Photo istimewa Elly D : Para frater Keuskupan Agats-Asmat berpose usai menanggung liturgi pada pembukaan Bulan Kitab Suci di Aula STYB Regio-Papua (Kamis, 01/09/2021)

 

      Oleh: Fr. Siorus Degei

    (Mahasiswa STFT Fajar Timur)

 

Sudah menjadi tradisi Gereja Katolik universal sejak lama bahwa bulan September didedikasikan bagi Perziaraan iman dengan merenungkan Firman Allah yang tertuang dalam naskah Kitab Suci. Setiap kali bulan Sepetember hampir semua umat beriman yang tergabung sebagai anggota resmi Gereja Katolik-Roma meluangkan waktu sengang untuk sejenak bercenkrama dengan pesan-pesan iman yang terilham dalam Kitab Suci. Semua umat katolik diharapkan untuk semakin dekat dengan kitab suci sebagai salah satu sumber iman dan wahyu Ilahi. Sebagaimana perintah seorang penerjemah Kitab Suci yang termasyur dalam sejarah Gereja sepanjang masa St. Hironimus (347-30) Ignaratio Enim Scripturae Ignoratio Christi Est yang berarti Mengabaikan Kitab Suci Berarti Mengabaikan Kristus. Maka bulan September ini sejatinya menjadi kesempatan emas bagi umat beriman untuk lebih mengenal Kristus dengan tekun membaca, merenungkan, menghayati, memahami dan mencintai Kitab Suci.

Di Indonesia bulan Kitab Suci sangat tidak asing lagi di kalangan Gereja Katolik-Roma. Sebab pasti kegiatan-kegiatan lintas iman sudah menjadi program wajib di tiap-tiap Keuskupan, Paroki hingga komunitas-komintas ketegorial seperti KBG, OMK, LEGIO MARIA, KAHRISMATIK, THS/THM, dan lainnya. Program serperti Lombah Baca Kitab Suci, Bertutur Kitab Suci, Pendalaman Kitab Suci, Shering Kitab Suci, Rekoleksi Kitab Suci, dan kegiatan-kegiantan iman yang bernuansa permenungan Kitab Suci lainnya. Bulan Kitab Suci nasional kali ini terjadi saat pandemik Covid-91 menjadi pemburuh berdarah dingin dan telah suskes merajalela di dunia. Inilah potret konteks dunia hari ini. Di Papua ada satu konteks lagi yang tidak bisa dinafihkan, yakni RASISME yang semakin menggurita.

Mari coba kita sama-sama lebih dekat  merenungkan Kitab Suci sesuai konteks kehidupan hari ini. kira-kira bagaimana supaya bulan ini menjadi “Bulan Madu Suci” yang berarti bagi semua orang, terutama saudari-saudara kita yang membutuhkan kita bukan hanya sebagai sesama tetapi lebih daripada itu sebagai seorang sahabat yang sejati. Bahwa jangan kita mengirah kalau Tuhan Yesus itu sendiri yang akan datang menolong kita sebaagai seorang sahabat yang baik hati secara langsung. Kita harus cerdas bahwa Tuhan hanya hadir secara tidak lansung melalui utusan-utusan-Nya, yaitu kita semua sebagai manusia yang mengimani-Nya dan yang telah menyatakan diri sebagai murid-Nya dalam pembaptisan. Maka hadir sebagai sahabat yang baik hati antara satu sama lain, itulah yang perluh kita maknai secara mendalam di bulan Kitab Suci ini sebagai sebuah panggilan khusus dari dari Tuhan sendiri.

 

BULAN KITAB SUCI NASINOAL SEBAGAI ‘’BULAN MADU’’ BERSAMA ‘’KITAB SUCI’’ DALAM TERNG IMAN

Sudah menjadi kebiasan profan asmara umat manusia bahwa setelah saling mengungkapkan janji suci untuk setia sehidup-semati dalam sebuah perkawinan yang sah. Maka biasa kedua pasangan baru memutuskan satu bulan penuh untuk bersama menikmati nuansa-nuansa indah dan manis sebagai sepasang suami-istri yang baru. Agar nuansa semakin berarti dan  Bahagia biasanya keduanya sering mengunjungi destinasi-destinasi wisata yang indah mempesona. Di tempat-tempat indah itu mereka saling memperdalam benih-benih cinta yang telah lama subur dalam hati. Intinya sesuai namanya Bulan Madu, maka wajib hanya kesan dan pesan manis saja yang terukir tidak boleh ada satupun kepahitan yang muncul. Bulan Madu menjadi momentum paling berharga untuk semakim megenal pasangan hidup secara lebih mendalam.

