Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Ketika diskusi dengan orang-orang Farisi, Kristus menekankan pentingnya memahami rencana awal Allah terkait hubungan seksual. Sedangkan dalam diskusi dengan orang-orang Saduki, Kristus menunjukkan dimensi yang sama sekali baru terkait seksualitas manusia. Dalam Matius 22:30 dikatakan demikian, pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Kata-kata Kristus tersebut menjadi dasar refleksi Yohanes Paulus II mengenai nasib laki-laki dan perempuan.

Kata-kata Kristus menunjuk pada puncak kemuliaan, di mana perkawinan menandakan persatuan antara Kristus dan Gereja (Ef 5:31-32). Sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus II, perkawinan tidak mengungkapkan secara definitif makna terdalam dari seksualitas, tetapi hanya memberikan ekspresi konkret dari makna tersebut dalam sejarah. Pada akhir sejarah, ekspresi seksualitas historis membuka jalan bagi persekutuan yang memberi kehidupan.

Selama berabad-abad, ada dua aliran pemikiran mengenai perkawinan. Sebagian besar teolog menganggap perkawinan sebagai pertukaran sumpah atau persetujuan perkawinan (marital consent). Sedangkan yang lain mengajarkan bahwa kesempurnaan perkawinan terjadi dalam hubungan seksual. Kedua pandangan tersebut dirangkum dalam hukum Gereja, di mana persetujuan merupakan penyebab efektif perkawinan. Terkait hal ini, perkawinan antara laki-laki yang dibaptis dan perempuan yang juga dibaptis membuat perkawinan tersebut secara intrinsik serta ekstrinsik tidak dapat dipisahkan.

Setiap sakramen memiliki tanda fisik yang mengkomunikasikan realitas rohani. Menurut Yohanes Paulus II, tanda sakramental perkawinan terdiri dari pertukaran persetujuan, disempurnakan dalam hubungan seksual, dan suami serta istri berjuang seumur hidup. Terkait hal ini, persetujuan perkawinan dinyatakan di dalam dan melalui tubuh. Yohanes Paulus II meyakini bahwa tubuh menandakan misteri kekekalan Allah. Hanya dalam konteks ini kita dapat memahami perkawinan sebagai tanda sakramental.

Kebanyakan pasangan suami dan istri yang menggunakan kontrasepsi tidak menyadari bahwa tindakan tersebut dapat merusak hubungan mereka. Penyebab peningkatan perceraian salah satunya bertepatan dengan penerimaan dan praktik kontrasepsi. Perlu diketahui bahwa hubungan seksual dimaksudkan untuk memperbaharui dan mengungkapkan janji perkawinan, bukan sekadar sarana memanjakan nafsu. Yohanes Paulus II mengingatkan bahwa hubungan seksual antara suami dan istri mengandung makna bahasa tubuh yang harus dibaca kembali dengan benar.

Sumber Bacaan:

Paul II, John. Theology of the Body: The Redemption of the Body and Sacramentality of Marriage. Vatican: Libreria Edritice Vaticana, 2015.

West, Christopher. Theology of the Body for Beginners: A Basic Introduction to Pope John Paul II’s Sexual Revolution. USA: Ascension Press, 2009.