Kritik Terhadap Atheisme Baru

Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Perlu diketahui bahwa ateisme mengalami perubahan menuju saintisme. Terkait hal ini, akan ditunjukkan empat kritik terhadap ateisme baru. Pertama, saintisme secara filosofis tidak sehat. Hal ini terlihat dari tindakan saintis memperluas jangkauan sains ke ranah yang bukan miliknya atau sekadar memainkan peran pendukung. Selain itu, sains dan filsafat mempunyai peran penting bagi ateisme. Sehingga tindakan ateis baru memisahkan secara tegas antara sains dan filsafat tidak tepat. Karena cara kerja sains tidak terbatas pada observasi atau eksperimen.

Ateis baru mempunyai kecenderungan memperluas definisi sains sebagai fakta (facts) yang dipahami secara longgar. Akibatnya konsep sains kehilangan makna dan tidak dapat dibedakan dari aktivitas manusia lainnya. Seseorang mungkin juga mendefinisikan filsafat (philosophy) sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan pemikiran. Kemudian membuat klaim bahwa segala sesuatu yang dilakukannya termasuk sains adalah milik filsafat.

Kedua, saintisme merugikan sains dalam dua hal. Pertama, secara internal merugikan disiplin ilmu itu sendiri. Kedua, secara eksternal merusak pemahaman publik dan reputasi sains. Misalnya, keterlibatan Amerika dalam perang budaya bersama negara-negara Barat. Terkait hal ini, para ilmuwan memeroleh rasa hormat yang sangat tinggi dari masyarakat Amerika. Namun, gagasan ilmiah tertentu seperti evolusi dan perubahan iklim diserang serta ditolak oleh setengah dari populasi penduduk Amerika.

Ketiga, saintisme merugikan ateisme. Saintis tidak banyak membantu ateisme sebagai posisi filosofis. Namun, ateisme dinilai rasional apabila sains berhasil menjelaskan sifat dunia dalam istilah naturalistik. Perlu diketahui bahwa tujuan ateis baru adalah menggantikan filsafat dengan sains. Hal ini membuat ateis baru kehilangan sejumlah dasar intelektual yang bertumbuh dan berkembang sejak periode Yunani kuno.

Ateis baru harus mempertimbangkan kembali secara serius bagaimana mereka memikirkan pengetahuan secara umum. Hal ini dapat ditempuh dengan kembali ke konsep klasik dalam bahasa Latin scientia yang berarti pengetahuan (knowledge). Scientia mencakup sains sensu stricto, filsafat, matematika, dan logika yang merupakan sumber pengetahuan manusia yang andal. Ketika scientia digabungkan dengan disiplin ilmu humanistik akan menghasilkan suatu pemahaman (understanding).

Pada dasarnya tidak tepat apabila gerakan ateis sepenuhnya beralih ke arah sains dengan mengorbankan segala sesuatu yang lain. Ateis baru harus memeluk semua bidang intelektual dan pengalaman yang bervariasi di mana manusia memeroleh pengetahuan. Selain itu, ateis baru harus menumbuhkan rasa hormat dan kerja sama dengan disiplin ilmu lainnya.

Keempat, menurut Victor J. Stenger, ateis baru sekadar mengatakan bahwa Allah tidak ada. Sehingga secara ilmiah argumen ateis baru rapuh. Terkait hal ini, Stenger menguraikan delapan argumen ilmiah untuk membuktikan bahwa Allah tidak ada. Pertama, kosmologi tidak mempunyai bukti mengenai Allah yang menciptakan alam semesta. Dewasa ini teori kosmologi menegaskan bahwa alam semesta hanyalah salah satu dari alam semesta lain yang jumlahnya tidak terbatas di multiverse yang selalu ada. Selain itu, tidak pernah ada penciptaan.

Kedua, tidak ada bukti bahwa Allah bertanggung jawab atas struktur kompleks dunia. Pengetahuan kosmologis menunjukkan bahwa alam semesta dimulai dengan entropi yang maksimum, yaitu kekacauan total dengan ketiadaan struktur. Ketiga, tidak ada bukti bahwa Allah memberi manusia jiwa yang kekal. Selain itu, tidak ada bukti mengenai adanya kehidupan setelah kematian. Bahkan fakta empiris menunjukkan bahwa proses fisik murni menentukan ingatan, pikiran, dan kepribadian manusia.

Keempat, tidak ada bukti bahwa Allah secara personal berinteraksi dengan manusia melalui wahyu sebagaimana tercatat dalam Kitab Suci. Mukjizat yang diklaim dalam Kitab Suci bertentangan dengan kurangnya bukti independen bahwa mukjizat tersebut terjadi. Bukti arkeologis memerlihatkan bahwa sejumlah narasi Kitab Suci seperti kerajaan Daud dan Salomo yang megah tidak pernah ada. Kelima, harus dipertanyakan dari sekian banyak doa yang disampaikan, berapa jumlah doa yang dikabulkan.

Keenam, jika manusia diciptakan sebagai citra Allah, maka seharusnya manusia mempunyai kekuatan yang sama hebatnya dengan Allah. Realitas menunjukkan bahwa manusia terkurung pada setitik debu kosmos yang sangat luas dan tidak dapat bertahan hidup di tempat yang berada di luar jangkauan. Ketujuh, tidak ada bukti bahwa dalam pengalaman keagamaan manusia berkomunikasi langsung dengan Allah.

Kedelapan, jika Allah adalah sumber moralitas dan etika, maka harus ada bukti bahwa wahyu serta agama merupakan sumber moralitas dan etika yang unggul serta tidak berubah. Namun, sejarah dan antropologi menunjukkan bahwa moralitas dan etika tumbuh dari kontak sosial serta kebutuhan untuk hidup dalam harmoni. Pernyataan moral agama lebih sering menjadi penghalang untuk perbaikan. Bahkan orang beriman yang taat memilih sendiri apa yang baik serta apa yang buruk.

Sumber Bacaan:

Law, Stephen. “Science, Reason, and Scepticism.” Dalam Andrew Capson dan A.C. Grayling (editor). The Willey Blackwell Handbook of Humanism. Chichester: John Wiley & Sons, 2015, hlm. 55-71.

Pigliucci, Massimo. “New Atheism and the Scientific Turn in the Atheism Movement.” Midwest Studies in Philosophy. Vol. XXXVII (2013), hlm. 142-153.

Stenger, Victor J. “A Defense of New Atheism: A Reply to Massimo Pigliucci.” Science, Religion & Culture. Vol. 1, No. 1 (2014), hlm. 4-9.