(Sebuah refleksi Teologi Spritualiatas)

(*Oleh : Sdr. Matius Yerikho, OFM

Pengantar

Panggilan hidup untuk melayani dan mengabdi Tuhan di Zaman moderen ini, sudah menjadi sangat sulit dan kurang menarik perhatian bagi kaum muda- mudi. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan zaman yang semakin canggih dengan alat-alat teknologi yang memberikan semangat penghiburan tersendiri. Sebab pemahaman orang-orang muda zaman ini tentang panggilan untuk mengabdi Tuhan dalam hidup membiara atau religius adalah suatu penyiksaan diri. Sebab mereka harus melepaskan keluarga, membatasi keinginan-keinginan manusiawi mereka (Tidak menikah) dan hidup lebih pada melayani orang lain. Ketiga hal ini membuat ketertarikan mereka untuk mengabdi Tuhan sangat minim atau sedikit.

Berkaitan dengan penjelasan tersebut tulisan ini mencoba menjelaskan secara sederhana spritualitas Fransiskan yang sampai dengan saat ini masih mendapat tempat dihati orang-orang muda dan masih menggema. Sebab ada hal yang menarik yang dipancarkan Bapa Fransiskus atau juga dikenal Bapa serafik. Oleh karena itu, tulisan berikut ini mencoba menguraikan secara singkat kilas balik siapa itu Frasiskus, dan bagaimana ia menemukan hasrat jiwanya, kemudian juga pesan apa yang dapat kita maknai dalam kehidupan kita, baik kehidupan sebagai seorang Fransiskan maupun kehidupan Kristiani.

Kilas balik siapa itu St. Fransiskus?

St. Fransiskus adalah seorang kaya raya di kota Asisi. Ayahnya bernama Bernadone dan ibunya bernama dona pika. Ia adalah anak Tunggal tidak mempunyai saudara dan saudari, ia hanya seorng diri. Karena dia hanya seorang diri maka kasih sayang orang tuanya hanya padanya.
Orang tua St. Fransiskus adalah orang kaya di kota Asisi, mereka memiliki perusahan tekstil untuk pembuatan kain. Sehingga keluarga mereka sangat kaya raya. Orang tua fransiskus menginginkan St. Fransiskus menjadi orang sukses dan kaya, maka orang tuanya menyuruh dia menjadi seorang kesatria. Dia pun menjadi kesatria mengikuti perang antara Asisisi dan Bologna.

Dalam perang itu, akhirnya dia di tangkap, kemudian penjara tetapi karena orang tuanya kaya, maka ia tebus oleh orang tuanya. Kemudian ia jatuh sakit, dalam sakit ia bergulat dengan Tuhan. Tuhan menyentuh dengan rahmatnya dan ia pun mengalami kesembuhan serta mulai berubah sikap. Perubahan ini merupakan pertobatannya. Ia sering pergi ke tempat-tempat sunyi untuk berdoa dan menikmati alam ciptaan yang indah. Perubahan sikapnya ini menjadi komentar negatif bagi orang-orang disekitarnya dan mereka mengatakan dia gila.

Menemukan Hasrat Jiwa

Fransiskus bergulat dengan dirinya karena gerakan batinya membawa ia untuk menemukan hasrat jiwanya. Ia senantiasa mencari hasrat jiwanya dalam keheningan dan dalam kekaguman alam ciptaan. Ia menemukan dan merasakan keagungan Tuhan yang sangat mendalam. akhirnya juga gerakan batinnya ini membawa pula ia kepada gua keheningan (gua Laverna) disana ia mulai memproses semua pengalamannya dan ia menemukan Kristus sebagai serafik (Malaikat bersayap enam) yang kemudian juga ia menemukan Tuan Putri Kemiskianan. Tuan putri kemiskianan adalah symbol dari murni, sederhana, mati raga dan keutamaan-keutamaan lainya.

Kata “Tuan Putri Kemiskianan” memuat makna yang sangat mendalam dan penuh rahasia keagungan. Melalui hati yang di terangi iman kita dapat memproses kata demi-demi kata. Kata Tuan berarti Raja. Kata Putri dari kata sifatnya berarti kagum, indah, murni, perawan, dan menarik memikat hati. Kata kemiskinan berarti tidak memiliki harta secara materi atau benda. Penjelasan kata-kata trersebut dapat dimengerti dan dipahami kata “Tuan Putri Kemiskinan” adalah mengabdi Raja (Tuhan) yang Kagum, indah, menarik dan memikat hati dan melepaskan segala harta benda.  FransiskusmemilihjalaninisebagaijalanuntukmelayaniKristusyaitu“TuanPutriKemiskinan”.Pengapdian Fransiskus kepada Tuan Putri Kemiskinan memenuhi hasrat jiwa sehingga menemukan sukacita, kebahagian, kegembiran, dan kemanisan badan. Sukacita, kebahagian, kegembiran, dan kemanisan badan tidak terlepas dari penderitaan yang akan ditangungnya, bahwa akhirnya menerima tanda-tanda Kristus pada tubuhnya.

Refleksi

Memahami dan menerima spritualitas Fransiskus yang kemudian disebut spritualitas Fransiskan pertama-pertama kita harus membuka diri, hati, pikiran, dan menerimanya sebagai “Tuan Putri Kemiskinan” yang menyentuh hati kita. Kita harus merasakan sentuhan jatuh cinta pada Tuhan, kemudian membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita, maka akan terjadi perubahan besar dalam diri kita yaitu sesuatu tidak mungkin menjadi mungkin. Kita harus memiliki cara pandang yang berbeda tentang Tuhan yaitu menempatkan dan memahami Tuhan sebagai “Tuan Putri Kemiskianan”.

Cara memahami seperti ini sangat relevan dengan situasi zaman ini karena panggilan hidup Fransiskan boleh mendapat tempat di segala zaman sampai dengan saat ini, bahwa ketika orang mengabdi Tuan Putri Kemiskianan orang menemukan kebahagian, kemurnian, dan kesederhanaan. Inilah jalan yang cocok, tepat dan sederhana mencampai keselamanta kekal. Semoga kita yang telah menghidupi spritualitas fransiskan (orang-orang yang menghayati dan mengikuti cara hidup Fransiskus) dapat memberikan terang batin dan budi bagi orang-orang yang dilayani dan juga orang-orang disekitarnya. Sebab kita yang telah terpanggil menjadi pengikutnya, terus menjadi cermin Tuan Putri Kemiskianan bagi semua orang.

Sumber :
1. Murray Bodo, OFM “Fransiskus Perjalanan dan Impinan” Jakarta SEKAFI (Sekertariat Keluarga Fransiskan Indonesia) 2002.
2. P.Lazaro Irarte OFM Cap, “Panggilan Fransiskan” Sumatra JOSE-GABRIEL FRANCES OFM, 1995.
3. Leo Laba Ladjar OFM “Karya-Karya Fransiskus Dari Asisi” Jakarta SEKAFI (Sekertariat Keluarga Fransiskan Indonesia) 2000.
4. Sr. Caroline Nugroho MC “Orang Muda, Iman, Dan Penegasan Panggilan” Jakarta DOKPEN KWI (Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konfrensi Wali Gereja Indonesia) 2019.
5. R.P.F.X Adisusanto, SJ “Gereja Dan Internet, Etika dan Internet, dan Perkembangan Cepat” Jakarta DOKPEN KWI (Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Konfrensi Wali Gereja Indonesia) 2019.