Refleksi teologis terhadap Krisis Makna Mimpi Dibalik Kehidupan Modernitas di Papua

(*Oleh: Marselino Pigai

Kali ini, penulis diajak menulis sebuah tulisan simpel mengenai makna mimpi. Tulisan ini bersifat reflektif teologi yang mencoba eksplorasi makna mimpi yang menurut penulis sedang mengalami degradasi makna mimpi yang sesungguhnya jika dikaitkan dengan realita saat ini. Sehingga dengan ini, menguraikan tentang mimpi melalui bacaan Injil harian yang disapa sebagai suatu inspirasi makna hidup. Tentu dalam tulisan ini bukan menulis semata seorang kaum awam yang bekerja di altar dan tidak juga teori teologi yang digagas tetapi sebagai pengikut Kristus yang suka merefleksi hidup sehingga buah-buah refleksi melalui tuntunan ayat-ayat kita suci terutama bacaan Injil harian yang dikutip inilah yang hendak dituliskan.

Dalam kehidupan manusia senantiasa mengalami mimpi dalam suasana ketiduran. Saat tubuh dalam keadaan stagnan sementara jiwa dan roh yang beraksi atau melakukan sebuah proses aktifitas tanpa melibatkan bagian Kerja tubu secara aktif. Artinya sekalipun tubuh adalah bagian kesatuan dan jiwa dan roh tetapi dalam suasana ketiduran tubuh tetap dalam posisi diam sementara jiwa dan roh menyatu dan melangsungkan aktivitas di dalam alam misteri atau dunia ilusi.

Konsep mengenai mimpi paling banyak dikemukakan oleh pemikiran-pemikir atau konseptor mimpi barangkali yang menyatu dengan epistemologi psikologi atau pun lainnya yang sangat bervariatif. Tetapi dalam tulisan simpel ini, bahwasanya melihat mimpi dari sebuah refleksi renungan yang datang melalui paradigma kita suci. Perlu diingat bahwa bukan renungan atau kotbah yang menarik banyak benang merah tetap cukup satu benang merah yakin mimpi. Fokus mimpi adalah Interpretasi mimpi dan suasana yang tergambar melalui mimpi yang menarik dari Injil Kristus yang tertulis dalam percakapan berikut ini.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Bdk. Mat 1:20-21).

Tentu ada gambaran mengenai apa arti sebuah mimpi yang datang dalam ketiduran. Sehingga paling tidak mimpi adalah sebuah komunikasi roh di alam bawah sadar atau suasana yang misteri. Artinya mimpi adalah percakapan yang terjadi antara dalam dunia misteri. Tetapi kemudian, percakapan itu terwujud dalam dunia misteri, kemudian terjadi secara nyata dalam dunia yang konkrit. Sehingga mimpi yang terjadi bahwasanya memberikan sebuah suara peringatan dalam suasana ketiduran yang kenyataannya akan kita alami.

Kontekstualisasi mimpi ini dengan makna mimpi dalam kehidupan manusia universal, manusia Papua terutama lagi mimpi yang dipandang dari konteks teologi berbasis kultural sangat relevan berdasarkan history the life of Papuans, misalnya suka Mee (perwakilan suku yang penulis kenal dan tahu betul tentang mimpi dari orang tua serta juga sebagai anak suka Mee). Suku Mee mengenal arti dan makna mimpi sebelum para pendatang menduduki dan mengakses sembari menyebarkan ideologi-ideologi yang didatangi belakang ini, terutama agama dan pemerintahan yang membuka berbagai pengaruh lainnya.

Artikulasi dan interpretasi makna mimpi dalam ketiduran dari paradigma teologis modern (agama Kristen) dan teologi tradisional (sistem religi) dalam kehidupan suku Mee memiliki perspektif yang similar. Persisnya pandangan teologis seperti yang tergambar dalam cerita mimpi Yusuf yang saat itu didatangi oleh malaikat yang bercakap-bercakap dalam mimpi dimaknai sama dengan orang tua sebelumnya memaknai mimpi yang datang dalam kehidupan mereka saat-saat yang krusial dan situasi yang problematis. Ungkapan kehadiran roh Kudus dalam pribadi manusia yang sedang dalam masalah yang dibutuhkan bantuan ilahiah.

Bahkan lebih uniknya lagi dalam kehidupan Suku Mee dahulu sekitar di bawah tahun 1990-an ke bawa (saya memisahkan waktu ini karena penjelasan pengaruhnya lebih kuat dan cepat bersamaan dengan perkembangan bisnis yang akan dibahas di bawah) adalah setiap generasi muda terutama di bawah umur 17 tahun setiap mimpi tidak bisa diartikan ataupun menerjemahkan.

Akan tetapi menurut teologi tradisional suku Mee mengenal, mimpi pertama yang harus dimaknai dan interpretasi adalah mulai atau umur 17 tahun. Tidak bisa tidak, pada tahun ini juga akan dimimpikan oleh seorang remaja lelaki ataupun wanita sebagai mimpi pembuka segalanya yang akan terjadi bagi remaja tersebut. Remaja itu melihat tentang semua yang menyangkut kehidupan anak remaja lelaki ataupun wanita yang akan menghadapi selanjutnya.