Seumpama lukisan indah tentang bulan madu di atas Gereja Katolik juga mengharapkan hal yang serupa, yaitu agar Masa Sulan kitab suci ini juga dimaknai sebagai BULAN MADU YANG SUCI. Seperti telah disinggung di awal bahwa bulan September adalah bulan yang didedikasikan secara khusus bagi kitab suci. Bulan ini merupakan kesempatan emas bagi seluruh umat Katolik sejagat untuk lebih dalam mengenal dan mencintai Kristus melalaui terang Firman Allah yang termaktub dalam teks-teks Suci, ALLKITAB. Kita sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Penebus, kita juga telah janji untuk setia dengan Iman kita dalam sakramen-sakramen yang kita terima, khususnya dalam setiap janji iman yang kita ungkapakan secara sadar, tahu, dan mau. Maka sangatlah celaka bila semua janji itu kita ingkari lantaran terbius sekularisme, profanisme, materialisme, hedonisme, termpor alisme, yang semuanya hanya bermuara pada nihilsme dan ateisme absilut yang semu, soalnya ini janji kepada Tuhan bukan manusia.

 

PANDEMIK DAN RASISME: KONTEKS PERMENUNGAN KITAB SUCI HARI INI

Secara pararel dan maraton dunia dewasa ini mengalami sekelumit permasalahan yang sebelas-duabelas idealnya,iartinya hamper-hampir sama realitas problem yang dihadapi. Sejak November 2019 lalu bumi disambangi oleh sebuah virus mematikan yang bernama resmi NOVELCORONAVIRUS atau yang sangat familiar dengan sebutan Covid-19. Virus ini tak terlihat rupanya, hanya Mikroskop saja yang mampu mengenalinya lebih dekat. Rumah virus ini ialah udara pernafsan, target empuknya ialah saluran pernafasan manusia. Ia mampu menyebar dan berefolusi secara cepat dalam keramaian dan kerumunan massa. Hanya satu dua jarak seeorang mampu menjadi santapan lezat virus tersebut. Maka tidak heran bila virus ini telah menjadi mesin pembunuh umat manusia yang pernah ada di duania. Sayangnya hingga hari ini belum ada penawar muktahirnya. Hanya tersedia vaksin, namun itu bukan satu-satunya solusi yang harus dipaksakan penguasa menurut sebagian orang yang kontra-Vaksin. Kebijakan-kebijakan pendukung juga telah dikeluarkan pemerintah namun tetap saja sulit meredam bara Covid. Inilah sedikit konteks dunia hari ini, memang tidak semua, karena ada juga negara yang berhasil keluar dari rancau penyebaran dan penularan Covid, namun Indonesia masih masuk dalam kategori negara yang masih berperang melawan Covid yang sudah berumur dua tahun lebih.

Selain pandemik Covid yang membombardermen tatanan kehidupan bermasyarakat di Indonesia, di Papua, terlebih khusus petugas Gereja; Imam, Diakon, Frater, Biarawan/I, Para Katekis, Guru Agama, dan petugas pastoral lainnya kita juga jangan menutup mata dan hati terhadap pro blem-problem kemansiaan yang sedang terjadi di Papua, terlebih khusus Rasisme yang pecah 2019 silam getahnya hinngga hari ini belum usai secara final. Hal ini sangat terlihat jelas dalam kasus VIKTOR YEIMO. Juga rencana ekspliotasi sawit illegal di Sorong.

Rasisme terhedap orang asli Papua atau Papua-Fobia itu sejatinya bukanlah hal yang baru melainkan sudah sangat lazim sekali terjadi, bahkan bagian dari mental bangsa ini menurut Natalius Pigai seorang Aktivis HAM asal Papua dalam sebuah wawancara di salah satu akun You tube Macan Idelalis. Hanya saja peristiwa Surabaya lalu itu menjadi pemicuh atau puncak gunung es yang meledak. Sehinggah getarannya dirasakan juga hingga ke negara-negara barat, apalagi dalam negara sendiri.

Tema bulan Kitab Suci Nasional yang diangkat kali ini menarik sekali dan menjawab kegundahan konteks hari ini, “Yesus Sahabat Seperjalanan Kita” dengan inspirasi Suci dari Mat. 14: 27, yakni “ Tenanglah Aku Ini, Jangan Takut” Tema besar ini hendak menegaskan bahwa Tuhan selalu bersama kita di tengah krisis pandemik Covid dan reserse ekonomi yang kritis. Di tengah gelombang rasisme di Papua Tuhan juga hadir bersama orang asli Papua sebagai seorang sahabat yang senantiasa solider, hal ini termanivestasi dalam diri para aktivis HAM yang senantiasa menjadi Nabi bagi OAP. Intinya tetap tenang, berserah diri sepenuhnya pada penyelengaraan Ilahi, dan pantang takut. Sekarang mari kita lihat sama-sama esensi dan subtansi Yesus Sebagai Sahabat Seperjanan Kita secara singkat berdasar inspisarasi Suci dari Injil Matius;

