Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021

(*Oleh: Siorus Degei

 

Minggu, 29 November bertempat di Asrama ‘Yamewa’ Tunas Harapan Abepura-Papua, Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP2) mengeluarkan seruan pers berkenaan dengan peringatan tanggal 1 Desember 2021 sebagai hari ulang tahun kemerdekaan Bangsa Papua yang ke 60 tahun. Seruan Pers tersebut disampaikan langsung oleh koordinator JDRP2 Sdr. Selpius Bobii
“ Syalom selamat siang untuk bangsa Papua baik Sorong sampai Samarai dan orang Papua yang berbeda di rantauan dan di mana saja dan juga semua simpatisan internasional dan masyarakat lain di seluruh dunia yang mendengar seruan kami jaringan doa rekonsiliasi untuk pemulihan Papua terkait dengan peringatan perayaan hari ulang tahun yang ke 60 kemerdekaan bangsa Papua” Sebelum menyampaikan seruan Pers JDRP2 hendak menegaskan beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh bangsa Papua, yaitu Pemulihan diri.
Pemilihan Diri Sebagai ‘Tiket’ Menuju Negara Suci Papua

Menurut Sdr. Selpius Bobii, kita sudah berjuang selama 60 tahun lebih dari tanggal 1 Desember 1961, di mana bangsa Papua sudah merdeka dengan mengibarkan bendera bintang kejora yang disaksikan oleh Belanda dan utusan dari Australia. Perjuangan bangsa Papua sudah sampai puncak, tinggal satu langkah lagi, jadi bangsa Papua sudah berjuang dengan cara dan kemampuan yang ada. Banyak organisasi sudah kita lahirkan dalam perjalanan perjuangan ini, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dan semua kemampuan dan kekuatan yang kita miliki semua sudah kita curahkan, bahkan darah dan air mati sudah tercurah di atas tanah ini. Tinggal langkah lagi dan langkah ini kita akan tutup dengan gerakan spritual yang sedang jalan, karena perjuangan secara manusiawi sudah kita lakukan dan kita harus tutup dengan ‘ Joker’ yaitu dengan gerakan Doa-Puasa yang sedang kita jalankan dan akan kita lakukan pada bulan Juni dan Juli tahun depan, 2022, itu sesuai dengan perintah Tuhan.
Syarat mutlak untuk pembebasan bangsa Papua itu adalah ‘Pemulihan Diri’ dan itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Karena tidak semua bangsa Papua, tidak semua yang ada di atas tanah ini dan juga orang Papua di rantauan akan masuk menikmati kemerdekaan bangsa Papua karena syaratnya adalah harus bertobat, berdamai, dan harus bersatu di dalam rencana dan kehendak Tuhan, bukan bersatu didalam rencana dan kehendak manusia yang penuh ambisi dan penuh Kepetingan. Tuhan kehendaki bangsa Papua harus bertobat, harus berdamai dengan siapapun dan harus bersatu didalam rencana dan kehendak Tuhan. Syarat mutlaknya adalah pemulihan diri.

Selpius Bobii: Selama Ini Kita Salah Berdoa

Selama ini kita berdoa supaya Tuhan mau memulihkan bangsa ini tetapi kita sendiri belum memulihkan diri, Tuhan bilang Tuhan mau memulihkan negeri ini. Tetapi sebelum Tuhan memulihkan negeri ini, setiap pribadi kita, kita harus memulihkan diri, kita selama ini salah berdoa, yah salah berdoa karena apa? Karena kita berdoa untuk pemulihan bangsa Papua, tetapi kita sendiri, masing-masing belum memulihkan diri, kita belum bertobat, kita belum berdamai dengan siapapun.
Kita juga belum bersatu dan berdamai didalam rencana dan kehendak Tuhan. Karena itu kita harus belajar berdoa, belajar berdoa yang kami maksud, yaitu adalah bahwa yah kita harus memulihkan diri kita masing-masing terlebih dahulu kerena Tuhan mau memulihkan bangsa ini indah pada waktunya. Karena itu Tuhan meminta setiap pribadi kita yang ada di atas tanah ini, bangsa Papua, dari Sorong sampai Samarai, karena termasuk PNG, Tuhan maupulihkan negeri ini. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil Tuhan punya rencana yang indah, termasuk Papua Barat dan PNG, Tuhan mau pulihkan. Karena itu Tuhan bilang bangsa ini harus menguduskan diri, karena Tuhan mau pulihkan, karena itu bilang bangsa ini harus menguduskan diri sebelum Tuhan memulihkan bangsa ini.Masing-masing kita harus memulihkan diri.

Berdamai yang dimaksud disini adalah bahwa kita harus berdamai dengan diri sendiri, itu terlebih dahulu. Kita juga berdamai dengan sesama kita, kita harus berdamai dengan leluhur, kita juga harus berdamai dengan diciptaan Tuhan, dan terakhir kita harus berdamai dengan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kita harus berdamai dengan siapapun, termasuk bangsa Indonesia, termasuk bangsa Belanda, Amerika, termasuk PBB, kita harus berdamai dengan siapapun, sebab kemerdekaan bangsa Papua itu hanya ditunda saja bangsa Papua sudah merdeka sejak 1 Desember tahun 61, tetapi Tuhan bilang kemerdekaan itu ditunda saja.

