Bukan Kita, Tetapi Dia

Oleh: Aran Liken

Ketika langit memanjakan mata menatap leluasa

Butiran- butiran cinta datang bersama potongan- potongan egoisme diri yang melekat, ada suka- duka, canda- tawa, hingga tangis menjadi potretan abadi, ditengah kehidupan yang penuh gejolak ini.

Suatu hari butiran- butiran cinta datang menyapa,ia begitu anggun ditengah dunia yang penuh goresan luka, saat air mata menjadi harapan, melepas beratnya beban yang terlampau sangat melekat.

Apa kabar ? tanya butiran- butiran cinta heran, ketika melihat air mata yang kian basah pada pelupuk mata. Bukankah misi terbesar Ia yang wafat dipuncak Kalvari adalah Cinta ? Dimanakah cinta itu sekarang ? Rupanya ia mulai serius mempertanyakan keberadaan cinta itu.

Lambat laun, egoisme mulai angkat bicara.

” Saat ini, aku juga mengalami dilema ” Saat mentari mencium ufuk timur, aku selalu berdoa kepada Tuhan, untuk memberi cinta itu. Rupanya dunia sekarang kuat dengab kemunafikan yang begitu santun. Aku lupa jalan pulang, saat kata- kata manis diujung lidah dan berakhir air mata, dimana aku mepertanyakan cinta itu sendiri ?

Akhirnya, cinta mempertanyakan diri ? aku telah dipermainkan dunia dengan egoisme. Aku akan kembali kepada Dia, dan meminta Dia yang datang menyadarkan dunia, Kapan ?

Dunia ini adalah panggung drama yang tidak akan selesai- selesai dieja.

Jayapura, 20 Februari 2022

)* Penyair Adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua.