Perang Ideologi, Racun Mematikan Perdamaian di Tanah Papua

(*Oleh: Novilus K. Ningdana

Kita semua tahu dan dikagetkan dengan rentetan peristiwa di akhir-akhir ini, yakni konflik kemanusiaan yang terjadi di tanah Papua. Terutama di Intan Jaya yang menewaskan satu anggota TNI atas nama Prade Ginanjar Arianda pada Senin 15 Februari 2021 oleh TPNPB dan tiga warga sipil oleh TNI serta pengungsian warga Intan Jaya. Juga beberapa penembakan pada beberapa waktu lalu dan sejak dulu hingga kini masih saja terjadi konflik bersenjata antara TNI/Polri dan TPNPB-OPM di tanah Papua. sebelum terjadi peristiwa ini pada beberapa waktu lalu pada bulan ini pun terjadi kontak tembak antara TNI/Polri dan TPNPB-OPM yang menyebabkan luka-luka, penyisiran dan pengungsian. Itulah gambaran konflik di Intan Jaya baru ini.

Konflik di Papua, setiap orang dari sudut pandang memiliki perspektif yang berbeda khususnya kini di Intan Jaya. Seperti perang dagang, Otsus, Freeport, pemerkaran dan sebagainya. Namun dalam tulisan ini saya melihat konflik di Intan Jaya dari perspektif perang Ideologi yang menewaskan kedua belah pihak sehingga mati bersama-sama. Sebelum melangkah lebih jahu mari kita melihat arti Ideologi itu sendiri.

Pada dasarnya ideologi berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata yakni ideos artinya pemikiran dan logos artinya logika, ilmu, pengetahuan. Maka dapat didefinisikan sebagai ilmu mengenai keyakinan dan cita-cita. Dengan demikian ideologi dapat menciptakan pemikiran dan semangat atau spirit hidup untuk terus bergerak mencapai apa yang dicita-citakan oleh suatu kelompok. Maka ideologi yang sudah dan sedang tumbuh di tanah Papua ialah dualisme ideologi antara “Papua Merdeka Harga Mati” oleh masyarakat Papua (TPNPB-OPM) dan “Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati” oleh Negara Indonesia (TNI/Polri). Kedua ideologi ini sudah menjadi pemikiran dan semangat juang yang akhirnya menjatuhkan korban jiwa.

Kini yang konflik senjata yang terjadi di Intan Jaya merupakan ungkapan dari eksistensi ideologi antara TPNPB-OPM dan TNI/Polri yang menewaskan diri manusia dengan balas dendam menggunakan alat Negara (senjata) yang menjadi racu bagi sesama manusia yang tak bersalah. Dilihat dari kriminologi bahwa kalau kekerasan dibalas dengan kekerasan maka konflik tidak akan dikurang atau dihentikan, yang ada hanya konflik berkelanjutan dan berkepanjangan. Sehingga kebencian, balas dendam, terror, dan pembunuhan akan bertumbuh subur di tanah Papua. Demikian apa yang menjadi cita-cita bersama sebagai warga masyarakat yakni hidup yang damai, aman, nyaman dan berkeadilan menjadi mimpi siang bolong.

Untuk itu konflik bersenjata di Intan Jaya menjadi konflik Ideologi yang menebarkan ketakutan sehingga terjadi penyisiran, pengungsian warga, menumpahkan darah tak bersalah pada warga sipil dan kedua belah pihak tanpa ada resolusi damai. Oleh karena itu, penulis menawarkan beberapa alternatif solusi untuk konflik di Intan Jaya dan umumnya konflik di tanah Papua. Pertama, kepada pemerintah pusat, Provinsi dan Kabupaten agar dapat mengedepankan dialog agar ada resolusi konflik. Kedua, kepada pihak Keamanan agar tidak melakukan pendorpan pasukan secara masif di tanah Papua.

Hal ini dapat memancing dan memanas situasi masyarakat dan terutama TPNPB-OPM untuk siap berperang sampai mati dan korban akan terus ada. Ketiga, kepada Negara agar membuka akses bagi dewan HAM PBB untuk datang ke Papua agar ada resolusi sesuai hukum internasional. Dan bagi masyarakat Papua (Papua/Non Papua) agar tetap menjaga kerukunan dan kedamaian dan selalu peka terhadap segala situasi yang menggangu kenyamanan, keadilan dan kedamaian hidup manusia di tanah Papua.

Kita semua berharap agar ada sebuah resolusi yang tepat sesuai keinginan bersama agar hidup kita di tanah ini tidak seperti bara api yang selalu menyala namu ada kedamaian dan keadilan di tanah Papua. Maka beberapa alternatif di atas saya yakin dapat menciptkanan suatu oase hidup yang damai dengan mengurangi konflik-konflik kemanusiaan yang menewaskan nyawa sesama yang tak bersalah dan menggangu kenyamanan hidup makhluk ciptaan di bumi Papua.

Penulis adalah Mahasiswa di STFT “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura