Penulis adalah Yuven Migani Belau

Alumnus STFT yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di salah satu Paroki di pendalaman Papua.      

Hidup adalah suatu persembahan. Hidup dipenuhi oleh rahmat dan anugerah kasih Allah kepada manusia, yang diberikan oleh Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Oleh karena itu, setiap kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kepada Allah. Mempersembahkan hidup kepada Allah berarti menyerahkan seluruh kemampuan, dan kepribadian kepada Allah atas rahmat cinta kasih-Nya. Maka itu, perlu bagi manusia untuk memiliki nilai-nilai Hidup Rohani, Kerendahan hati yang penuh bijaksana, dan Setia pada Injil.

Persembahan hidup itu harus memiliki beberapa aspek dan nilai dengan melibatkan diri secara  utuh  pada panggilan Allah. Panggilan Allah itu  dijiwai oleh Roh, karena Roh itu menjadi sebuah kurban yang hidup. Persembahan cinta itu diungkapkan dalam ibadat yang hikmat dan dihayati dengan penuh dalam perjuangan hidup yang sungguh-sungguh benar; untuk mewujudnyatakan nilai cinta kasih Allah dalam hidup sehari-hari. Kita semua dipanggil untuk belajar dari Allah yang rela mempersembahkan diri-Nya melalui penderitaan di Kayu Salib demi cinta-Nya kepada kita manusia. Kehidupan manusia Allah mengajarkan supaya mempersembahkan diri secara utuh kepada-Nya melalui pengalaman hidup sehari-hari dengan penuh bijaksana dan setia pada Yesus Sang Sumber kehidupan dan keselamatan sejati.

Hidup Rohani

Aspek nilai hidup rohani, manusia hendakknya berjuang melalui perbuatan- perbuatan baik hidup dengan  melaksanakan dan mempersembahkan dirinya dalam hidup doa dengan penuh bijaksana dan setia pada panggilan Allah itu, dengan selalu bersyukur dan memohon atas rahmat hidup yang diberikan kepadanya penuh setia dengan berdoa. Berdoa berarti membangun komunikasi dengan Allah dan mendekatkan diri lebih mendalam dengan Allah melalui perbuatan dan tindakan dalam hidup demi cinta kasih Allah. Cinta kasih Allah itu merupakan suatu anugerah dan rahmat kasih Allah yang membebaskan.

Membangun komunikasi berarti manusia selalu dan senatiasa memohon kepada Allah supaya memperoleh kehidupan yang baru dengan hidup berdoa dan berkurban bersama demi nilai kehidupan. Artinya, bahwa persembahan diri itu didukung oleh doa-doa kita, sebagaimana dikehendaki oleh Allah dalam hidup panggilan kita. Berdoa dalam hidup kita merupakan persembahan diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh mulia. Berdoa dalam hidup adalah membangun relasi bersama-Nya, untuk memperoleh kehidupan dan kegembiran dalam hidup panggilan.

Panggilan hidup yang berkembang sesuai harapan adalah suatu Mistri Allah (wafat Yesus yang suci, kebangkitan-Nya dan kenaikkan-Nya ke surga demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia dalam Roh Kudus) yang harus kita manusia memaknai dalam hidup, agar Mistri Allah itu diwujudnyatakan dengan tindakan hidup sehari-hari kita untuk memperoleh keselamatan sejati yang diharapkan oleh kita dalam menjalani hidup ini dengan penuh setia. Persembahan hidup itu harus dipenuhi oleh kegembiran nilai Injil yang menyelamatkan dalam hidup secara imanen. Hidup bergembira dan bersukacita bersama Allah menjadi dasar utama bagi manusia, karena cinta kasih Allah itu selalu mengalir bagaikan sumber air yang hidup. Mengapa demikian? Karena air itu bagaikan rahmat kasih Allah yang terus menggalir dalam diri manusia secara langsung maupun tak langsung sebagaimana yang diharapkan oleh manusia dalam hidup panggilan. Oleh karena itu, hidup merupakan suatu persembahan yang diberikan oleh Allah bagi manusia secara langsung.

