BANGSA PAPUA LAHIR BARU DALAM TUHAN MELALUI DOA PUASA MELALUI 40 HARI-40 MALAM SERENTAK


(Antara Minggu 04 April 2021, Jam 12 Siang sampai degan Jumat 14 Mei 2021 Jam 12.00 Siang).

Thema: PULIHKANLAH KEADAAN KAMI,YATUHAN.Mazmur,126: 4; 80:19).

JAYAPURA-SUARA-FAJAR TIMUR. COM. Kordinator Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDRP 2), Selipous Bobi, mendeklarasikan Doa Rekonsiliasi untuk ‘Pemuliha Bangsa Papua’. Deklarasi ini disampaikan dalam jumpa pers pada Jumat, 26 Maret 2021 dalam oktaf masa Prapaskah, Jalan Salib Yesus. Di Sekertariat JDRP 2 di Jl. Yakonde, Padang Bulang, Port Numbay-West Papua.

Doa rekonsiliasi ini dilakukan untuk pemulihan keretakan relasi manusia dengan sesama alam (leuhur), dan relasi manusia dengan Allah. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak pasti dan merusak masa depan dan citra diri bangsa (Papua). Kita melakukan semua ini, meningdaklanjuti pesan Tuhan. Rencana-Nya. Semua menggenapinya pada waktu-Nya.

Di dalam kegiatan doa ini tidak ada kepentingan apa pun selain pemulihan bangsa Papua (Bobi, memberi pemahaman). Doa ini dilakukan berdasarkan perintah Tuhan bukan kehendak manusia. Kini saat-Nya, memulihkan bangsa Papua. Tuhan mau bangsa Papua memulai dengan pemulihan diri secara bersama seluruh bangsa Papua. (Pungkasnya).

Isi Deklarasi Doa Rekonsiliasi Untuk Pemulihan Papua (JDRP 2)

Sesungguhnya manusia adalah gambaran Allah yang kelihatan di bumi (Kej. 1:27). Manusia berkodrat luhur, suci dan mulia. Namun, Ketika kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) ke dalam Dosa, manusia yang berkodrat asali: Luhur, suci dan mulia itu, dikotori atau di nodai, sehingga kemuliaan Allah hilang dari hadapan manusia. Untuk memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah yang sudah lama terputus, maka, Allah membangun hubungan dengan Nabi Abraham, untuk mempersiapkan jalan bagi kedatanagan Yesus sebagai Adam baru yang menjadi Tuhan, dan Juru selamat umat Manusia. Dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia, telah melakukan berbagai macam dan bentuk pelanggaran kejahatan terhadap insan manusia, yang adalah segambar dan serupa dengan Allah itu. Beragam kejahatan melanda dunia mengakibatkan manusia bersimpah darah. Dalam perjalanan sejarah dunia, lebih khusus lagi dalam perjalanan hidup bangsa Papua, manusia Papua tidak dihargai dan dihormati sebagai insane manusia. Kejahatan kemanusiaan kepada bangsa Papua berawal dari Aneksasi Bangsa Papua ke dalam NKRI secara sepihak, untuk menjajah dan menjarah.

Bahwa untuk memulihkan kembalai Hak Asasi Manusia Papua dalam segala bidang kehidupan, termasuk hak politik “Penentuaan Nasib Sendiri sebagai sebuah bangsa dan untuk memulihkan hubungan yang rusak dengan sesama, manusia dengan Alam lingkungan (termasuk leluhur) dan memulihkan kembali hubungan dengan Allah tritunggal. Maka pada 21 Maret 2021, Tuhan melalui abdi-Nya memerintahkan kepada bangsa Papua, mengambil masa perkabungan Nasional, selama 40 hari 40 malam untuk membayar harga untuk membayar harga, kemerdekaan Papua secara jasmani dan rohani. Masa tenang 40 hari dan 40 malam ini, harus dijalankan oleh setiap orang asli Papua di mana saja berada untuk memulihkan diri: BERTOBAT, BERDAMAI DAN BESATU dalam kehendak Tuhan menuju zaman bahagia Papua.

Bahwa sesuai petunjuk dari Tuhan, melalui Roh Kudus, Doa Kuasa 40 Hari 40 Malam itu dilakukan antara 4 April sampai dengan 14 Mei 2021, dengan mengikuti ketentuaan yang telah ditentukan Tuhan melalui penglihatan berikut ini: Doa puasa dibuka pada jam 12 Siang dan 12 malam (Artinya jam makan minum secukupnya pada Jam 12 Siang maupun malam); sedangkan jam-jam Doa Khsusu adalah Jam 12 sinag dan 12 malam, Jam 06 pagi dan 06 sore, Jam 03 Sore dan subuh, Jam 09 dan 09 malam, Nast Kitab Suci (Matius 11:2-11; Yunus 03, 01-10, Yesaya, 01:18). Selama masa puasa menahan emosi, jauhi perbuatan jahat, fokus kepada Tuhan, boleh beraktifitas tetapi tidak melalukan pekerjaan berat yang mengganggu konsentrasi pemulihan diri menuju pemulihan bangsa Papua. Bagi yang memandang remeh puasa ini akan diremehkan juga oleh Tuhan pada waktu-Nya. Bagi yang tidak serius Doa Puasa dan tidak bertobat, tidak akan diberi kesempatan masuk ke Tanah Suci Papua.
Demikian ‘deklarasi’ ini, Kami keluarkan untuk diketahui dan harus dilaksanakan oleh Orang Asli Papua (OAP) dimana saja anda berada. Doa puasa ini juga harus dilaksanakan oleh Non Kristen, khususnya Orang Asli Papua.Pembukaan puasa akan dipimpin oleh para hamba-Nya). Ada tertuis: Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah (Luk 18:27). Jika, Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31).

Pada akhir deklarasi, Bobi membohon supaya berita paling penting ini disebarluaskan kepada kepada seluruh Orang Asli Papua (OAP) sampai di kampung-kampung terpencil di tanah Papua dan dirantauan di mana Orang Alsi Papua berada. “Siapa bertelinga, Hendaklah ia mendengarkan… “Wahyu 2:07).

Reporter: Petrus Odihaypai Boga.
Publisher: Antonius Tebai