TEOLOGI PENDERITAAN
MENURUT ST. MARIA FAUSTINA KOWALSKA

   (*Oleh: Fr. Mateus Yeriko, OFM

 

Pengantar

Santa Faustina Kowalska biasa dipanggil Helena, ia adalah seorang Mistikus moderen karena ia baru dikanonisasi menjadi orang kudus pada tahun 2000 oleh Paus Yohanes Paulus kedua. Seorang Mistikus ini telah menyimpan banyak tulisan di dalam buku hariannya yang kiranya juga dapat memberikan pengajaran bagi iman kita pada Kristus. Karena di dalam tulisan harianya, ia membicarakan banyak hal tentang pengurbanan dan penderitaan sebagai bentuk penyilihan atau penebusan dosa. Oleh karena itu, pada bagian tema ini akan diulas sedikit tentang riwayat hidupnya dan juga akan diuraikan pemikirannya tentang teologi penderitaan, kemudian juga akan ada refleksi atau tanggapan atas pemikirannya tersebut.

A. Riwayat Singkat Hidup St. Maria Faustina Kowalska.

St. Maria Faustina Kowalska memiliki nama kecil Helena Kowalska. Ia dilahirkan di kampung Glogowiec provinsi Wielkopolska, Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905 sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ia dibaptis di paroki St. Kasimirus di Swinice Warckie Keuskupan Wloclawek. Kedua orangtuanya bernama Stanislaw Kowalski (ayah) dan Mariana Babel (ibu). Keluarganya miskin dan menderita dalam penjajahan.
Pada usia 7 tahun, tepat pada tahun 1912, Helena pertama kali mendengar suara batin untuk hidup sempurna. Kemudian pada usia 12 tahun, menjadi siswi SD di Swince selama 3 tahun. Pada tahun 1914, ia menerima komuni pertama.

Di usia 16 tahun, Helena mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar dapat meringankan beban ekonomi keluarga. Setelah, bekerja satu tahun, ia kemudian pulang ke rumah untuk minta ijin masuk biara tetapi orang tuanya menentangnya. Kemudian pada tahun 1922, ia bekerja kembali sebagai pelayan di toko di kota Lodz. Juli 1924, ia pergi ke Warsawa untuk masuk biara, sesudah berkerja setahun, 1 Agustus 1925 ia diterima dan memulai masa postulat. Pada tanggal 23 Januari 1926 pergi ke rumah novisiat di Krakow. Pada tanggal 30 April 1926, ia menerima pakaian biara dan nama biara, yaitu Sr. Maria Faustina Kowalska. Pada bulan Maret-April, ia mengalami malam kelam rohani. Cobaan ini berlangsung selama satu setengah tahun. Pada 16 April 1928, ia mengalami nyala kasih ilahi sehingga ia melupakan segala penderitaan-penderitaannya di masa lampau dan menyadari bahwa Yesus Kristus lebih menderita untuk dirinya. Akhirnya pada 30 April 1928, sesudah mengakhiri masa Novisiat dan retret selama delapan hari, ia mengikrarkan kaul sementara yang pertama.

Pada 10 Okober 1928 Muder Michael Moraczewska terpilih menjadi Jendral, yang akan menjadi pimpinan selama masa hidup Sr. Maria Faustina Kowalska. 31 Oktober 1928, ia berangkat ke biara di Warsawa dan bertugas di dapur. Selama tahun 1929-1930, ia berpindah-pindah dari Vilnus, Warsawa, Kiekrz, Plock dan bekerja di dapur. 22 Febuari 1931, ia secara istimewa menyaksikan Tuhan Yesus yang menghendaki ia melukis gambar yang sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya. Pada bulan November 1932, ia pergi ke Warsawa untuk menjalani probasi untuk persiapan kaul kekal. 18 April 1933, ia berangkat ke Krakow mengikuti retret selama delapan hari sebelum mengikrarkan kaul kekal. 1 Mei 1933, ia mengikrarkan kaul kekal dan di tempatkan di Vilnus. 2 Januari, untuk pertama kalinya pergi kepada seniman-pelukis E. Kazimirowski, yang diminta melukiskan gambar Kerahiman Allah. Kemudian 24 Maret, ia mempersembahkan dirinya bagi orang-orang berdosa, khususnya bagi jiwa-jiwa yang sudah kehilangan pengharapan akan Kerahiman Allah. Pada bulan Juni, pelukisan gambar Kerahiman Allah sudah selesai, tetapi ia menangis sedih karena tidak seindah dengan apa yang ia saksikan.