Kerendahan Hati

Kehidupan manusia memerlukan sikap kerendahan hati yang penuh bijaksana dalam hidup bersama, karena nilai itu akan membangun suatu persekutuan dan rahmat kasih Allah dalam diri dan ke luar dari dalam diri bagi manusia diantara sesama kita. Persekutuan cinta kasih Allah itu hendaknya terus dijaga dan dirawat sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah bagi kita manusia dan ikut terlibat mengambil bagian dalam mewartaan nilai cinta kasih Allah bersama dengan sesama kita di lingkungan masyarakat dan keluarga kita dengan bersikap rendah hati dan bijaksana.

Hidup itu harus dipersembahkan dengan penuh rendah hati, karena cinta kasih Allah itu menyelamatkan semua manusia. Penyelamatan diri manusia akan nampak ketika manusia berjuang dalam diri Yesus Kristus Sang Sumber kehidupan yang akan membebaskan diri manusia entah langsunng maupun tak langsung sebagaimana yang diharapkan dalam hidup panggilan Allah. Sikap bijkasana dalam hidup membawa kehidupan baru yang diwartakan oleh Allah bagi manusia. Kehidupan membawa perubahan dalam hidup bersama maupun personal menjadi tolak ukur yang mengatur hidup manusia untuk memperoleh keselamatan sejati yang diharapkan oleh diri pribadi maupun semua orang.

Nilai sukacita kasih Allah menjadi dasar bagi kehidupan manusia untuk setia dan bijkasana mempertangungjawabkan nilai-nilai kekudusan dalam memperjuangkan nilai cinta kasih Kristus dalam hidup. Karena nilai cinta kasih itu menghantarkan diri manusia untuk hidup bijaksana dan berjuang mempertemukan persembahan diri yang sesungguhnya dalam membangun sukacita kasih Allah dalam diri manusia itu sendiri. Maka itu, hendaknya kita sendiri juga berusaha untuk mendengarkan tanggapan Allah agar kita yakin bahwa tanggapan Allah itu benar-benar ada dan hidup dalam diri kita dengan apa yang kita harapakan.oleh karena itu, kita harus menyakinkan diri kita agar sungguh-sungguh mendekatkan diri pada Allah.

Setia Pada Nasehat  Injil

Kesetiaan Kristen itu berdasarkan pada kepastian dan harapan kita manusia pada nasehat-nasehat Injil Yesus. Oleh karena itu, melalui pengalaman kita mengetahui bahwa cinta kasih Allah akan mengubah kita menurut Putra-Nya dalam hidup kita. Nasehat Injil itu merupakan Sabda bahagia dan kabar gembira dalam hidup kita, sebagai anugerah dan rahmat kasih Allah yang menyelamatkan kita manusia dengan penuh bijaksana. Kehidupan manusia perlunya kesetiaan pada nilai-nilai Injil yang membebaskan dengan sikap kepekaan diri yang otentik untuk menanggapi panggilan kudus Allah. Setia pada Injil berarti memiliki kepekaan untuk mengartikan hidup dengan penuh dan saling menghargai waktu atas hidup dan  menghargai waktu hidup dengan penuh dan ikut terlibat atas kebaikan-kebaikan Allah yang dialami dan dirasakan selama hidup dengan mempersembahkan diri sepenuhnya pada Allah. Oleh karena itu, pentingnya sikap kepekaan dan kesetiaan dalam diri atas rahmat Allah yang menyelamatkan diri kita dan kebaikan yang dialami dan dirasakan oleh manusia atas anugerah dan rahmat kasih Allah  itu dalam hidup panggilan ini.

