JAYAPURA-SUARA FAJAR TIMUR.COM. Dalam rangka menyongsong pesta Paskah yang tidak lama lagi dirayakan, maka Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru Regio-Papua sebagai calon imam guna mengikuti ret-ret Agung 40 hari 40 malam sebagai murid-murid Yesus. Berdasar juga pada agenda Bulanan Seminari Tinggi, kembali melakukan rekoleksi menyongsong Paskah 2021 dengan tema yang disodorkan ialah Beriman dan Bersolider. Tema ini didasarkan pada Surat Aksi Puasa Pembangunan KWI tahun 2021, SEMAKIN BERIMAN, SEMAKIN BERSOLDIER. Berdasarkan tema tersebut, rekoleksi dilangsungkan dalam dua hari (Sabtu-Minggu, 21/03/2021).

Prapaskah tahun 2021 dibuka dengan perayaan Rabu Abu yang dirayakan pada tanggal 17 Februari 2021 Februari. Dalam masa Prapaskah ini, seluruh umat beriman diundang untuk mempersiapkan diri selama 40 hari agar pantas merayakan Paskah Tuhan yang akan dirayakan pada tanggal 4 April 2021.

Konstitusi Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, menegaskan, masa Prapaskah menjadi kesempatan yang baik bagi seluruh umat beriman kristiani untuk mengenang kembali atau mempersiapkan Baptis serta untuk membina pertobatan (SC. No.109).

Lebih lanjut, Konstitusi Liturgi Suci mengingatkan agar upaya pertobatan tidak hanya bersifat batin dan perorangan, namun juga bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan (SC. No. 110). Pertobatan yang diupayakan selama masa Prapaskah diharapkan tidak hanya berdaya ubah bagi diri pribadi, namun juga berdaya ubah bagi masyarakat dan membawa relasi sosial ke arah yang lebih baik.

Dalam kesadaran akan situasi saat ini, Konferensi Wali Gereja Indonesia mengangkat tema APP Nasional 2021, yaitu “Semakin Beriman Semakin Solider (Membangun Ekonomi Solidaritas)”. Melalui tema ini, KWI mengingatkan seluruh umat beriman katolik di Indonesia bahwa solidaritas tidak dapat dipisahkan dari cinta kasih, yang merupakan keutamaan dasar murid-murid Kristus (bdk. Yoh 13.35). Hanya dalam keutamaan kasih itulah, setiap murid Kristus dapat menghayati semangat pengorbanan, mewujudkan solidaritas dan turut membangun dunia menjadi semakin manusiawi.

Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan salah satu wujud gerakan tobat selama masa Prapaskah. Melalui gerakan APP, umat beriman berlatih membina pertobatan dalam kemerdekaan batin masing-masing: menyadari dan berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, bermatiraga dengan puasa dan pantang, berusaha tekun dan setia dalam doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti ekaristi, menyesali dosa dan menyambut sakramen tobat (pengakuan dosa), memperdalam khazanah iman melalui aneka katekese, dan belajar memperhatikan dan solider dengan sesama yang membutuhkan dalam ketulusan hati anak-anak Tuhan.

Sebagai pengikut Kristus, seluruh umat beriman dipersatukan dalam satu komunitas kasih murid-murid Kristus. “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19-20), motto STFT sekaligus sebagai cita-cita hidup bersama, mengundang seluruh umat, bahkan seluruh bangsa untuk mewujudkan diri sebagai persekutuan murid Kristus, dalam bimbingan Roh Kudus, bertekad semakin erat bersatu dengan Kristus, berbuah dalam hidup (lih. Yoh 15:1-17), dan bersama masyarakat memperjuangkan hidup yang sejahtera dan bermartabat demi terwujudnya peradaban kasih, tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Cita-cita bersama ini juga menjadi semangat dasar bagi kita dalam ber-APP di tengah situasi masyarakat yang masih harus berjuang dalam segala aspek kehidupan: ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan, dlsbnya. Situasi masyarakat saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mewujudkan tatanan hidup baru yang diwarnai oleh solidaritas sosial demi terwujudnya kesejahteraan yang menyeluruh, demokrasi yang berkeadilan, dan relasi sosial yang bermartabat. Solidaritas sosial yang telah menjadi warisan dan identitas bangsa memanggil kita semua untuk terlibat dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi yang berkeadilan. Dalam semangat kebersamaan, kita diundang untuk memperhatikan kesejahteraan bagi semua orang, terutama mereka yang miskin dan mengalami dampak buruk akibat bencana, baik bencana alam maupun karena penyakit, seperti pandemi Covid-19, yang menderita karena situasi keamanan yang tidak kondusif, seperti Intan Jaya, Nduga, dll.