12 Agustus 1934, ia sangat lemah dan menerima sakramen Pengurapan Orang Sakit. Kemudian pada tanggal 26 Okotober, ia melihat Tuhan Yesus di depan kapel di Vilnus sama persis yang dilihatinya di Plock dengan pancaran sinar putih dan merah. Kedua sinar itu menyelubungi kapel biara dan balai pengobatan untuk para siswi, lalu memancar ke seluruh dunia. Pada tanggal 8 Januari 1936, ia mengunjungi Uskup Agung Romuald Jalbrxykowski di Vilnus dan memberitahukan kepadanya bahwa Tuhan Yesus menghendaki pendirian sebuah Kongregasi baru. Ia berpindah ke Walendow lalu ke Derdy dan kemudian Krakow.
Pada tahun yang sama, 25 Maret ia dipindahkan ke rumah Kongregasi di Walendow dan pada bulan April ke biara di Derdy. 9 Desember 1936 sampai dengan 27 Maret 1937, ia dirawat di rumah Pradnik. Pada bulan Agustus tahun itu, ia menulis surat terakhir kepada Muder Jendral sambil minta maaf atas segala kesalahannya sepanjang hidupnya dan mengakhirinya dengan kata-kata, “Sampai berjumpa di surga.” 2 September, Pastor Spocko menyaksikan dia di rumah sakit sedang dalam keadaan ekstase.
5 Oktober 1938, Sr. Maria Faustina Kowalska, setelah mengalami penderitaan panjang, ia pergi menghadap Bapa dan dimakamkan ke makam biara di Krakow-Lagiewniki. Pada tanggal 21 Okober 1965, Keuskupan Agung Krakow membuka proses pengumpulan informasi untuk beatifikasi. Pada tanggal 25 November, tulang-tulang Sr. Maria Faustina Kowalska dipindahkan dari makam biara ke kapel para Suster Bunda Allah Kerahiman di Krakow-legiewniki. Pada tanggal 31 Januari 1968, melalui Dekret Kongregasi Suci Penggelaran Orang Kudus proses beatifikasi Hamba Allah Sr. Maria Faustina Kowalska secara resmi dimulai. Tepat tanggal 18 April 1993, ia dibeatifikasi di Roma dan pada tanggal 30 April 2000, ia dikanonisasi menjadi St. Maria Faustina Kowalska di Roma, oleh Paus Paulus Yohanes II.

B. Penderitaan Merupakan Suatu Jalan Penebusan

St. Maria Faustina Kowalska memberikan penekanan yang cukup dominan tentang pengertian, makna dan arti dari sebuah penderitaan. Penderitan itu menyatakan suatu cara menebus jiwa-jiwa, seperti ditegas oleh Yesus “…hanya ada satu cara untuk menebus jiwa-jiwa, yaitu penderitaan yang disatukan dengan penderitaan-Ku di salib. Cinta yang murni memahami kata-kata ini; cinta daging tidak pernah akan memahaminya” (BHSF : Buku Harian Santa Faustina, 240). Tetapi dalam kesempatan lain Yesus menegaskan kembali dengan menambah satu poin lagi “Putri-Ku, Aku ingin mengajarkan engkau tentang bagaimana engkau harus menyelamatkan jiwa-jiwa melalui pengurbanan dan doa…” (BHSF, 1006) .

