(*Oleh : Evander Alwolka

Pendahuluan

Kata Moral atau Moralitas diambil dari bahasa Latin mos (jamak, mores) yang berarti kebiasaan, adat. Sementara moralitas secara lughowi juga berasal dari kata mos bahasa Latin (jamak, mores) yang berarti kebiasaan, adat istiadat. Kata moral atau moralitas selalu identik dengan perbuatan atau perilaku manusia yang dinilai baik ’bermoral’ dan tidak bermoral jika dinilai buruk. Sehingga secara umum kata tersebut mengandung makna guna mengacu pada bagaimana suatu masyarakat yang berbudaya berperilaku.

Dan kata moralitas juga merupakan kata sifat latin moralis, mempunyai arti sama dengan moral hanya ada nada lebih abstrak. Karena itu kata moral dan moralitas memiliki arti yang sama, maka dalam pengertiannya lebih ditekankan pada penggunaan moralitas, karena sifatnya yang abstrak secara holistik dinilai.

Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Senada dengan pengertian tersebut, W. Poespoprodjo dalam bukunya berjudul ilmu teoritis dan praktis moral pendidikan (Bandung: 1988) mendefinisikan, moralitas sebagai ”kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk yang mencakup tentang baik buruknya perbuatan manusia.

Baron, dkk dalam bukunya “Pengertian akhlak dan moral” sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih, bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Menurutnya ada beberapa istilah yang sering digunakan secara bergantian untuk menunjukkan maksud yang sama, istilah moral, akhlak, karakter, etika, budi pekerti dan susila.

Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia, “moral” diartikan sebagai keadaan baik dan buruk yang diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan susila. Moral juga berarti kondisi mental yang terungkap dalam bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai ajaran Kesusilaan. Dengan merujuk pada kata moral dari bahasa Latin “mores” yang berarti tata cara dalam kehidupan, adat istiadat dan kebiasaan.

Dengan demikian, pengertian moral dapat dipahami dengan mengklasifikasikannya sebagai: ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meningalkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dalam suatu masyarakat.
Moral juga dikenal dan ditahati sebagai aturan, dengan ketentuan yang digunakan oleh masyarakat untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau buruk.
Dilain sisi, moral dilihat sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, seperti berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya.

Dengan melihat setiap manusia dalam hidupnya yang pasti mengalami perubahan atau perkembangan, baik perubahan yang bersifat nyata atau yang menyangkut perubahan fisik, maupun perubahan yang bersifat abstrak atau perubahan yang berhubungan dengan aspek psikologis. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari dalam manusia (internal) atau yang berasal dari luar (eksternal). Faktor-faktor itulah yang akan menentukan apakah proses perubahan manusia mengarah pada hal-hal yang bersifat positif atau sebaliknya mengarah pada perubahan yang bersifat negative.

Berbicara tentang pembentukan moral, maka tidak terlepas dari aspek perubahan atau perkembangan manusia yang dinilai baik atau buruk melalui cara pandang ilmu pengetahuan, budaya, agama dan adat istiadat. Tentu dalam pembentukan moral ada faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti halnya perubahan manusia pada umumnya. Dalam hal ini penulis memfokuskan diri untuk mengamati realita kehidupan yang dihadapi orang Pegunungan Bintang di zaman globalisasi ini.

Manusia Suku Ngalum Ok Menghadapi Zaman Globalisasi

Moralitas manusia sangat menentukan jati diri sebuah komunitas, bangsa, serta suku dalam bingkai wilayah kekuasaan. Jika suatu suku atau daerah mengabaikan moralnya maka, bersiap-siaplah untuk menyemput kehancuran. Manusia OK dalam kehidupan belakangan ini adalah sangat memperihatinkan, kenapa saya katakan demikian?

Melihat realita yang selalu terjadi adalah  sangat mempengaruhi kehidupan anak- anak regenerasi sekarang. Hal postif serta hal negative selalu terjadi ditengah-tengah kehidupan generasi sekarang, tetapi yang kebanyakan terjadi adalah hal negatif belakangan ini. Dimana generasi muda sering terjun dalam budaya luar yang hipnotis seperti kecanduan alkohol, seks bebas, menjalin hubungan sebagai suami- istri tanpa mempertimbangkan masa depan dan jaminan kebutuhan hidup keluarga kedepan. Tidak hanya itu, penggunaan media sosial seperti Facebook, What’s APP, Tweter yang berlebih-lebihan ketimbang memilih membaca buku dan bangun diskusi untuk kemajuan daerah kedepan, berpartisipasi dalam kegiatan atau organisasi yang membantu pengembangan karakter kepribadian dan kepemimpinan bersama orang luar.

Kita sebagai mahasiswa juga selalu membuat diri seolah-olah paling bijak di media sosial murahan seperti Facebook dan lainnya ketimbang memilih berlatih menulis di media-media resmi. Dalam hal ini, kita mahasiswa masih egois, menutup diri dan merasa lebih bisa ketimbang membuang jauh ego pribadi untuk belajar bersaing dengan teman-teman dari daerah Papua lain.

Penulis melihat, jika egoisme pribadi masih terus melilit ruang pergerakan kita dilingkungan mahasiswa maupun orang Pegunungan Bintang pada umumnya, maka jangan salah apabila praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme makin tumbuh subur baik dilingkungan pemerintah daerah maupun mahasiswa. Perasaan  masih  kuat, pintar, bijaksana untuk SAYA ketimbang orang lain, maka tidak akan ada kebenaran yang dijumpai bersama, perbedaan pendapat atau pandangan terus dipertahankan, yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan.