Akhirnya Tuhan paksa Papua masuk saja kedalam NKRI melalui perantara bangsa-bangsa lain, yaitu Amerika, Belanda, PBB, dan juga Indonesia. Jadi sekarang Tuhan mau memulihkan kemerdekaan itu, karena itu Tuhan meminta kita untuk memulihkan diri, karena itu syarat utama, ini adalah tiket, bagi siapapun yang tidak memiliki tiket akan diijinkan masuk menikmati kemerdekaan Papua, Tanah Sucisuci Papua, Negara Suci Papua, tidak seperti yang selama ini kita bayangkan. Kita berlomba-lomba deklarasi, kita berlomba-lomba proklamasi, tetapi Tuhan tidak menghendaki itu. Karena semua yang kita lakukan itu dalam rangka mencari kehendak Tuhan. Jadi semua deklarasi, semua proklamasi, semua upaya yang kita yang kita lakukan itu dalam kerangka mencari kehendak Tuhan.

Panggilan Membangun Perdamaian Universal

Dan sekarang Tuhan sudah membuka jalan, Tuhan bilang tanggal 1 Desember 61 bangsa Papua sudah merdeka. Dan atas perintah Tuhan pada tanggal 29 November tahun 2020 kami sudah deklarasi Pemulihan kembali, Pemulihan Bangsa Papua Lahir Baru Di Dalam Tuhan, pada tanggal 1 Desember 2020, Jam. 21: 00 WIT, di Aula’ Yemewa’ Tunas Harapan. Dan pada tanggal itu juga kami sudah umumkan berdirinya Kerajaan Transisi Papua, dan atas perintah Tuhan yang kami laksanakan itu. Dan launching buku yang berjudul “Bergulat Menuju Tanah Suci Papua” Karena pada tanggal 31 Januari 2021, melalui utusan Tuhan melalui malaikat, sampaikan bahwa masalah Papua sudah finis, sudah tuntas sejak deklarasi Pamulihan Bangsa Papua Lahir Baru Di Dalam Tuhan yang diumumkan pada tanggal 1 Desember tahun 2020.

Melalui utusan-Nya, Malaikat memberitahu bahwa masalah Papua sudah finis, tinggal bangsa Papua memulihkan diri, karna Tuhan mau pulihkan negeri ini, tapi setiap kita harus memulihkan diri, Tuhan sedang menunggu Pemulihan diri. Jangan harap kalau kita tidak bertobat, jangan harap kalau kita tidak berdamai dan bersatu di dalam rencana dan kehendak Tuhan, kita akan masuk ke Tahap Suci Papua, tidak ada. Bagi orang yang sudah bertobat, berdamai, bersatu dan didalam rencana dan kehendak Tuhan itulah yang akan diijinkan untuk masuk dalam Tanah Suci Papua. Karena itu mari kita bersatu dengan dan didalam gerakan pemulihan diri menuju pemulihan bangsa Papua yang sedang didorong dan digerakkan oleh Jaringan Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua.
Jadi atas perintah Tuhan, kami sudah keliling seluruh tanah Papua, tapi tidak semua daerah kami jangkau. Jadi sejak tanggal 4 November 2021, bulan ini kami sudah keluar dari Jayapura ke Manokwari Sorong, Fak-Fak, setelah itu ke Timika. Dari Timika kami kembali lagi ke Jayapura, kami keliling ini dalam rangka aksi Doa-Puasa serentak pada bulan Juni dan Juli tahun depan. Jadi dalam satu Minggu Kedepan kami akan kembali menjangkau daerah-daerah yang lain. Dan setelah itu, pada bulan Januari Kami akan ke PNG lagi untuk sosialisasikan Doa-Puasa Serentak seluruh negeri. Karena itu syarat mutlak bagi pemulihan bangsa Papua, pemulihan diri adalah syarat mutlak, itu adalah kunci, tidak ada syarat lain dari Tuhan. Kita harus memulihkan diri karena Tuhan bilang bahwa jalan satu-satunya bangsa ini adalah pemilihan diri sebab Tuhan mau menguduskan bangsa ini, dari Sorong sampai Samarai.

Jadi hal penting yang harus kita lakukan pada tanggal satu Desember besok itu adalah bahwa kita mengucap syukur dan juga kita naikkan doa pemulihan diri. Karena doa pemulihan diri itu yang penting, sebab Tuhan mau memulihkan bangsa ini. Kita berdoa bukan untuk pemulihan bangsa Papua. Tapi pertama-tama kita harus memulihkan diri kita masing-masing, karena Tuhan mau mau pulihkan negeri ini. Jadi selama ini kita salah berdoa, sehingga mari kita mulai dari diri kita sendiri, kita memulai dari keluarga kita, dari marga kita, dari Suku kita, dan dari kampung kita, supaya Tuhan pulihkan negeri ini, jadi kita memulai Pemulihan dengan Pemulihan diri, Pemulihan Marg a, Pemulihan Suka, dan Pemulihan Kampung, dari situ barulah akan tercipta pemulihan bangsa Papua. (*)

Penulis Adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua