oleh Marselinus Nong Heri

Mahasiswa tingkat III STFT Fajar Timur

Kala Pagi menjelang…

Rayuan angin pun menerjang…

Seraya menghancurkan kerasnya hati…

Bagaikan Rerintik hujan yang terus berjatuhan…

Menindik kerasnya bebatuan

 

Sejauh mata memandang…

Di puncuk bukit yang kian telanjang…

Rasa malu… Malu

Seakan tak punya harga diri…

 

Sunyi…sepi… mencekik ibu pertiwi…

Mata mulai tertutup, hati mulai memandang…

Di atas pundaknya terlihat…

Kabut gelap kian kemari…

 

Terlihat seri wajah yang kian melongo…

Tapi apalah daya, rangkulan tak cukup…

Hati memaksa, merayu Tuhan terus bertanya…

Kapankah sang Fajar Timur terbit?