Penulis sebagai mahasiswa, juga menyadari beberapa realita kehidupan ini menjadi masalah serius yang perlu dibicarakan dalam setiap elemen dilingkungan masyarakat  Ngalum Ok, Ketengban, Murob, Rani dan lainnya karena ini bicara menyangkut moral sama dengan dasar dan nilai dasar manusia dari sifat, karakter dan tipologi manusia khususnya suku Ngalum.

Manusia Ngalum perlu memahami tentang Globalisasi, yang kian cepat berkembang dalam kehidupan manusia, maka itu perlu ada pemahaman agar mereka cepat beradaptasi dengan budaya-budaya luar. Budaya luar atau budaya asing menjadi tantangan yang besar dalam kehidupan manusia Ngaum, sasaran utama adalah generasi sekarang karena kita sulit untuk beradaptasi budaya lokal dengan budaya asing, sulitnya mereka beradaptasi karena mereka tidak tahu tentang budaya lokal atau adat-istiadat lokal.

Solusi penulis

Sebagai solusi, penulis mengharapkan dan menawarkan adanya  kebutuhan pembinaan mentalitas dan moral kepribadian yang sajati yakni mengakui kesalahan, mengatakan tidak untuk hal yang sifatnya merusak pribadi maupun orang lain, rela merendahkan diri untuk belajar ketimbang mempertahankan prinsip dan egois, terbuka menyampaikan hal yang benar dan jujur menegur tanpa menyimpan dendam. Jika ada hal yang sifatnya kepentingan keluarga, cukup dibicarakan dalam internal keluarga bukan disampaikan ke publik melalui media sosial.

 

Moralitas manusia suatu saat bisa baik tetapi pada saat yang lain menjadi jahat. Perubahan ini tergantung bagaimana proses interaksi antara potensi dan sifat alami yang dimiliki manusia dengan kondisi lingkungan, sosial, budaya, pendidikan dan alam. Hal ini karena kondisi moralitas masing- masing pada saat akan diubah atau dibentuk juga berbeda. Manusia dengan tingkat kerusakan moralnya yang sudah parah atau sudah menginternal, akan berbeda tingkat kesulitannya dalam mengubahnya bila dibandingkan dengan kondisi moralitas yang tidak terlalu prihatin.

Sukar untuk tidak menyakini bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses pembentukan manusia . Lingkungan akan menentukan prilaku dan moral manusia. Seorang anak yang tinggal dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak teratur, kemampuan ekonomi di bawah rata-rata, lingkungan alam yang kumuh tanpa fasilitas-fasilitas umum yang memadai seperti sarana dan lain-lain, akan menyuburkan pertumbuhan anak-anak nakal dan kurang bermoral.

Untuk Generasi suku Ngalum Ok yang hidup dalam lingkungan yang tidak bisa beradaptasi dengan budaya asing, apalagi jika orang tuanya kurang peduli dengan perkembangan anaknya. Lingkungan yang baik (bermoral) tempat di mana anak-anak melakukan interaksi akan terpengaruh pada terciptanya generasi-generasi yang berprilaku dan bermoral baik. Demikian pula lingkungan yang tidak baik akan menciptakan generasi-generasi yang bermoral tidak baik.

Penulis menyadari, beberapa realita yang sudah kita alami termasuk penulis sendiri untuk saling berbagi dan mengingatkan sebagai satu keluarga karena mentalitas keperibadian akan berpengaruh terhadap moral generasi suku-suku di Pegunungan Bintang secara khusus Suku Ngalum. Dan tulisan adalah bagian dari proses belajar penulis guna menuangkan ide dan pengamatan penulis dengan memperhatikan hal-hal yang diwariskan oleh nenek moyang kita melalui nilai-nilai hidup.

Kesadaran manusia suku Ngalum adalah tujuan kita bersama, namun yang perlu digaris bawahi yaitu bagaimana caranya sehingga mengambil tindakan agar generasi emas suku Ngalum selamat dalam gencarnya ancaman perubahan zaman ke zaman.

Sampai saat ini, Generasi Pegunungan Bintang boleh dikatakan rusak atau menuju pintu kehancuran karena belum ada pembinaan yang serius baik dari keluarga, adat, pendidikan, Agama dan umumnya pemerintahan melalui sosialiasasi, pembinaan yang terlihat membiarkan. Alias generasi mencari jalan sendiri ditengah situasi sosial politik dan ancaman perkembangan globalisasi zaman.

Daftar pustaka

1. Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: Rajawali Press, 1992

2.  Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Tim Penyusunan Kamus Pusat dan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa), Jakarta: Balai Pustaka,1994

3. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Cet. ke-1, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995

4. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Cet. Ke-11, Bandung:  PT. Remaja Rosda Karya, 1988

5. Omar M. al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Cet. Ke-1, Jakarta: Bulan Bintang, 1979

6. http://massofa.wordpress.com, Pengertian Etika Moral dan Etiket, sebuah tinjauan umum tentang moralitas oleh dewi, 2011 (Di searching  pada Sabtu, 19 Februari, 2021)

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua asal Pegunungan Bintang yang saat ini study di kota Jayapura

Editor: Erick Bitdana