TUHAN ITU TIDAK LOGIS
(*Oleh: Marten Pasi. A. Turot

Pembaca yang budiman, Tulisan ini bukan doktrin, apalagi ajaran sesat. Siapa yang memahami pemikiran dalam tulisan ini, dia akan memahami maksud keseluruhan isi teks. Tulisan ini bukan sama sekali baru. Tujuan tulisan ini tercapai pertama-tama, agar pembaca mendapat kesenangan.
Membaca judul tanpa memahami keseluruhan isi sebuah tulisan hanya akan membawa kita pada apa yang disebut fallacy (sesat pikir, keliru menalar). Sebaliknya, memahami keseluruhan isi sebuah tulisan tanpa menganalisis bagian-bagiannya pun merupakan kecenderungan fallacy. Kecenderungan yang kedua inilah yang masih luput dari perhatian sebagian orang.

Sering dikatakan, atau sekurang-kurangnya, dipikirkan bahwa Post hoc ergo, propter hoc! (Latin: setelah ini, jadi karena ini) – Presuposisi ini merupakan suatu fallacy yang berpendapat bahwa karena kejadian muncul sesudah kejadian yang lain, mestinya kejadian itu menjadi penyebabnya. Kesadaran yang keliru (false consciousness) ini jika tidak direduksi, maka bahaya yang lebih besarnya adalah seseorang bisa terjerumus ke dalam gap paralogisme. Menurut Hume, kita sama sekali tidak tahu apakah sesuatu ini terjadi karena sesuatu yang lain; fakta logis tidak sama dengan fakta psikologis. Pengetahuan logis tidak sama dengan pengetahuan psikologis. Terhadap presuposisi, Husserl sangat menekankan penundaan keyakinan (Epochē). Untuk dapat menemukan kebenaran pada realitas tertentu, kita mesti menempatkan di antara “tanda kurung” atau membuat “pendalam-kurungan” (bracketing), fenomen-fenomen yang sudah disintesiskan dengan persepsi dan perspektif pertama. Epochē disebut juga bracketing. Atau bahasa Jermannya, Einklammerung. Istilah ini digunakan Husserl untuk mendeskripsikan proses menjauhkan interpretasi alamiah atas suatu pengalaman agar dapat mengonsentrasikan perhatian ke hakikat intrinsiknya, atau fenomenologisnya. Epochē berarti penundaan keputusan mengenai status ontologis obyek kesadaran. Epochē muncul pertama kali dalam Skeptisisme Pyrrho. Meskipun demikian, epochē yang digunakan Husserl bukan suatu skeptisisme, melainkan suatu jalan reduksi. Reduksionisme bukanlah sejenis Skeptisisme (karena klaim dalam area yang direduksi dianggap benar dan diketahui benar: bahkan salah satu tujuan reduksionisme biasanya memperlihatkan hal-hal ini benar adanya), pun tidak sejenis anti-realisme meski reduksionisme sering diklasifikasikan demikian. Mengenai Fenomenologi Husserl, bisa dibaca lanjut pada tulisan saya sebelumnya, yang telah dimuat Suara Fajar Timur, dalam bentuk majalah ilmiah (Edisi XXXIX No III/Oktober-Desember 2020) Sebagaimana dikatakan Bertrand Russell, “Jangan takut menyampaikan opini yang eksentrik, karena semua opini yang sekarang tampak wajar, dulu juga dianggap eksentrik”, maka mari kita masuk pada inti pembahasan di bawah ini.

Pertanyaan tentang Tuhan merupakan pertanyaan klasik yang selalu baru meskipun sudah dijawab dengan pengandaian-pengandaian logis, yang sebenarnya tidak perlu dijawab karena memang Tuhan itu tidak logis. Sampai kini, pertanyaan tentang Tuhan berakhir dengan “jalan buntu”. Pertanyaan tentang Tuhan paralel dengan pertanyaan tentang manusia. Pertanyaan tentang Manusia adalah pertanyaan tentang Tuhan – Pertanyaan tentang Tuhan adalah pertanyaan tentang Manusia.
Telah dikatakan bahwa Tuhan itu tidak logis. Tuhan itu tidak logis karena memang bertentangan dengan hukum logika. Proposisi logika bersifat tautologi. Prinsip tautologi misalnya, “A = A”. “A” tidak bisa sama dengan “A” sekaligus “B”. Proposisi yang tidak logis itu bersifat kontradiktoris. Kita tidak dapat mengatakan seperti apa dunia yang ‘tidak logis’ itu. Sebab seandainya bisa, kita mesti berpikir secara logis. Pemikiran yang benar masih bersifat mungkin.

Barangkali memang perasaan mistik anda mengatakan bahwa “ini bukan soal teologi dan filsafat. Ini soal Allah (Tuhan). Allah melampaui teologi dan filsafat. Ada dua lapis keberadaan dalam kerangka semesta logis: eksisten dan subsisten”. Jawaban atas perasaan mistik bukan didasarkan atas benar – salah. Logika filsafat sama sekali tidak berurusan dengan perkara benar atau salah sebuah proposisi. Logika filsafat menyelidiki bermakna (meaningfull) atau tidaknya (meaningless) sebuah proposisi. Proposisi merepresentasikan bahasa dari pemikiran sebagai gambar logis fakta. Logika filsafat berurusan dengan sintaksis, semantik, dan pragmatik sebuah bahasa. Unsur ketiga (pragmatik) itulah yang boleh dikatakan, menjadi roh para filsuf aliran Filsafat Bahasa Biasa (ordinary language of philosophy).

Mengapa Tuhan dikatakan tidak logis? Mengapa bisa dikatakan dunia yang tidak logis, atau lebih tepatnya, objek atau benda (bukan; fakta), misalnya; Tuhan (jika ‘benar’) itu tidak logis? Bukankah kita tidak dapat mengatakan dunia yang tidak logis itu tidak logis, bukan? Apakah mengatakan Tuhan itu tidak logis, bertentangan dengan hukum logika, atau sebaliknya? Hanya ada dua pertanyaan yang merepresentasikan dua sisi garis batas pemikiran: Apakah Tuhan itu tidak logis? Atau apakah Tuhan itu logis? – Tidak ada proposisi paradoksal, sebab proposisi yang bersifat paradoks itu bukan tautologi; dan karenanya, tidak logis. Konsekuensi logis dari proposisi Tuhan itu logis adalah proposisi tersebut tidak logis berdasarkan hukum logika. Sebaliknya, konsekuensi logis dari proposisi Tuhan itu tidak logis berdasarkan hukum logika adalah proposisi tersebut bertentangan dengan hukum logika itu sendiri. Dengan demikian, logika telah melampaui batas-batasnya (metalogika).
Ketika anda telah memahami proposisi-proposisi dalam tulisan ini, maka anda akan menyadari bahwa proposisi-proposisi tersebut tanpa makna (meaningless).

“Apa yang sepenuhnya bisa dikatakan memang bisa dikatakan dengan jelas; dan tentang apa yang tidak bisa kita bicarakan, seharusnya kita diam.”
(Ludwig Wittgenstein)

Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua