Perspektif orang Papua tentang “Alam atau hutan Papua sebagai Ibu”

(Sebuah Refleksi Teologis)

(*Oleh: Fr. Simon Welerubun, OSA

Di dalama kehidupan orang Papua, hubungan mereka dengan alam sangatlah erat, dalam arti yang luas dikatakan bahwa orang Papua hidup dari alam, bergantung dari alam dan alam adalah segela sumber kelangsungan hidup. Nampak jelas bahwa alam Papua terdapat berbagai hasil seperti hasil kebun dan juga hasil emas dan berbagai hasil yang lain. Hal ini dapat dipahami bahwa alam Papua adalah alam yang sangat kaya dengan penghasilan yang menuntut suatu kesejahteraan bagi orang Papua. Namun nampaknya, dalam realitas orang Papua tidak menikmati apa yang menjadi hak meraka, bukan karena orang Papua tidak tahu mengolah, melainkan karena “kerusakan” dan “pencurian” gelap (eksploitasi alam atas nama kesejahteraan) yang dibuat oleh sebagian elite yang hanya mencari kepuasan diri sendiri dan keutungan semata.

Perspektif Orang Papua tentang alam: tanah, hutan sebagai “Ibu”. Ibu adalah alam yang memberikan sumber berkah nafkah kehidupan yang tak henti, mengalir dari hati alamnya yang tulus. Kekayaan alam atau hutan merupakan anugerah mutiara terindah dari Sang Pencipta kepada manusia secara gratis demi menunjang keberlangsungan pertahanan hidup seperti terungkap dalam nas ayat Kitab Suci: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi” (bdk Kej, 1: 11).

Banyaknya pemberian “ibu” yang penuh “Kasih”, menjadikan sebagian orang Papua, masih terselimuti oleh derasanya tagisan yang bergema dengan derasnya air mata. Percikan dara yang mencari obat untuk membalut kembali rusaknya hati “ibu’. Realitas yang dialami orang Papua ialah sedikitnya pemberian “Ibu” yang dapat mereka nikmati. Hal ini bukan karena kesalahan orang Papua. Pemberian “ibu” yang penuh “KASIH” dan “KASIH” itu, dirampas oleh sebagian orang, dirusak dengan cara yang tak teratur. Siapa yang salah? Di mana Bapa? kami anak-anak Papua merasa lapar dan kehausan di “rumah kami di dalam dapur kami” sendiri. Tak ada kedamaian, kesejahteraan yang kami rasakan dan nikmati. Mungkin benar kata Ebiet Gade; haruskah kita bertanya pada rumput yang bergoyang? Suara tagisan bergema ke seluruh dunia, dengan mengugat kehadiran seorang Bapa, di mana Bapa? apakah bapa tidak peduli dengan kami anak-anak? Gugatan yang mencari di mana Bapa, dapat menghantar kita merefleksikan dalam realitas pergumulan iman.

Kehidupan sekarang ini, manusia tidak lagi memandang alam ciptaan sebagai bagian dari hidupnya, yang pada dasarnya harus dirawat, dipelihara, dan dijaga. Manusia melihat alam sebagai bagian yang dapat mendatangkan keuntungan dalam kehidupannya. Maka, alam ciptaan dan manusia tidak berada dalam kondisi relasi yang sesuai rancangan Pencipta. Perubahan itu memperlihatkan kebangkrutan mutu relasi keduanya. Cikal bakal kebangkrutan ini bermukim pada kesadaran dan penemuan diri manusia di hadapan ciptaan. Manusia diharapkan dapat membangun suatu pemahaman yang baik, tentang bagaimana berada di tengah alam ciptaan, yang ada bersama dengan dirinya sebagai sesama ciptaan.
“bapa” adalah Sang Pencipta; Allah
Allah menciptakan dunia dengan isinya, yang dapat dinikamti oleh semua makhluk hidup, teristimewa manusia di muka bumi. Allah pula yang memberkati alam dengan kelimpahan sumber kehidupan untuk manusia. Alam Papua yang dipandang sebagai “ibu” melahirkan kesuburan, menyusui dan memberi makan dengan kelimpahan hasil di dalam dirinya yakni hasil hutan.

“Ibu” adalah Tanah: hutan/alam Papua
Perspektif “Ibu” adalah isi alam: Tanah, hutan. Papua memiliki banyak sumber kehidupan untuk menghidupi manusia Papua dan kehidupan yang mampu menghidupi orang Papua dan juga Non-Papua di mana-pun mereka berada di atas bumi Cenderwasih. Alam Papua sebagai “Ibu” yang memberikan nafkah dari hatinya yang terus-menerus kepada anak-anaknya di tanah Cenderwasih. Kenikmatan hasil alam (hasil hutan), hanyalah sedikit bagi orang Papua dan dari berbagai pihak terus-menerus menerobos, menyayat dan merusak hati ibu yang semakin hari semakin terasa sakit yang dialaminya. Tangisan air mata “ibu” bergema dengan derasnya, menuntut untuk membalut kembali luka-luka yang telah disakiti setiap saat oleh sekelomok orang.

Jangan “Menjual” ibu kami
Semakin banyak luapan kasih dari orang-orang Papua kepada siapa saja yang hadir dan tinggal di Papua. Namun sering terjadi bahwa sebagian “tanah” Papua dijual untuk kepentingan pribadi. Hal ini perlu disadari bahwa semakin banyak penjualan tanah, semakin banyak pula adanya kemiskinan dan kemelaratan yang terus beredar di atas tanah Cenderwasih ini. Maka perlunya ada suatu tindakan inovasi untuk memperbaiki kehidupan dan kesuburan alam Papua. Ketika tanah Papua dijual, maka tak disadari bahwa “Penjualan” itu bersifat mengusir ibu dari rumahnya sendiri yakni rumah alam Papua.
Tindakan inovasi yang dapat dilakukan
Dalam hidup manusia tidak hanya membuat suatu ungkapan kata yang memperindah, suasana melainkan mewujudkan dengan perbuatan konkret yang nampak dilihat dan dirasakan oleh semua orang sebagai hasil yang memuasakan dalam hidup bersama. Tindakan konkret yang dibuat dialah jangan memaksa orang Papua untuk menjual tanah, tetapi marilah membantu orang Papua untuk menjaga dan merawat alam Papua sebagai sumber penghasilan membawa berkat bagi orang asli Papua dan siapa saja yang berhati jernih dan tulus membangun tanah Papua sebagai tanah Damai.

Penulis adalah Calon imam Ordo St. Agustin yang sedang Menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St. Bonifasius Ubrub, Keuskupan Jayapura

Editor Erick: Bitdana