  1. Yesus mau kita tenang, tidak gegabah dan lengah, apalagi lemah dengan situasi dan kondisi dunia yang semakin hari semakin buruk, parah, rawan dan rentan dengan hadirnya Covid-19 varian baru yang ekskalasi kematiaannya duakalipat berbaha dari varian sebelumnya. Di samping itu krisis ekonomi juga semakin meroket akibat hutan pemerintah selama masa pandemik.
  2. Bagi orang asli Papua yang mengalami perlakuan rasisme secara tidak adil, Tuhan juga mau agar kita tenang dalam merespons semua perlakuanketidakadilan dan ketidakbenaranAk tersebut dengan kepala dingin tanpa emosi berlebihan, dengan hati hening sehingg tindakan-tindakan yang kita lakukan bermuatan positif dan solutif.
  3. Sebagai sahabat baik Tuhan akan hadir dan berjalan bersama kita. Di tengah pandemic dan krisisnya Tuhan telah melalui para kenaga medis dan Satgas covid-19 yang hari-harinya senantiasa tampil sebagai pahlawan, mereka itu merupakan manivestasi cinta kasih Allah yang konkrit, mereka relah mati demi meyelamatakan sesame persik sperti apa yang dibuat Kristus di Salib.
  4. Krisis ekonomi akan membaik jika prinsip dasar ilmu ekonomi Prundential Principal atau prisnsip kehati-hatian dipegang teguh oleh semua pemgelolha keuangan mulai produksi-penguasa himgga konsumen-rakyat kecil. Apalagi jika prinsip ini ditopang oleh pilar Bonune Comune dan aksi anti KKN, sudah barangpasti semua Pr keunagan bangsa dapat dengan cepat teratasi.
  5. Yesus mau agar semua orang asli Papua tidak takut, tidak diam terhadap perlakuaan rasisme yang terancan secara sistematik, terstuktur,rahasia, metodis, massif dan aktif, melainkan berani dalam menyuarahkan kebenaran dan keadilan demi sebuah kedamaian. Bulan kitab suci ini bersama Yesus Sang Sahabat Sejati OAP harus sadar bahwa mereka tidak sendiri dalam perjalanan dan perjuangan menciptakan PAPUA TANAH DAMAI.
  6. Sudah saatnya petugas medis dan satgas covid hadir layaknya seorang sahbat yang hadir di kala sahabat-sahabat karibnya alami krisis, jangan situasi pandemik yang semuanya bergantung pada dunia kesehatan dijadikan kesempatan bisnis gelap. Sudah saatnya Vaksin itu tidak dipaksan kepada public akar rumput dengan pedekatan kekang melainkan mesti dilakukan secara mansiwai sebagai sahabat yang baik hati sebagimana teladan Kristus Sahabat Sejati.
  7. Sudah saatnya semua elemen masyarakat serta pemerintah saling bergandengan tangan dalam menciptakan PAPUA TANAH DAMAI, Jaringan Damai Papua harus cepat mencari dan menemukan suatu konsep jalan tengah atas ragam konflik di tanah Papua khsusnya RASISME DAN TAMBANG ILEGAL. Konkretnya ada dua kasus yang dapat dicari jalan tengahnya dalam waktu dekat ini yakni KASUS VIKTOR YEIMO DAN KASUS SAWIT DI SORONG.
  8. Dan yang terakhir para petugas baik imam maupun awam harus memaanfaatkan Bulan Kitab Suci ini sebagai momeng strategis untunk membangun kesadaraan umat prihal bahayanya Pandemik Covid-19, khsusnya varian Covid yang terbaru, juga pentingnya Protokol Kesehatan. Selain itu realitas RASISME juga harus menjadi satu fokus bersama, jangan mengirah itu ranah politik bukan pastoral-kontekstual, sebab anggapan ini sangat salah kaprah dan merupakan sebuah Pseudo-Pastoral belaka.

Akhirnya, dengan demikian Yesus sedari dulu sudah menetapkan dan menyapa kita bukan lagi sebagai hamba melainkan sebagai seorang sahabat. Sebab apa yang Ia ketahui itulah yang Ia wartakan kepada secara loyal total dan penuh passion. Dan yang perluh diingat selaluh adalah bahwa sebagai seorang sahabat yang baik hati Yesus senantiasa bersama kita para sahabatnya baik dalam suka maupun dalam duka. Bulan Kitab Suci merupakan suatu moment paling terbaik untuk membedah soal-soal hidup yang rumit dengan kaca mata “Firman Allah” yang jernih. Harapannyan semoga berkat sabda Allah yang kita cerna selama sebulan ini membuahkan hasil yang manis, yakni “KEMERDEKAAN DARI PANDEMIK COVID-21 DAN RASISME TERSTRUKTUR” (*)

Editor: Erick Bitdana