Oleh: Timotius Boma

Simapitowa merupakan singkatan dari Siriwo, Mapia, Piyaye, Top dan Wanggar. Wilayah ini lazimnya dikenal dengan nama Mapiha, Mapisa, atau dalam ejaan yang disempurnakan (EYD) disebut Mapia.

Mapia sendiri merupakan nama sebuah distrik yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua. Di Mapia terdapat 4 Distrik; Distrik Mapia (Bomomani), Distrik Mapia Tengah (Modio), Distrik Mapia Barat (Timepa) dan Distrik Mapia Selatan (Piyaye).

Beberapa waktu lalu wacana Pemekaran Kabupaten Mapia Raya sempat mengemuka, namun karena ditolak oleh mayoritas masyarakat Mapia sendiri, maka wacana tersebut perlahan tenggelam. Sebab, semua pihak yang masih berpikir waras menyangsikan bahwa Pemekaran Kabupaten Mapia Raya sebagai ancaman terbesar bagi eksistensi manusia dan alam Totaa-Mapiha.

Secara etimologis kata Mapia berasal dari Bahasa Mee (Totaa Mapia) dan terdiri dari dua sub kata, yakni Maa dan Pihaa. Maa berarti Benar atau Kebenaran. Sedangkan Pihaa berarti Pohon. Jadi, Mapiha berarti Pohon Kebenaran atau Pohon Kebijaksanaan.

Masyarakat adat Mapia sering mentautkan Pohon Kebenaran dan filosofi orang Mee, yakni Dou, Gai, Ekowai dan Ewainai. Kembali ke etimologis, Dou, berarti Melihat, Menjaga, Peduli, Merawat dan aktivitas Indra penglihatan lainnya. Gaii, berarti Berpikir, Pertimbangan, Waspada, Hati-hati, dan aktivitas pikiran lainnya. Ekowai, berarti Berkarya, Bekerja, Bertindak, Berbuat dan aktivitas tindakan lainnya. Sedangkan, Ewanai, berarti Menjaga, Pasang Badan, Menunggu, dan aktivitas proteksi lainnya.

Pendeknya, Filosofis Dou, Gai, Ekowai dan Ewainai ini merupakan satu kesatuan pola hidup bijak menurut atau dalam kebudayaan Suku Mee (Mapia). Satu kiat tidak bisa lepas dari kiat lainnya. Hemat penulis, sejauh filosofis ini diperhatikan dalam kehidupan setiap orang Mee, maka mereka akan benar-benar tampil layaknya seorang manusia sejati, manusia yang manusiawi.

Jika tiga gabungkan, maka gaunnya akan seperti ini, sebelom melakukan sesuatu harus melihat (Dou), berfikir (Gaii), lalu dengan pengamatan dan pikiran itu melakukan yang dapat bermanfaat bagi semua orang (Ekowai). Setelah itu, apa yang telah dihasilkan ini dijaga, dikoreksi, dievaluasi, dioptimalkan dan terus diproteksi secara kontinyu (Ewanai).

Dengan demikian jika kita melakukan suatu tindakan atau rancangan yang bersifat universal , perlu bertindak secara benar jika kita bertindak tidak sesua dengan etimologi Mapia dan filosofi ororan Mee maka ancamannya sangat besar.

Bukan manusia yang akan mengancam kita, namun alam dan para penghuni alam ( Leluhur/Moyang) yang akan mengancam. Kita akan sadar seketika kita mendapatkan imbalan perbuatan kita terhadap alam.

Oleh sebab itu, bagi orang-orang yang ikut mendukun Pemekaran Provinsi Papua mesti berhati-hati dengan acaman alam Meepagoo pada umumnya dan khususnya alam Simapitowa.

Kita sudah tahu dan melihat bersama bahwa tujuan dari Pemekaran Provinsi Papua Tengah ini hanya untuk kepetingan pribadi yang nantinya akan menjadi tempat bisnis di beberapa Wilayah yang ada dalam Provinsi Papua Tengah, yakni Gunung Deiyai, Dogiyai, Weylands, dan beberapa sumber daya alam yang lainnya yang masih tersisah.

Weylands terletak di Wilayah Simapitowa dan dijaga, dilindungi bahkan tidur bagun berasama masyarakat tersebut. Oleh masyarakat Simapitowa, Weylansd ini merupakan tempat sakral yang menjadi harapan keberlangsungan hidupnya.

Jika Weylands dihanjurkan, maka masyarakat Simatowa yang bertahun-tahun tidur bangun dibalik gunung itu mau dibawah kemana? Di sisi lain manusia dan alam Simapitowa akan hancur lebur bersamaan dengan Gunung Weylands..

Ini yang menjadi pertanyaan bagi orang-orang yang sedang berjuang untuk memekarkan Provinsi Papua Tengah, terutama kepada para intelektual yang berasal dari wilayah Simapitowa.

Seharusnya sebelum berjuang untuk memekarkan Provinsi ini, perlu mengamati kehidupan masyarakat yang suda mengalami suka dan duka selama hidup dalam dua sistem pemerintahan dua Provinsi di Papua selama ini, yakni, Provinsi Papua dan Papua Barat.

Apakah kehidupan masyarakat pribumi yang memiliki hak ulayat hidup sejaterah atau tidak di kedua Wilayah Provinsi itu?.

Kenyataannya tidak, dengan adanya Pemekaran membuat masyarakat terpinggirkan, terancam dan diintimidasi dengan berbagai macam metode.

Semua Sumber Daya Alam (SDA ) dikuras habis-habisan oleh perusahan perusahan, perhotelan, tambang, minyak maupun perusahan lainnya, yang adalah milik masyarakat transmigrasi , sedangkan masyarakat pribumi menjadi penonton diatas tanahnya sendiri.

Hal itu bukan mustahil akan terjadi setelah Pemekaran Provinsi Papua Tengah ini terjadi.

Oleh sebab itu, para intelektual Meepagoo perluh melihat (Dou), berfikir (Gaii), bertindak (Ekowai), dan memproteksi (Ewainai) sesuai filosofis orang Mee.

Karena, kedatangan Pemekaran Provinsi Papua Tengah di wilayah Meepagoo ini mendatangkah maut bagi masyarakat yang ada di Meepagoo terutama, masyarakat Simapitowa.

Dengan adanya Pemekaran Provinsi ini semua akspek kehidupan masyarakat akan mengalami transformasi, menjadi masyrakat yang disingkirkan, diintimidasi bahkan akan dikuras sumber daya alamnya. Terlebih, sekali lagi, Pemekaran Provinsi Papua Tengah akan mengiring alam, manusia dan leluhur yang masih Wilayah adat Meepagoo pada umumnya dan khususnya Wilayah Simapitowa akan terancam punah eksistensinya. Bahwa sesungguhnya, Pemekaran Provinsi Papua Tengah adalah Peti Mati Perabadan Suku Mee dan Suku-Suku lainnya di Wilayah Meepagoo. Pemekaran Lolos, Simapitowa Mati, Meepagoo Mati, dan Papua Mati.

)* Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura-Papua.