Doc. Pribadi

Program Kemenag “Kita Cinta Papua” Salah-satu bentuk Pemusnahan Akal Sehat”

(Sebuah Refleksi Kritis)

 

Oleh: Sebedeus Mote

 

Akal sehat orang Papua tidak akan tergangggu dengan program kemenag “Kita Cinta Papua”. Negara Indonesia baru sadar kalau orang Papua memiliki akal sehat. Otsus segera akan berakhir tahun depan, pimpinan negara mulai panik untuk cari cara supaya Papua tetap dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Melamar cinta diatas luka dan derita sangat tidak wajar, pimpinan-pimpinan negara dimanakah akal sehat kalian? Rayuan yang sangat tidak humanis, tidak bermartabat, hanya melahirkan derita kepanjangan. Stop dan stop melakukan program tidak sehat ini di seluruh tanah Papua, tipu siapa?

Pimpinan-pimpinan keagamaan jangan terlarut dalam program tidak sehat, kalau itu terjadi maka pilihannya adalah perbaiki akal sehat dan dosa atas suara kaum tak berdosa. Negara Indonesia mencari cara melalui program ini untuk memusnahkan akal sehat orang Papua. Kata-kata sangat indah di dalamnya penuh dengan kebohongan abadi kepada orang Papua.

Negara ini tidak ada perasaan malu, atas perbuatan-perbuatan keji yakni pembunuhan, pemerkosaan, pembantaian, kepada kami orang Papua. Kalau memang tidak ada perasaan malu, berarti akal sehat negara Indonesia tidak laku sepanjang masa dan yang berlaku adalah “kebodohan” dalam menangani permasalahan berkepanjangan di Papua. Setiap program yang lahir dalam “kebodohan akal sehat” hanya melahirkan pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pemejaraan, dalam bentuk apa pun. Situasi politik papua saat ini masih memanas terlebih rencana diam-diam ini. Rakyat papua, sangat sadar dan tahu gerakan tambahan yang dibuat oleh negara Indonesia saat ini.

Akal sehat rakyat Papua sedang refleksi di rumah masing-masing, mengapa ada program pembunuhan akal sehat? Ada apa dengan program ini? Rakyat jelata sudah tahu program pembunuhan akal sehat ini. Maka negara stop melahirkan program-program tidak masuk akal untuk tanah dan manusia papua. Bagi pihak mana pun sebelum terlambat jangan terima tawaran tidak sehat yang lahir dalam kebodohan kebenaran.

Manusia pada umumnya masa kini hal yang tidak benar dibenarkan karena merasa itu kesempatan. Tidak memperhitungkan dan tidak peduli atas seluruh kematian manusia papua. Rakyat papua korban tenaga, pikiran, ide kreatif dari tahun-ketahun demi membelah kebenaran. Pejuang yang gugur ditangan orang-orang yang akalnya tidak sehat selama ini hanya membelah kebenaran supaya setiap orang itu hidup dalam damai.

Kalau penulis melihat keseluruhan realitas terkini, negara ini sedang menjalankan program pemusnahan akal sehat, misalnya memberikan bantuan bangunan, uang, rumah, mobil, milyaran rupiah dan lain sebagainya, kalau terima dengan demikian program negara terwujud dan kejatuhan akal sehat ada disitu. Mengapa akal sehat jual murahan? Negara ini penuh dengan kebohongan dan kedustaan yang melahirkan rakyat jelata menderita.

Untuk kita rakyat papua tidak terjerumus dengan program tidak sehat ini. United Liberation Movement for West Papua juga mengajak kita rakyat papua supaya tidak terjebak dengan cinta semu ini. Fokus ke depan, arahkan Doa dan Kerja kepada tujuan Jembatan Emas, Otsus sudah Mati dan terputus.“Kita fokus memperjuangkan untuk mewujudkan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi Bangsa Papua,”tegasnya

Penentuan nasib sendiri suatu keharusan karena fakta membuktikan 2 juta rakyat Kristiani (K. Protestan maupun Katolik) Melanesia di West Papua, selama 57 tahun, sudah di pinggir jalan. Ada yang jatuh di semak belukar, sebentar lagi akan menjadi arang dan debu dengan proyek Islamisasi berkedok NKRI harga mati.

