Oleh: Timotius Boma

Manusia yang memiliki norma dan etika yang diciptakan oleh Tuhan seuutuhnya dan mampu memilah baik dan buruk perbuatan manusia pasti mempunyai rasa malunya.

Bagi siapa yang melakukan tindakan-tindakan keonaran yang bersifat mencelekan, memusnakan, memperkosa, memenjara orang lain maka ia dikategorikan dalam manusia yang tidak sempurna.

Bukan Tubuhnya yang tidak sempurna namun tindakan-tindakannya yang membuat dirinya sebagai manusia yang tidak sempurna.

Negara Indonesia termasuk dalan golongan manusia yang tidak sempurna; mengapa Penulis mengkatakan demikina?

Karena, didalam wilaya bingkai Negara Kesatuan Repoblik Indonesia (NKRI) beragam problem yang tejadi namun tidak di selesaikan secara humaniter.

Problem-problem sudah terjadi dan masih tetap berlangsung hingga detik ini di Papua sampai saat ini masih belum diselesaikan, terutama pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Seluruh masyarakat Papua serta para aktifis pembelah hak asasi manusia meminta agar Negara kesatuan repoblik Indonesia(NKRI) agar menuntaskan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang sudah terjadi.

Namun, tanggapan Negara tidak sesuai permintaan serta harapan masyarakat Papua.

Masyarakat meminta agar Negara tuntaskan pelanggaran yang sudah terjadi di Papua namun pendengaran serta fisikologis Negara agak rusak sehingga membolak balikan permintaan masyarakat Papua.

Negara tidak menyelesaikan problem pelanggaran hak asasi manusia (HAM) namun, mengirimkan pasukan yang banyak agar mereka memburuh masyarakat Papua dan menambakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua.

Di hadapan Negara seakan-akan manusia Papua tidak ada artinya dan tidak memiliki nilai kemanusiaanya sehingga mereka menjadikan Papua tempat praktek serta mencari pangkat bagi aparat keamanan.

Kehidupan masyarakat pada kepanikan dan selalu ditemani dengan bunyi penembakan, air mata, serta darah yang terus mengalir di setiap hari.

Dengan begitu Negara sendiri yang memilah antara orang Papua dan jawa sehingga negara tidak perlu repot-repot memaksakan diri untuk papua selalu ada didalam genggaman Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lepaskan saja.

Papua sama sekali tidak akan merasa rugi jika terlepas dari Indonesia, masyarakat papua mala lebih bersyukur atas dilepaskan dari genggaman bingkai Negara kesatuan repoblik Indonesia (NKRI) karena, sejak Papua bergabung dengan Negara Kesatuan repoblik Indonesia(NKRI) tidak pernah merasakan itikad baiknya oleh Negara terhadap masyarakat Papua.

Namun, masyarakat papua merasakan itikad buruk yakni ditindas, diperkosa, dipenjara, dicaci maki, dan dirampas sumber daya alamnya.

Walaupun masyarakat papua bergabung dengan bingkai negara kesatuan repoblik Indonesia (NKRI) dengan membawa segala harta kekayaan sumber daya.

Dengan sumberdaya alam yang masyarakat papua menyumbangkan itu, melalui PT Freeport Indonesia di Timika,minyak bumi di Papua barat serta beberapa perusahan lokal maupun ilegal yang sedang beroperasi di Papua bisa menjamin Negara Kesatuan Republik Indonesia serta beberapa Negara lainnya di seluruh Dunia.

)* Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura-Papua.

Publisher: Admin