Bahkan mereka (remaja yang bermimpi pertama) bermimpi tunangannya atau pengantin wanita ataupun pria yang akan jadi pasangan hidupnya termasuk mereka melihat juga anak-anak yang akan dimiliki melalui relasi keluarga. Selain itu, mereka juga melihat dan mengenal waktu kematian mereka ke depan yang akan mereka hadapi. Sehingga mereka tahu betul bagaimana kehidupan yang akan terjadi hingga kematian mereka di bumi ini. Terlepas dari mimpi dengan segala sesuatu yang akan terjadi, mereka juga bermimpi tentang alam atau sesuatu penunggu yang bertempat disekitar rumah ataupun jauh dari rumah alias tempat lainnya. Sehingga mereka tahu betul tentang apa yang akan terjadi dan siapa yang sedang berada di sekitar mereka dalam dunia abstrak.

Keadaan demikian, menggambarkan bahwa mimpi memberikan peringatan dan gambaran kehidupan dalam dunia misteri atau abstrak sebagai ungkapan roh yang mau menunjukkan jalan kehidupan yang akan dihadapi selanjutnya oleh manusia. Seperti juga tergambar dalam perjalanan hidup St. Yusuf selama mendampingi St. Maria yang saat itu, mereka (Yusuf, Maria dan Yesus dalam kandungan hingga muda yakni kematian Herodes) hidup dalam situasi yang sangat tegang karena diburu raja Herodes untuk membunuh Yesus. Mereka menjalani hidup menurut keterangan mimpi yang disampaikan malaikat kepada St. Yusuf melalui mimpi.

Namun makna mimpi yang ditafsirkan dewasa ini berbeda. Mimpi dahulu semenjak (kira-kira) tahun 1990-an kebawah adalah dianalisis mengenai hidup mereka. Seperti juga St. Yusuf menafsirkan mimpi yang tersirat dalam Kitab Suci. Tetapi dewasa kini, tafsiran mimpi lebih cenderung analisis kepada peraktek-peraktek bisnis yang meradikal di dalam kehidupan manusia Papua dan khususnya Meeuwo. Terutama praktis bisnis mengenai permainan togel.

Togel merupakan kategori permainan yang tidak sehat sekalipun satu sisi memberikan income bagi pelakunya. Tetapi selebihnya mereduksi dan eliminasi nilai-nilai sosial budaya terutama lagi adalah nilai religi. Misalnya, Malaika pelindung atau orang-orang Kudus juga lainnya yang hadir dalam mimpi, dapat dirumuskan dengan rumusan-rumusan togel. Akhirnya paradigma berpikir demikian mentransformasi relasi eksistensi manusia dan malaikat pelindung ataupun lainnya yang dahulu datang melalui mimpi menyampaikan maksud baik kini menjadi jurang pemisah, menjadi retak bahaka hampir dipastikan tidak ada relasi yang tercipta hadir dalam mimpi. Kecuali yang bagi mereka yang tidak terpikat dengan praktek bisnis togel dan masih mematuhi pranata sosial budaya yang menjaga eksistensi sistem religi berbasis teologi tradisional.

Terlepas dari keadaan di atas, patologi sosial lainnya juga turut kontribusi dampak negatif memaknai mimpi misalnya asimilasi kultural, serangan ideologi kapitalisme dan kolonialisasi yang meruntuhkan pusat-pusat keberadaan alam, membangun nasionalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai kultural, bahkan kebijakan-kebijakan misalnya imporisasi makanan termasuk beras meruntuhkan budaya kerja sebagai pranata relasi manusia dan alam. Juga doktrin-doktrin mutakhir yang menyerang nilai-nilai budaya termasuk didalamnya religius.

Dengan uraian di atas yang tidak lebih dan tidak kurang ini. Penulis berpikir bahwa kita mesti memaknai mimpi ini bukan semata-mata sebagai bahan analisis bisnis-bisnia togel melainkan menerjemahkan sebagai ungkapan Allah kepada manusia untuk dilakukan dan dituruti sebagaimana yang seharusnya. Tetapi juga perlu diingat, satu sisinya kita juga mesti tebang pilih terhadap situasi perkembangan modernitas sesuai keberadaan kita. Sehingga kita menjumpai makna mimpi-mimpi yang sesungguhnya.

Tetapi kalau kita masih berpegang dengan peraktek bisnis dan dianalisis semua mimpi dengan rumusan togel termasuk menerima perkembangan modernitas tanpa memilah maka barang tentu tidak menjumpai makna mimpi yang sesungguhnya. Tetapi menjumpai makna mimpi yang tidak relevan dengan makna mimpi yang benar. Sebagaimana, penulis menduga seperti kehidupan dewasa ini. Kita bisa mimpi tetapi kadang kurang jelas memaknai, atau kelupaan mimpi itu. Bahakan bermimpi lain dan kejadian lain juga. Semua itu adalah cerminan nyata dari perspektif kita memakai mimpi yang tidak terlepas dari perkembangan dan dinamika modernitas hidup manusia dewasa ini.

Penulis adalah mahasiswa Katolik (selaku pengurus biro penalaran dan keilmuan Keluarga mahasiswa Katolik (KMK) dan mantan (senior) pengurus KMK IMPT)

Editor: Erick Bitdana