Kata dia lagi, selama 57 tahun Pula, rakyat Bangsa Papua menjadi korban kebijakan politik sentimen diskriminasi rasial, marjinal secara sistematis dan masif di berbagai lini kehidupan. “Selama 57 tahun engkau hadir di West Papua berbulu Domba memakai kata dan atas nama: “CINTA KASIH, SYALOM, KRISTIANI, KATOLIK, YESUS KRISTUS?,” tegasnya.

Haluk kritisi kata-kata itu, memang Benarkah mereka serius dengan apa yang mereka katakan? Ataukah, ungkapan itu hanya rayuan penjahat untuk memuluskan kejahatannya? Kata dia, fakta membuktikan itu, pada saat yang sama, atas nama Kristus, Pemerintah Kolonial melakukan kejahatan kemanusiaan. Kepala Pemerintah mengirim Jendral TNI/POLRI ke West Papua untuk membunuh saudara se-Iman. “Mulai dari Mayjen Sarwo Edhie sebagai Panglima Kodam XVII Cenderawasih untuk memenangkan PEPERA 1969,”ungkapnya. Atas dasar fakta itu, dirinya mengajak seluruh rakyat kristini refleksikan penderitaan Umat Kristiani di West Papua dibawah pendudukan Indonesia. Refleksi dengan mengarahkan pandangan ke depan. “Mari berjuang untuk menentukan nasib sendiri. Kita Pasti Menang dalam pertarungan ini. Sebab Tuhan dan Leluhur Papua bersama kita,”ungkapnya, (SUARAPAPUA, 15/07/2020).

Penulis sebagai mahasiswa papua yang tinggal di papua juga ikut mendukung hal apa yang disampaikan oleh Pastor Izak Bame Pr.

Pertama, sepertinya Presiden Republik Indonesia baru sadar bahwa selama ini Rakyat Asli Papua belum mendapat Cinta dari Pemerintah Indonesia.

Kedua, Rakyat Asli Papua tidak heran karena sejak perebutan Irian Barat ke Pangkuan Republik Indonesia bukan atas dasar cinta kepada Manusia Papua tetapi karena kekayaan alamnya terutama Freeport, Pertamina Sorong dan LG Tangguh Babo-Bintuni sehingga unsur kemanusian dilupakan.

Ketiga, Ungkapan “Kita Cinta Papua” muncul sebagai upaya Presiden Republik Indonesia untuk meyakinkan Rakyat Asli Papua maupun dunia Internasional terhadap isu pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua setiap hari.

Keempat, Presiden Republik Indonesia bersama jajarannya sudah tidak ada akal sehat lagi untuk meyakinkan Rakyat Asli Papua bahwa Pemerintah Indonesia itu Pemerintah yang menjalankan Pemerintah berlandaskan Cinta. Pada hal fakta membuktikan terjadi kekerasan di Tanah Papua, (Monitor Papua, 5/09/2020).

Hemat penulis, negara Indonesia stop mendoktrin akal busuk kepada rakyat papua dan alam. Untuk pemimpin-pemimpin yang ada diatas tanah leluhur jangan tertipu dengan kebohongan mulia dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika terlarut dalam tawaran pembunuhan akal sehat maka jiwa-jiwa papua tetap menangis, siapakah yang bertanggungjawab atas jeritan kaum tak berdosa? Sadar dan sadarlah negara dan antek-anteknya sedang menipu kita. Rakyat papua tidak akan sejatehra dalam negara yang penuh dengan kebohongan. Marilah menundukkan kepalah didepan pencipta kita, sadar dan sadarlah kalau apa yang dilakukan itu dosa. Sekali lagi jangan memanfaatkan program ini. Rumah tua itu masih ada dan kuat biarkanlah dia hidup seribu tahun lagi. *)

 

Penulis adalah Mahasis STFT Fajar Tmur Abepura, Papua