Allah mengutus Anak-Nya adalah Injil yang hidup bagi kita manusia dan mempersembahkan diri dan hidup-Nya secara utuh bagi kita manusia. Ia hadir untuk mewartakan dan menyelamatkan karya keselamatan dan kehidupan yang baru untuk manusia. Oleh karena itu, hendaknya kita berjuang bersama untuk mengikuti teladan Allah “Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus”(Fil 2:1-11). Nasehat perikop Injil ini, mau memberikan kepada kita suatu pandangan hidup bagi hidup manusia, untuk belajar rendah hati dan setia pada nasehat-nasehat Injil dalam hidup sehari-hari kita. Untuk memaknai panggilan itu hendaknya memiliki nilai kesetiaan dan tanggunngjawab atas hidup yang diberikan oleh Sang Sumber hidup dalam perjuaagan hidup sehari-hari dengan penuh rendah hati  dan setia. Kesetian itu hendaknya memiliki nilai dan rahmat Ilahi Allah yang sejati dan mengatur kehidupan manusia dengan penuh cinta kasih yang selalu memperjuangkan nilai kebaikan-kebaikan dan rahmat Ilahi yang mengubah hidup manusia dengan penuh Ilahi.

Kehidupan manusia memiliki nilai cinta kasih dan kegembiran bahkan sukacita kasih yang selalu ada dan hidup bersama manusia di lingkungan masyarakat maupun dalamkehidupan keluargadan komunitas yang selalu mempersatukan mereka adalah nilai Injil yang hidup dan melalui Injil mereka dipersatukan sebagai sesama dan diri yang lain. Artinya bahwa nilai cinta kasih dalam hidup menghadirkan kehidupan yang baru, semangat dan keselamatan yang baru, oleh karena itu perlunnya juga bersyukur atas hidup ini.

Mengapa karena kebahagian membawa kehidupan dan keindahan melalui hidup persaudaran, persatuaan dan kekeluargaan demi nilaicinta kasih Yesus Kristus yang penuh Ilahi. Setia pada Injil merupakan persembahan dan pemberiaan diri yang sungguh-sungguh bijaksana dalam hidup. Injil akan hidup ketika manusia itu membangun hidup bersama Injil dan dia akan selalu bahagia, bersukacita, dan setia pada panggilan hidup dengan penuh syukur atas rahmat kasih Allah yang hidup melalui perbuatan baik dalan hidup dengan penuh tekun.Nilai Injil hidup ketika manusia benar-benar memahami sukacita Injil dalam dirinya dan membagikannya kepada sesama manusia melalui cara dan tindakan dengan penuh randah hati dan bertanggungjawab atas cinta dan rahmat kasih Allah itu dalam hidup panggilan.

Kehidupan manusia pada intinya selalu bersyukur atas rahmat dan anugerah kasih Allah yang selalu memberikan kehidupan dan keselamatan bagi kita manusia, untuk memperoleh keselamatan sejati. Artinya bahwa manusia perlunya mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, supaya kehidupan itu dapat berkembang dan bertumbuh sebagaimana yang diharapkan oleh Allah dalam hidup sehari-hari, dengan membagikan sukacita kasih Allah itu dalam hidup dengan penuh setia dan bertanggungjawab atas rahmat kasih Allah itu. Persembahan diri merupakan suatu pemberian diri yang total atas rahmat dan anugerah kasih Allah dengan sungguh-sungguh.

Akhirnya dalam refleksi ini, hidup itu perlu adanya sukacita kasih, damai sejahtera, saling mendukung, menghargai, mencintai sesama sebagai saudara dan saudari, setia pada panggilan Allah dengan penuh rendah hati, bertanggungjawab, berjiwa sosial dan besar hati untuk rela berkorban bagi sesama dengan mempersembahkan diri seutuhnya secara total (totalitas) bagi sesama manusia. Oleh karena itu, kita diajak oleh Allah untuk rendah hati dan setia pada Sang Sabda Ilahi yaitu pada nilai-nilai Injil Kristus yang menyelamatkan dan menghantar kita ke jalan yang benar. Jalan yang benar adalah jalan menuju keselamatan, karena daripada-Nya kita memperoleh kehidupan abadi. Melalui Injil kita diingatkan terus-menerus oleh Allah melalui Putra-Nya dan sesama kita untuk bersukacita dan bergembira bersama dalam Injil, karena Injil Kristus adalah sumber hidup dalam kehidupan kita manusia sehari-hari.