Refleksi Singkat Sosio-Politik di Tanah Papua

Oleh: Mandfred Iyai

Manusia adalah kebebasan. Bukan manusia memiliki kebebasan. Artinya, bahwa kebebasan tidak merujuk pada kepunyaan melainkan diri sendiri (eksistensi). Hal ini menggarisbawahi hak esensial manusia yang bebas dan tidak dapat dibatasi atau direbut apalagi dibunuh dengan alasan apa pun. Setiap manusia bebas menentuhkan pilihan hidupnya; hidup merdeka atau hidup di bawah para penjajah. Manusia menjadi diri sendiri, citra Allah (imago Dei) tatkala ia berani memutuskan dan menetukan pilihan bebasnya dan tanggung jawab sebagaimana menstinya. Maka, adalah kesalahan fatal seseorang atau kelompok tertentu membatasi bahkan membunuh kebebasan eksistensial orang atau kelompok lainnya. Sebab, tindakan demikian dapat mempekeruh nilai luhur manusia yang paling hakiki , yakni bebas.

Berbicara perihal kebebasan selalu merujuk pada bebas untuk apa, bukan bebas dari apa. Pertanyaan “bebas untuk apa?” memantik kita manusia untuk menilik dan merefleksikan keefektivitas (kualitas) dalam menginternalisasi dan mempraktekkan kebebasan kita berhadapan dengan kebebasan sesama manusia lainnya. Apa itu bebas? Untuk apa saya bebas? Apakah bebas untuk membatasi bahkan membunuh kebebasan orang lain untuk menentukan pilihan dan hidup orang lain? Ataukah dikatakan bebas sejauh saya dapat bertanggung jawab dan meningkatkan mutu hidup sosial? 

Kebebasan mengandaikan pertanggungjawaban. Kebebasan tidak bisa dilepaspisahkan dari tanggung jawab. Ketika kita bebas secara serentak kita dibebankan suatu pertanggungjawaban atas pilihan dan tindakan bebas kita. Hal ini mengindikasikan, bahwa dalam hal tertentu tidak ada kebebasan yang mutlak karena ada kewajiban moral yang dituntut. Lantaran kebebasan dituntut pertanggungjawaban, lantas saya dapat bertanya; jika aneksasi bangsa Papua ke dalam bingkai NKRI adalah berlandaskan kebebasan bangsa Indonesia maka di manakah letak tindakan pertanggungjawaban moral mereka atas kebebasan itu di tanah Papua? Apakah pertumpahan darah, rasis, intimidasi, kepincangan pembangunan, ketidakadilan, diskriminasi? Tentu secara sepintas anda akan menjawab seolah-olah tanpa dibebani kewajiban moral “tidak”. Padahal, kenyataannya itulah yang sudah, telah, sedang, dan mungkin akan terjadi apabila tidak ada tindakan preventif dari orang Papua. 

Oleh karena itu, pada momen ini, 1 Desember 2021 hari di mana bangsa Papua mendeklarasikan manifesto kemerdekaan West Papua, pas untuk kita OAP (Orang Asli Papua) merefleksiakan kembali pertanyaan penting di atas, “bebas untuk apa?”. Orang yang mempunyai hati nurani lantas akan menjawab: bebas untuk hidup damai, adil, dan sejahtera karena realita di tanah Papua sudah mengkondisikan kita dengan pembatasan bahkan pembunuhan kebebasan, peperangan, ketidakadilan, dan kepincangan pembangunan serta pelbagai tindakan pelanggaran HAM oleh para kolonial Indonesia setalah kolonial Belanda pergi. Kita mesti menentukan sikap kita sebagai makhluk bebas. Jangan biarkan benalu masyarakat berkembang dan menyisihkan kita di atas tanahnya kita sendiri. Sebab, semakin anda membiarkan benalu masyarakat bertumbuh semakin kita kerdil dan mati bahkan punah. 

Menyadari realitas di tanah Papua, sekarang kembali kepada setiap kita, apakah memilih untuk diam atau bangun dan berdiri menyinsingkan lengan baju bersama maju melawan ketidakadilan di atas tanah Papua. Kita mesti berjuang berdasarkan kemampaun dan kondisi kita; baik secara perang dingin (senjatanya bolpoin dan buku-intelektual), dialog, maupun fisik. Jangan ragu berbicara tentang kebenaran karena kebenaran tetap benar walapun tidak diakui bangsa Indonesia. Yakinlah suatu saat, sejauh manapun mereka membungkam kebenaran tetap kebenaran akan menyatakan yang sebenarnya, bahwa bangsa Papua adalah bangsa yang berdaulat yang kemudian direbut dengan cara intimidasi dan manupulasi data di New York. Sebab, Allah selalu berpihak kepada yang benar, miskin, orang-orang kecil, diintimidasi, dan dibunuh sebagaimana Allah menerobos keangkuhan dan kebobrokan bangsa Mesir yang menjajah bangsa Israel dan membebaskan bangsa Israel melalui nabi Musa. Mari kita berjuang untuk bebas dari ketidakadilan dan pelanggaran HAM di atas tanah Papua. 

Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero

Editor: Admin