Oleh: Timotius Boma

Manusia diciptakan oleh Tuhan Secitra atau Segambar dengan ia sendiri dan Tuhan tidak pernah menciptakan manusia secitra atau segambar dengan binatang lain.

Oleh sebab itu harkat dan martabat yang ada pada manusia itu pemberian Allah sendiri, karena kita diciptakan Secitra dengan Allah.

Dan siapa yang merendahkan harkat dan martabat sesama manusia maka, ia merendahkan Tuhan Allah sendiri karena, harkat dan martabat itu bersumber dari Tuhan bukan dari manusia.

Meskipun kita umat manusia diciptakan Secitra dengan Allah namun kita diberikan berbagai macam keterbatasan-keterbatasan supaya kita tidak membandingkan dengan Allah sendiri.

Oleh sebab itu,manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki berbagai macam keterbatasan dan beragam kemampuan serta Tuhan memberikan berkat melalui berbagai macam metode yang ia gunakan.

Sehingga manusia tidak punya kemampuan untuk mengetahui semua hal, ada keterbatasan-keterbatasan yang terletak diri pribadi manusia, sehingga kita semua dikaruniai beragam skil masing-masing. Ada yang mampu untuk mengatasai masalah kesehatan (Dokter, Perawat, Mantri dan lain-lain), ada juga yang mampu mengatasi masalah ekonomi (Pengusaha, Pedagan serta Petani), ada yang berkemampuan untuk mengatasi persoalan sosial politik (Anggota Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif). Ada yang berkemampuan untuk mengajar (Tenaga Guru dan Dosen) dan ada juga yang berkemampuan untuk membicarakan tentang kebenaran (Para Pastor, Pendeta, Aktivis).

Semua manusia diberi kemampuannya masing-masing dan hal itu sangat berkesinambungan antara satu dengan yang lain.

Tenaga kesehatan membutukan orang ekonomi, orang ekonomi membutukan orang sosial politik dan orang politik membutukan orang ekonomi sehingga semuanya itu saling membutukan.

Oleh sebab itu, kita tidak perlu memperendahkan antara satu sama lain, karena kemampuan dan sumber pendapatan itu pemberian Tuhan bukan pilihan manusia.

Setiap manusia ingin memiliki banyak harta dan kekayaan, memiliki rumah yang mewah, mobil yang bagus dan punya pendapatan yang lebih dari satu namun tidak semua itu akan terjadi kalau tidak disertai melalui usaha.

Meskipun, kita berusaha namun berkat itu Tuhan yang memberikan melalui usaha kita sehingga kita tidak perlu menyombongkan diri terhadap saudara-saudara kita yang berkemampuan ekonominya lemah.

Kehidupan mereka tidak sama dengan kita yang memilikit sumber pendapatannya memadai itu bukan karena pilihan mereka namun keadana.

Mereka tidak mungkin memilih untuk hidup dalam situasi ekonomi yang berkekurangan mereka juga ingin menjalani hidup seperti kita namun keadaan mereka yang menentukan atau nasip baik baik belum memeluk hidup mereka atau berkat Tuhan belum memiliki waktu yang tepat untuk mereka.

Kesombongan akan bergelimangnya harta dan kekayaan sering terjadi di kalangan rejama di zaman milenial ini terutama kepada mahasiswa dan pelajar yang sedang mengeyam pendidikan di kota studi.

Anak yang berasal dari orang tua yang memiliki sumber pendapatan lebih selaluh berpenanpilan berbeda dengan anak yang berasal dari orang tua yang tidak memiliki berpendapatan (Ekonomi Lemah).

Anak yang orangtuanya memiliki berpendapatan lebih menyombongkan diri dengan hasil pendapatan orangtuanya sementara ia tidak menyadari bahwa apa yang ia gunakan itu hasil keringat orang tua sebagai rasa tanggun jawab mereka terhadap keturunan yang mereka wariskan, sementara anaknya tidak menyadari hal itu sehingga, merendahkan anak yang berasal dari orangtuanya minim akan sumber pendapatan dengan tuturan anak miskin, penyakitan bahkan menjauhi anak itu sambil mengunkapkan kata bauh, dekil, badaki, kotor, dan lain sebagainya..

Sementara ia tidak menyadari bahwa mereka berdua sedang memperjuankan nasip masa depan yang sesungguhnya bersama-sama . Dan nasib mereka berdua berbeda, anak miskin tidak selalu miskin dan anak kaya tidak selalu kaya.

Satu hal yang anak kaya tidak sadari bahwa berkat dari Tuhan akan selalu mengalir di dalam kehidupan setiap insan yang hidup diatas muka bumi ini, sehingga meskipun miskin namun berkat dari Tuhan pasti ia terima melalui orang lain, sehingga ia bisa mempertahankan hidupnya dan bisa berada di kota studi untuk memperjuangkan kehidupan serta nasip masa depannya.

Anak miskin pasti memiliki kedua orangtuanya sehingga sebagai rasa tanggun jawab orang tua padepannya Dan nasib seseorang akan ditentukan oleh Allah melalui usaha-usaha kita, sehingga anak kaya tidak selalu kaya dan anak miskin tidak selalu miskin. Selaluh ingat bahwa kehidupan manusia selalu bertransformasi, sadarilah mumpung masih ada waktu untuk berubah dan berjuang.

)* Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura-Papua.

Publisher: Admin