BAHAYA POLITIK KEKUASAAN

                (*Oleh: Erik Aliknoe

Bahaya menurut KBBI sebuah kata yang di pakai untuk tanda, tentang bencana, kesengsaraan, kerugian dan lainnya. Jadi bahaya menunjukkan bahwa ada kemungkinan terjadi tanda kerusakan. Bahaya dalam konsep kehidupan manusia di pakaian untuk menunjukkan tanda munculnya Konflik antara sesama manusia dan sesama ciptaan.

Secara sosiologis Konflik adalah perselisihan, pertentangan atau ketidakharmonisan antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok lainnya (Social Conflic).
Soerjono Soekanto menyebut Konflik itu terjadi akibat Konflik pribadi, Konflik Politik, konflik Sosial, Konflik antara kelas Sosial dan konflik yang bersifat nasional dan internasional.

Lima asas di atas adalah poin penting perlu kita pahami disni ialah Konflik akibat politik. Politik itu sendiri adalah politik tentang sifat kekuasaan, peralihan kekuasaan, kebijakan puplik, keadilan sosial, Partai politik dan organisasi politik lainnya.

Karya Allah yang tercantum didalam Alkitab adalah Allah mendamaikan dunia dengan pendekatan kedamaian, keadilan dan kebenaran. Ketika Anda baca Matius 16:21-28 ada percakapan menarik antara Yesus dan Petrus. Yesus menjanjikan penyelamatan Manusia dengan segala ciptaanNya melalui jalan Damai. Sedangkan Petrus memikirkan jalan keselamatan, kemerdekaan dan kedamaian melalui jalan mengambil alih kekuasaan dari Pontus Pilatus untuk membebaskan kaum Yahudi dan lainnya. Terlihat dua poin penting Yesus memiliki misi perdamaian tanpa ada Konflik. Begitu sebaliknya Petrus meyakini bahwa Mesias akan mengambil alih kekuasaan dan membebaskan kaumnya. Malah Yesus menolak Kekuasaan oleh keinginan manusia. Dan memproklamirkan kebebasan sejati dalam pengorbanan Yesus melalui jalan pendamaian.

Berdasarkan beberapa catatan awal di atas, tentu disetiap suku bangsa membutuhkan kedamaian, kebenaran, keharmonisan, kesamaan persepsi dan lainnya, terlepas dari politik kekuasaan.

Politik kekuasaan dapat menyebabkan Konflik sosial. Konflik sosial berdampak pada kerusakan hubungan, sekeluarga, saudara, sesuku, seiman dan sebangsa.

Melihat realita opini partai politik terkini di daerah terdapat bibit-bibit konflik sosial antar sesama manusia. Adapun hal yang perlu menjadi bahan penekanan adalah penggunaan Media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, google dan lainnya) maupun komunikasi lisan didalam kalangan pribadi maupun kelompok. Membangun informasi menjadi sasaran hari ini sehingga perlu di maknai dengan seksama: Benarkah media sosial untuk memproduksi, permusuhan, mengadu domba, mengarang-arang, membangun opini konflik, membagun isu SARA yang sifatnya propokatif? Apakah ini sikap yang baik yang dipertahankan? Apakah media massa dipakai untuk saling menjelek-jelekan seseorang dengan mengukur-ukir kesalahan-kesalahan yang dibuat masa lalu, kemudian menghantam untuk jatuh? Apakah ini sikap yang baik untuk di tiru dan dipertahankan? Pernakah berpikir bahwa diri dapat menimbulkan Konflik, oleh perkataan kita keluar kebaikan dan keburukan?

Semua tergantung cara pengelolaan oleh hati, pikiran dan perasaan kita. Sebab Konflik bisa terjadi kapan saja dan dimana saja juga karena cinta akan Kekuasaan, demi kepuasan emosional Pribadi, kelompok dan etnis tertentu.

Ingatlah bahwa Iblis jatuh dari tahta Allah karena cinta akan Kekuasaan. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena bujukan Iblis akan kekuasaan. Kerajaan-kerjaan di Mesir Kuno, Israel Kuno, daerah Mesopotamia sering hancur berkeping-keping karena cinta akan Kekuasaan. Konflik didalam agama mula-mula sampai hari ini terjadi berulang-ulang karena cinta akan Kekuasaan. Perang Dunia 1-2 terjadi karena cinta akan Kekuasaan. Perang antar suku & kampung terjadi karena cinta akan Kekuasaan. Semua tentang hidup kita. Dan realita ini sudah menjadi bagian dari agenda dan hidup saat ini dan kedepan.

Tidak sedikit merenggut nyawa manusia karena kekuasaan disetiap suku, daerah dan bangsa. Terutama saat-saat seperti era ini, cinta politik akan kekuasaan bisa berujung pada kerusakan, kematian dan kehancuran. Kekerabatan, kekeluargaan, persaudaraan dan perdamaian yang ada samar-samar didalam setiap manusia, suku dan bangsa bisa punah.

Kasus-kasus ini bukan ilusi tapi kenyataan. Anda bisa melihat, mendengar, merasakan dan mengalami semua bentuk praktek kekuasaan
Mari kita renungkan dan berhenti membuat HOAX dan Profokasi Puplik. Ingatlah bahwa, saat-saat ini adalah waktu yang baik untuk kita refleksikan makna hidup sebagai orang beriman kepada Kristus.”Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang (Bdk. Matius 15:11).

Penulis adalah Calon Pendeta dan Mahasiswa Semester Akhir di STFT GKI KEIJNE di Abepura-Papua

Editor: Erick Bitdana