CINTA TOTALITAS: Cinta Tanpa Syarat

Oleh: Florentinus Tebai)*

Cinta tanpa syarat berasal dari Allah Bapa yang mencintai kita. Ia telah memulai karya kekudusannya bagi kita melalui cinta kasih-Nya. Ia telah menyatakan cinta kasih-Nya bagi uma-Nya dengan kehendak bebas, sehingga Ia mengutus Putera-Nya di dunia untuk menyelamatkan manusia dari salah dan dosa.

Kehadiran Yesus ke tengah dunia adalah bukti cinta kasih Allah kepada umat manusia. Oleh karena itu, Setia orang dipanggil oleh Allah sendiri sebagai Sang sumber keselamatan. Kita dipanggil untuk meneladani-Nya. Kita dipanggil oleh Allah sendiri, supaya ikut meneladani Yesus yang telah memberikan cintanya secara total (Menyeluruh) bagi kita.

Upaya Mewujudkan Cinta Totalitas (Cinta Tanpa Syarat).

Kesabaran. Setiap kita dituntut untuk sabar dalam menghadapi sesama. Nilai kesabaran menjadi hal fundamental dalam mencintai sesama yang lain. Kesabaran ini dapat dibuktikannya dengan cara tidak jengkel (Tidak Marah) kepada sesama bila menghadapi kesulitan, tapi juga dalam menghadapi persoalan hidup bersama. Sabar menghadapi kesulitan adalah satu syarat penting dalam dunia mencintai dan dicintai. Tidak marah berarti seorang diri mampu mengendalikan hasrat (Keinginan) untuk membalas dendam. Hal ini memang merupakan hal yang menjadi hakikat dari kehidupan kita manusia, tetapi hal inilah merupakan satu tuntutan dan dasar dari mencintai yang sesungguhnya.

Kedua adalah bermurah hati. Murah hati ini selalu ada kaiannya dengan saling memahami antara satu dengan sesama lainya. Misalnya bila terjadi kesalahan dalam membangun relasi dengan sama, maka hal yang amat fundament (Dasar) adalah saling mengerti dan memahami antara satu dengan lain. Artinya bahwa saling mengerti dan menerima secara utuh dan totalitas (Menyeluruh) sebagai sesama dalam saling cinta. Murah hati adalah sikap tidak sombong, tapi ia identik dengan sikap saling memahami dan mengerti terhadap sesama yang lain dalam membangun relasi atau cinta.

Berikutnya adalah tidak memegahkan diri, tidak sombong adalah salah satu faktor yang menentukan rasa nyaman dan tidaknya dalam membangun relasi dengan sesama. Oleh karena itu, sikap yang dibutuhkan dalam saling mengasi dan mencinta tanpa syarat adalah mampu menguasai diri. Artinya seorang pribadi mempu mengontrol diri. Sikap demikian dapat ditunjukkanya melalui kesatuan antara pikiran, ucapan dan tindakan dari seorang diri. Ini adalah sikap kematangan dari seorang diri yang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi sesamanya. Tidak sombong berarti ia tidak membanggakan atas semua hal-hal baik yang ia lakukukan terhadapa sesamanya.

Keempat menutupi segala sesuatu. Artinya bahwa saling mengampuni dan diampuni juga merupakan ciri khas dari cinta tanpa syarat (Totalitas). Kita dituntut, agar mampu mengampuni dan mengasihi sesama kita yang telah berbuat salah. Walupun itu berat, tetapi ini juga merupakan syarat yang dialkukan oleh setiap kita yang tidak terlepas dari pribadi yang selalu mendambakan cinta. Cinta totalitas adalah seorang pribadi mampu mengampuni yang bersalah kepada kita. Mengampuni dan memaafkan adalah hal yang mendasar, seperti Allah yang telah mengampuni dosa kita.

Kelima adalah saling membantu dan menolong. Cinta tantap syarat selalu dibuktikan dengan sikap saling membantu dan menolong. Panggilan saling membantu dan menolong selalu dibuktikan dengan bersama-sama mengalami dan menghadapi kesulitan, hadir dan bersedia serta berani menanggung beban dalam kesulitan dan kesusahan, pergumulan dan persoalan sesama kita. Sikap inilah yang ditampilkan oleh Yesus sendiri sebagai sang sumber cinta. Ia bersabda “Aku mengasihi engkau”, Yesus tidak pernah mengatakan ini urusanmu atau urusanku. Sabda ini tentunya menjadi pegangan bagi kita dalam sikap saling membatu dan menolong.

Keenam adalah sikap saling percaya. Artinya kita mesti percaya bahwa apa yang kita lakukan adalah timbul dari kesadaran diri. Sadar bahwa apa yang kita lakukan adalah apa yang baik dan benar untuk diri, sama, dan Tuhan dan bukan demi kepentingan tertentu. Ingat bahwa apa yang kita lakukan bukan karena dilihat dari mempunyai segala sesuatu (Kemewahan atau Keunggulan) tertentu dari orang yang kita kasihi dan cintai, tatapi benar bahwa mencintai yang sesungguhnya adalah mencintai tanpa SARA, seperti Yesus.

Ketuju, cinta totalitas selalu dibuktikan dengan siakap saling melayani (Rela Menderita). Saling melayani antara satu dengan sesama yang lain merupakan hal mendasar. Ingat cinta totalitas sejati adalah cinta yang berlandaskan pada pelayanan. Melayani bukan, karena paksaan, melainkan melayani dengan dari hati nurani. Kerelaan diri amatlah penting dalam saling melayani antara satu dengan sesama yang lain. Pelayanan yang sejati adalah pelayanan tanpa pamri, tulus iklas, dan bahkan sampai rela mengorbankan dirinya. Sikap demikianlah yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Ia mengasih kita secara totalitas, hingga Ia rela mati di Kayu Salib.

Akhirnya cinta totalitas (Cinta Tanpa Syarat) dapat terwujud jika setiap orang mempunyai sikap kesabaran dalam mengahadapi kesulitan dan persoalan terhadap sesama yang lain. Ia juga tidak sombong, tetapi punya sikap murah hati. Juga tidak memegahkan diri (Sombong) terhadap segala kebaikan yang dilakukannya. Tidak dendam (Tidak Marah dan Benci). Ia juga berani dan bersedia menanggung segala beban, mengedepankan sikap saling percaya. Semuanya ini hanya dapat dibuktikannya melalui sikap kesabaran dalam menanggung segala sesuatu, saling melayani secara totalitas, dan saling melindungi hati antara satu dengan lainya. Dengan demikian,  cinta totalitas (Cinta Tanpa Syarat) akan terwujud.

*)Penulis adalah Mahasiswa Semester IV dan Anggota Kebadabi Voice Group di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.

Referensi:

Larosa, Arliyanus dan Yuwanda, C. Esther. Mencintai Tanpa Syarat (Kunci Menuju The Great Marriage). Grafika KreasIndo: Jakarta 2015.