit kayu (memec) menjadi kain timur yang dipakai memanjang dari ketiak hingga kaki, bahu ke atas dipakai perhiasan seperti manik-manik, gelang dan lainya.  Semua perubahan itu terjadi karena generasi sekarang malu terhadap budaya sendiri. Rasa malu menyebabkan mereka mengadopsi budaya lain (celana dan baju) yang dipandang lebih baik. Pengadopsian budaya lain menyebabkan budaya asli mati di tangan masyarakat itu sendiri. Bilamana hal ini berlangsung terus menerus, generasi berikutnya tidak akan tahu tentang pakaian adat dalam budaya suku Moskona karena tidak diteruskan oleh orang tua.

  1. Evaluasi

Telah disinggung bahwa dulu pakaian adat dipakai setiap hari, mudah dibawa kemana saja, tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengurus cawat. Sekarang, pakaian tradisional hanya digunakan pada acara tertentu bahkan tidak digunakan oleh generasi penerus karena malu dianggap primitive oleh orang lain. Pakaian adat sebagai identitas dari suku Moskona perlu dihargai oleh generasi muda-mudi zaman now. Tidak sebatas itu tetapi mengakplikasiakan budaya cawat pada saat acar-acara seperti pelantikan Bupati, Tahbisan imam dan hanya dipertunjukan dalam momen-momen tertentu. Jika generasi zaman now menghargai pakaian adat seperti identitas diri sendiri, maka tidak malu dan minder kenakan pakaian adat. Ketika menggunakan cawat sebaiknya merasa bahagia bahwa ini jati diri yang luhur dan perlu dihargai dan dipertahan atau digunakan. Generasi Moskona jaman sekarang sebaiknya tidak malu mengenakan megin  dan memec  saat pentas dalam acara-acara seperti pelantikan kepala distrik. Kaum muda menyadari bahwa saat itu mempertunjukan jati diri yang sesungguhnya di public, peresmian gereja dan sejenisnya. Dengan pakaian adat itu pakaian adat orang Moskona diketahui publik.

 

  1. Rekomendasi

Dengan berdasar pada tulisan ini, penulis menyadari sebagai anak putra daerah merasa penting untuk diperhatikan bersama dari semua elemen dan bidang hidup. Agar kerjasama kita menyelamatkan budaya sebagai misi bersama. Terutama beberap bidang yang dibawah ini:

  1. Dinas kebudayaan

Kepala dinas kebudayaan di tingkat Kabupaten/ kota di Provinasi Papua dan Papua Barat, Khususnya Kabupaten Teluk Bintuni sebaiknya peka terhadap setiap kebudayaan tradisional yang ada dalam wilayah jangkauannya. Kepekaan yang dimaksudkan seperti menata masing-masing kebudayaan tradisional yang dimiliki setiap suku untuk dilindungi oleh dinas kebudayaan dan semua orang yang ada di daerah tersebut. Salah satu upaya untuk memperkenalkan budaya suku lain yakni melalui sangar budaya. Selain itu, dinas terkait juga perlu memberikan bantuan uang dan kebutuhan lainnya kepada setiap suku seperti suku Moskona untuk melindungi dan mengembangkan kebudayaan tradisionalnya (misalnya, memberikan hadiah kepada orang muda yang mengetahui banyak meresog alias lagu  dansa  cara memakai pakaian tradisional yang baik saat perlombaan).

  1. Dinas Pendidikan di sekolah

Kepala dinas pendidikan sebaiknya peka terhadap proses berlangsungnya kegiatan belajar mengajar setiap sekolah di kabupatennya. Kepekaan yang dimaksudkan yakni menugaskan tenaga guru sesuai bidangnya serta memberi gaji guru sesuai upah minimum provinsi. Guru harus mengajar sesuai profesinya seperti guru mata pelajaran seni budaya atau guru kesenian. Dia harus menguasai bidang tersebut agar mengajar dan mendidik para murid tentang kebudayaan. Guru seni budaya juga bekerja sama dengan ketua adat mengenai budaya tradisional setempat agar budaya itu diajarkan kepada para murid di sekolah. Misalnya mengajarkan anak-anak tentang proses pembuatan cawat dari kulit dan kayu dan cara memakai cawat sesuai budaya yang telah diturunkan dari moyang hingga sekarang. Langkah lain yang dapat diupayakan dinas terkait adalah memberi upah berdasarkan medan pengajaran guru. Medan yang jauh dan rumit terjangkau dari kota diberi balas jasa yang lebih agar kebutuhan tenaga guru terjamin dan tenang untuk mengajar  anak-anak mengenai budaya serta hal lainnya.

  1. Ketua dewan adat

Ketua dewan adat atau kepala suku seharusnya mengetahui semua tradisi yang ada dalam kebudayaannya. Misalnya kepala suku Moskona harus tahu baik tentang asal usul, manfaat, nilai dan tujuan dari pakaian tradisional dalam budaya suku Moskona. Setelah mengetahui semuanya itu kemudian bekerja sama dengan dinas kebudayaan dan masyarakat dalam suku tersebut untuk melindungi dan meneruskan budaya itu kepada generasi sekarang.

  1. Dewan gereja

Setiap petugas gereja yang bertugas di tanah Papua harus peka terhadap semua

kebudayaan tradisional yang ada di tempat pelayanaan. Kepekaan pastoral yang dimaksudkan yakni para petugas pastoral belajar mendengar, melihat, dan memahami budaya tradisional yang ada dan berkembang dalam umat atau masyarakat setempat. Setelah itu, para pastor dan pendeta perlu melindungi budaya yang dianggap baik yang ada tersebut.

Para hamba Tuhan juga perlu memberikan kesempatan kepada Jemaat atau Umat untuk memuji dan memuliakan Tuhan dalam versi kebudayaan. Misalnya, dalam gereja Katolik Pastor paroki memberikan waktu khusus saat hari minggu untuk mengadakan misa budaya. Peran pihak gereja dalam membuka diri dan memberikan ruang untuk budaya berkembang seperti ini membuat umat merasa budayanya dihargai sebagai berkat yang diberikan oleh Allah untuk memuji Tuhan dalam keberagamaan budaya.

 

(*Penulis adalah Mahasiswa  di STFT Fajar Timur, Abepura-Papua