Penderitaan adalah suatu pengalaman jiwa akan Allah karena penderitaan diterima dari cinta untuk melakukan kehendak-Nya. Penderitaan itu melibatkan akal budi, kehendak dan perasaan. Penderitaan itu dialami dalam bentuk siksaan-siksaan rohani, penyilihan, pengurbanan, persembahan dan mati raga untuk keselamatan jiwa-jiwa (Bdk. BHSF, 893) Selain keselamatan jiwa, penderitaan juga dimaksudkan untuk memperoleh mahkota bersusun (keperawanan, imamat, dan kemartiran). Pederitaan itu mengantar jiwa pada kesucian tertinggi karena pada saat itu jiwa dimurnikan dalam roh. Bagi St. Maria Faustina Kowalska penderitaan adalah makanan jiwa dan madah pujian terindah yang senantiasa dinyanyikan serta menjadi kesukaan hati dan jiwa. Penderitaan bukan suatu kematian tetapi suatu peralihan menuju kehidupan sejati. Penderitaan adalah ungkapan cinta. Dan cinta itu dapat memberikan makna dari segala penderitaan yang dialami jiwa. Dengan demikian penderitaan dihayati sebagai penyilihan, pengurbanan dan persembahan yang memuat caranya untuk mencintai Allah. Mencintai Allah berarti menerima penderitaan dengan penuh kesadaran dan kebebasan. Kepenuhan makna tergantung dari keputusan jiwa, sebab di sini terjadi penawaran entah menolak atau menerima. Selain itu, penderitaan mengarahkan jiwa kepada tujuan sempurna, yaitu kebahagian kekal.
St. Maria Faustina Kowalska membagi penderitaan yang dialaminya itu dalam tiga bagian yaitu penderitaan fisik, penderitaan rohani dan penderitaan stigmatis. Pertama, penderitaan fisik yang dialaminya adalah mati raga, penyilihan, puasa, latihan rohani yang keras, dan sakit paru-paru. Penderitaan ini mempunyai satu tujuan yaitu keselamatan jiwa-jiwa (Bdk. BHSF, 842). Penderitaan fisik dilihat juga sebagai persembahan yang harum kepada Allah. Penderitaan ini sebenarnya bukan datang karena faktor fisik misalnya kerja tetapi sebenarnya secara rohani. St. Maria Faustina Kowalska mengalaminya sebagai penyilihan atas dosa umat manusia terutama para pendosa yang malang.

Berkaitan dengan penderitaan rohani, St. Maria Faustina Kowalska merasa kegelapan pekat dan ketakukan yang mengusai jiwanya. Ia tidak menemukan Allah, selain kesedihan belaka. Keadaan ini mempengaruhi hati, pikiran dan kehendaknya. Ia merasa ditolak Allah, hampa, kegersangan, dan mulai mengalami sakratulmaut, kengerian yang mencekan, dan rasa mau mati tapi tidak bisa mati (Bdk. BHSF, 98). Semakin ia berdoa untuk keluar dari situasi ini semakin jiwanya direnggut dan hal ini menimbulkan siksaan-siksaan batin. Ia merasa putus asa dan terasa semua sia-sia. Keadaan ini menguras energi ia merasa lemas tenaganya berkurang, bahkan St. Maria Faustina Kowalska mengatakan “siksaan ini tidak bedanya dengan siksaan neraka.”
Selain siksaan-siksaan tersebut St. Maria Faustina Kowalska kembali menemukan bahwa penderitaan yang paling berat adalah perasaan bahwa baik doa-doa maupun perbuatan-perbuatan baiknya tidak dihiraukan Allah. Ia merindukan Allah tetapi yang ia terima adalah kehampaan. Situasi ini turut mempengaruhi kondisi tubuhnya. Ia merasa semakin lemah dan pikirannya menjadi kabur.

Sisksaan-siksaan jiwa ini merupakan pencobaan-pencobaan Ilahi yang dialami jiwa yang sangat dicintai Allah. Ia membagi siksaan jiwa itu menjadi tiga bagian, pecobaan jiwa, kegelapan jiwa, dan serangan dari pihak setan. Pencobaan dan kegelapan sudah disinggung di atas, sedangkan serangan setan itu berupa tekanan (gangguan, godaan, dan ancaman), (Bdk. BHSF, 645, 1468, dan1558) untuk menggagalkan penyebaran/pewartaan Kerahiman Allah.

Penderitaan batin juga dialami St. Maria Faustiana Kowalska dari para susternya. Mereka sering mencomohkan, menghina, menggosipkan, mengkomentari dan menertawakan dia tentang pengalaman rohaninya. Mereka mengatakan dia tukang menghayal, tidak waras, dan sok suci. Komentar-komentar yang disampaikan bersifat menghakimi dan mengadili. Semua ini membuat dia mengalami tekanan batin. Juga lebih menyedihkan, ketika ia sakit paru-paru dan tinggal di tempat pengasingan atau Sanatorium (tempat khusus bagi para TBC), ia kurang mendapat perhatian, baik dari para susternya maupun perawat.