Semangat solidaritas murid-murid Kristus semestinya ditimba dari solidaritas Allah yang telah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan manusia. Yesus Kristus adalah wajah Allah yang Maharahim, Mahakasih, “dengan kata-kata-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan seluruh pribadi-Nya[1]menyatakan kerahiman Allah” (Misericordiae Vultus, no 1). Setiap pribadi mengemban tugas, amanat, dan tanggungjawab mengembangkan hidup bersama sebagai wujud nyata keterlibatan pada rencana dan program Allah untuk mewujudkan keselamatan dan damai sejahtera bagi dunia. Semakin beriman seharusnya semakin solider. Semakin seperti Yesus yang terus “berkeliling sambil berbuat baik” (Kis 10:38), semakin melayani sesama, terutama sesame yang amat membutuhkan (lihat Yak. 2:14-17).

Kita patut bersyukur atas panggilan dan perutusan kita untuk menghadirkan karya belas kasih Allah bagi semua orang dan segala ciptaan. Hidup sebagai murid Kristus tidak cukup hanya diisi dengan kesalehan doa, namun terungkap dalam cara hidup, cara berpikir, cara merasa, cara bertindak, dan cara memperlakukan sesama sebagai buah rahmat persatuan dengan Kristus, Sang Pokok Anggur sejati. Dari persatuan erat itulah, rahmat Allah senantiasa menghidupkan dan menguduskan, serta mengobarkan semangat kita sebagai ranting-rantingNya untuk menghasilkan buah yang baik dan bermanfaat bagi semakin banyak orang. Buah-buah baik dari hidup kita inilah yang diharapkan Tuhan dan dinantikan oleh orang-orang di sekitar kita.

Berkaitan dengan Gerakan APP, adalah penting bagi kita untuk kembali mengingat bahwa ber-APP bukanlah sekedar berpantang dan berpuasa sesuai dengan tradisi Gereja, namun menjadi sarana bagi kita untuk lebih sungguh berproses dalam membangun diri dalam keutamaan dan kepedulian terhadap sesama. Begitu pula dengan berpantang dan berpuasa, bukan sekedar menahan nafsu makan dan menjadi ritual selama masa prapaskah, tetapi membuka kesempatan bagi kita untuk lebih sungguh belajar bermatiraga dan berbagi.

Mari kita berusaha di tengah keterbatasan kita, menjadikan masa Prapaskah tahun ini sebagai kesempatan yang berharga untuk bertumbuh sebagai murid-murid Kristus yang sejati, yang sungguh mengalami pertobatan dan mensyukuri rahmat keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan.
Semoga kesempatan berekoleksi ini dapat membantu kita dalam membina pertobatan dan bertumbuh dalam keutamaan hidup sebagai murid-murid Yesus Kristus, terutama dalam keutamaan kasih dan solidaritas terhadap sesama yang membutuhkan. Hidup kita semakin menampilkan wajah Allah yang Maharahim, Mahakasih seperti tampak dalam diri Yesus Kristus yang adalah Guru dan Tuhan kita.

Rekoleksi ini dibawakan oleh RP. Gabriel Ngga, OFM (Profinsial Fransiskan di Papua) bertempat di Aula St. Yosef di lingkungan Seminari Tinggi.

Editor: Erick Bitdana