Oleh: Fabby Makoma Pigome

Pada ujung kelam malam,

cinta begitu hadir dan menghias di bias malam bersama pucat dirinya.

Mengingatkan Irene di pepinggir bukit, berjalan berduaan, menghirup angin segar. Kopi. Join sepontong rokok. Dan, pelukan lebih hangat dari purnama.

Memikirkan lagi perihal ia dengan pacarnya di pengunjung maghrib. Antara semak-semak, ia dipukuli ayahnya hingga babak belur. Perihal nyala api berbara terjadi. Dibikin ia makin jatuh. Bikin pula ia menjadikan kekuatan tuk mencintainya lebih erat pada seorang lelaki baya, sekalipun ayahnya tak menyetujui.

Kala dicari, menghilang berduaan.

Lari, berpindah kota di sebelah, berulang kali. Sering tak makan, juga minum. Hanya sekali-sekali. Itu pun jikalau ada, dikasih orang.

Ia meyakini tuaian kopi pada musimnya. Kumbang hinggap setelah bunga sesaat bermekaran. Dan pun bintang berkedip seketika malam membunuh gulungan mendukung di lengkung langit. Perihal sekali.

Tapi, apakah

cinta selalu hadir seabadi lamanya?

Seringkali bukan. Ia mendapati kabar lain. Lelaki baya sebagai pacarnya mati di sebuah pantai, dibunuh OTK.

________

Nabire, 24 |02|2022

Sumber ilst; Blue, Pinterest

)* Penulis Adalah Alumnus Stiebbank Yogyakarta.