Ada bagian yang menarik bahwa St. Maria Faustina Kowalska mengalami suatu penderitaan yang disebut penderitaan stigmatis. Penderitaan stigmatis adalah suatu penderitaan yang diterima oleh jiwa tertentu yang sama persis dengan penderitaan Yesus Kristus yang dialami secara roh atau jiwa. Penderitaan semacam ini dialami oleh St. Maria Faustina dalam hidup hariannya. Ia sering mengalami sengsara Tuhan Yesus dalam tubuhnya. Seperti mengalami dicambuk atau rasa didera, rasa sakit yang nyeri pada tangan, kaki, lambung, merasakan tusukan duri-duri dari makhota duri, dan pada tempat-tempat tubuh Yesus yang ditusuk (Bdk. BHSF, 913). Pengalaman ini terjadi waktu yang singkat tetapi sangat dasyat terasa amat dalam dan terjadi pada masa Trihari suci, hari Jumat, dan hari Rabu. Pokoknya pada hari Raya perayaan. Tujuan dari semua penderitaan ini memberikan penyilihan bagi orang-orang berdosa dan jiwa-jiwa yang berada di purgatorium.
Penderitaan ini adalah penderitaan jiwa yang telah mengalami kesatuan roh dengan Allah sehingga segala kepahitan hati Ilahi Allah pun dirasakan. Penderitaan semacam itu terjadi sangat singkat tetapi sakitnya senantiasa terasa dalam waktu yang cukup lama. Satu hal perlu diketahui penderitaan ini tidak tampak secara lahiriah, hanya jiwa atau orang itu yang mengalaminya.

C. Refleksi
Ulasan pemikiran St. Maria Faustina Kowalska tentang penderitaan tidak jauh dengan ajaran iman, bahwa Yesus sendiri pernah mengatakan “barang siapa mau mengikut aku, ia harus memikul salibnya setiap hari” . Hal ini persis yang dialami St. Maria Faustina bahwa ia mengikuti dan mencintai Tuhan secara mendalam sehingga ia mengalami berbagai penderitaan. Penderitaan yang dialami memberi silih bagi dosa sesama, supaya sesama tersebut memperoleh keselamatan. Hal ini jelas memberikan pengajaran bagi iman kita bahwa penderitaan pertama-tama bukan penyilihan bagi dosa pribadi tetapi juga penylihan bagi dosa orang banyak lebih khusus yang dintesikan. Melalui penjelasan dan pengertian diatas Allah melalui St. Maria Fasutina Kowalska mau mengajak kita agar kita tidak takut menerima penderitaan sebagai jalan penebusan Karena melalui penderitaan kita dapat mempersembahkan keselamatan bagi jiwa- jiwa baik mereka sudah meninggal maupun mereka yang masih hidup.

Referensi

1. Faustina Kowalska, St. Maria. 2012. Buku Harian Santa Faustina (BHSF). Terj. Ernest Mariyanto. Yogyakarta: Kanisius.
2. Heuken, A SJ. 2002. Spritualitas Kristiani. Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka.
3. Jacobs, Tom Dr. SJ. 1987. Rahmat Bagi Manusia Lemah. Yogyakarta : Kanisius.
4. Johnston, William. 2001. Teologi Mistik. Yogyakarta : Kanisius.
5. ____________ . 1980. Berbagai Macam Kharisma Dalam Satu Roh. Yogyakarta : Kanisius.
6. Leks, Stefan. 2016. Kompendium Devosi Kerahiman Allah. Yogyakarta: Kanisius
7. __________. 2008. Devosi Kepada Kerahiman Ilahi. Yogyakarta: Kanisius.
8. Paus Yohanes Paulus II. 1980. Dives In Miserecordia (Ensiklik). Jakarta: DOKPEN KWI.
9. Paus Fransiskus. 2015. Misericordiae Vultus (Bulla). Jakarta: DOKPEN KWI.

Penulis adalah Calon imam Ordo Fransiskan di Papua yang saat ini sedang Menjalani Masa Tahun Orientasi Karya di Panti Asuhan Polomo

Editor: Erick Bitdana