Fr. Vredigendo Berto Namsa

biarawan Fransiskan, alumnus STFT Fajar Timur

Di dalam pembaharuan liturgi sejak Konsili Vatikan II, ada perkembangan yang luar biasa dalam perayaan Ekaristi. Perkembangan itu adalah supaya seluruh umat dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam perayaan Ekaristi. Misa yang dirayakan dalam bahasa setempat, imam berdialog dengan umat selain dengan misdinar, umat dilibatkan secara lebih aktif dalam nyanyian, ada petugas bacaan, pelayan Ekaristi, Komisi Liturgi dan lain-lain. Seringkali ada spanduk dan lukisan untuk pesta-pesta tertentu, kadang-kadang pakaian adat digunakan dan prosesi serta tarian meriah dipestakan. Ada ruang untuk kreativitas dan seni inkulturasi. Umat merasa lebih nyaman dalam rumah Tuhan. Banyak orang aktif dalam persiapan perayaan Ekaristi dan memberikan diri demi pelayanan dengan semangat yang luar biasa.

Tujuan dari semua aktivitas itu adalah agar umat dapat berpartisipasi dalam Ekaristi secara lebih nyata dan dalam. Namun perlu diakui belum tentu terjadi demikian. Kegiatan itu bisa sangat menyibukan kita sehingga perhatian kita kurang terpusat pada misteri Kristus. Anggota koor atau pemain musik, misalnya yang sangat sibuk dengan musik, seringkali harus mengorbankan kesempatan untuk berfokus pada apa yang sungguh sedang terjadi. Doa mereka menjadi pelayanan agar orang lain dapat berdoa.

Petugas-petugas lain yang berpartisipasi secara aktif,  juga harus berkonsentrasi pada tugas mereka supaya tidak keliru, perhatian mereka terserap karena kesibukan itu. Demikian juga dengan partisipasi umat, tidak dengan sendirinya terwujud melalui jawaban-jawaban kepada imam, karena jawaban tersebut sering diucapkan secara hafalan tanpa memperhatikan arti kata demi kata. St. Benediktus mengajarkan bahwa pada saat mendaraskan doa, kita perlu berusaha supaya pikiran kita selaras dengan suara kita. tetapi hal itu ternyata sulit. Kata-kata keluar dengan kecepatan, tetapi hati dan pikiran kita sedang berjalan di tempat lain.

Dengan melibatkan banyak orang dalam usaha menciptakan suasana yang akrab, kadang-adang masih terasa belum cukup. Tinggalah sebuah pertanyaan: Kita ingin berpartisipasi dalam Apa? Melalui Ekaristi kita hadir pada saat kurban Yesus di Golgota dan diberi kesempatan untukikut serta menyerahkan diri kita kepada Bapa dalam kasih-Nya. Kita menerima Roh-Nya, dipersatukan dalam belaskasih-Nya dan memberi misi membagi-bagikannya. Secara singkat, partisipasi yang kita rindukan bersifat spritual da adikodrati. Kontak dengan Allah yang hidup, bukan hanya sekedar perayaan manusiawi, hasil usaha kita. mungkin yang diperlukan adalah lebih banyak saat-saat hening. Kesatuan yang ingin kita rasakan di antara kita berasal dari pengalaman bersama Allah itu sendiri.

Gereja ingin bahwa umat beriman berpartisipasi secara sadar, aktif, penuh dan dijiwai oleh iman, harapan dan kasih. Itulah hak dan kewajiban umat kristiani berdasarkan pembaptisan. Untuk itu Kristus mempercayakan kurban Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi kepada Gereja, Mempelai-Nya yang terkasih. Mungkin kita sudah aktif dalam perayaan Ekaristi tetapi belum cukup sadar. Kehadiran kita mungkin belum cukup dijiwai oleh iman, harapan dan kasih. Memang tak pernah bisa cukup, karena misteri Kristus melampaui pemahaman kita. Saat ini menjadi kesempatan memperbaharui kesadaran kita akan anugerah istimewa ini. Kita semua dapat mengusahakanya, dengan bantuan dari Tuhan dan sesama yang lain.

Mengutip himbauan St. Paus Yohanes Paulus II yang berbunyi: “hendaklah para imam bersemangat memberi katekesis khusus agar umat beriman dapat menangkap makna dari semua kata dan tindakan liturgis, serta melihat misteri yang terkandung dalam tanda-tandanya untuk menghayati misteri itu dalam setiap segi hidup mereka.