Oleh: Anjelina Wakei

Di era komunikasi digital atau Posts-modren ini, manusia mengalami revolusi yang bukan main. Hampir semua dimensi kehidupan manusia telah berubah drastis. Mulai dari hal yang remeh-temeh; sadang, pangan dan papan, hingga perkara-perkara hidup yang besar. Semisal, baru-baru ini China telah menerbitkan Matahari buatannya sendiri.

Hal-hal ini menunjukkan kemajuan peradaban manusia itu terjadi super meroket. Hanya saja, perluh kita kritisi bahwa alam atau bumi tempat manusia berpijak ini sudah mulai rentan akibat egoisme manusia yang radikal.

Dari semua ancaman serius dari alam, penulis hendak berfokus pada resolusi ekologis yang hendaknya diperhatikan bersama oleh seluruh warga jagat, yakni Panggilan Solidaritas Ekologis. Sejatinya, Penulis bukan orang pertama yang menulis tentang pentingnya keseimbangan atau harmonisasi ekologis serta panggilan solidaritas ekologis. Sudah banyak literatur-literatur yang telah, tengah dan terus membahas soal fenomena Krisis Ekologis ini. Salah satu karya yang banyak memperkaya penulis adalah Engsiklik Laodato Si, yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus pada24 Mei 2015, dipublikasikan secara resmi pada siang hari (waktu setempat) tanggal 18 Juni 2015 dan disertai dengan konferensi pers.

Tuhan menciptakan alam dengan begitu indah dan menarik. Keelokan alam pun begitu mempesona.Tuhan telah menitipkan segalanya pada manusia, maka sudah seharusnya manusia menjaga dan melestarikan alam dengan penuh tanggung jawab.

Setiap makluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan memiliki hubungan erat yang tidak bisa dilepas-pisahkan, apapun dalilnya. Hubungan ini tumbuh secara alamia dan manusi sering menyebutnya dengan nama ekologi.

Alangkah bahagianya berada di alam yang bebas, sambil menghirup oksigen dari alam bebas, sambil menikmati hembusan angin yang bersepoi poi datang dari sebelah timur . Hatipun mulai merasakan ddamai pikiran dan akal sehat pun mulai terbuka.

Sikap rasa cinta kita terhadap alam bisa kita tunjukkan dengan hal – hal yang sederhana, orang selalu menganggapnya hal yang sangat sepeleh, tidak ada nilai, namun pekerjaan ini sangat mulia, sebab tidak semua manusia yang bisa melakukannya.

Sikap menjaga kelestarian alam, yaitu tidak membuang sampah disembarangan tempat, budayakan buang sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon secara liar (Ilegal Logging), budayakan reboisasi dan masih banyak lagi. Dengan demikin kita sudah menunjukkan kecintaan kita terhadap alam.

Sikap cinta terhadap lingkungan sangat perluh di tumbuhkan dikalangan anak-anak, remaja, dewasa, dan semua kalangan. Cinta terhadap linkungan merupakan salah satu sifat yang dikembangkan agar semua kalangan mempunyai karakter menghargai, melindungi, serta melestarikan alam. Sehingga mampu menciptakan manusia yang berkarakter dan berkontribusi dalam membangun rumah yang bereputasi dan sanggup beradaptasi dengan lingkungan sekitar, alam maupun sosial, sehingga tercipta hamoni kehidupan.

Cinta kepada alam dan lingkungan adalah kalimat yang mengajak kita untuk selalu menjaga alam dan linggkungan tempat kita berpijak yaitu bumi. Kalimat tersebut terdiri dari kata- kata yang bermakna yaitu cinta, alam, dan lingkungan. Cinta adalah rasa sayang akan sesuatu baik itu kepada manusia, ataupun kepada ciptaan lainya. Alam adalah apa yang ada dilingkungan kita, dimana tempat tersebut telah eksis dari dahulu sejak terciptanya tempat tinggal kita, bumi. Lingkungan adalah daerah tempat kita atau berdekatan dengan tempat tinggal kita yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak secara langsung.

Jadi, cinta kepada alam dan lingkungan adalah rasa kasih sayang kepada alam kita termasuk bumi dan tempat kita tinggal. Harus menjaga alam dan lingkungan kita agar tidak rusak oleh tangan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Mari kita sama –sama menjaga alam kita ,kita lingdungi alam kita,kita lestarikan alam kita ,kalau bukan kita siapa lagi,kalau bukan sekarang kapan lagi.

)* Penulis Adalah Siswi SMK Kesehatan Kota Jayapura-Papua.