DULU SURGA DAN KINI DAUN SENG

Dikalah aku berdoa
Hidup dalam keindahan alamku
Tarasa surga kedua,
Hidupku teriasi keindahanya burung surgawi
Dalam keindahannya aku bernafkah

Kian menghilang tercoret dan sunyi
Kian menghilang kemana arah berteduh
Dimanakah suara kicauan itu,
dimanakah pohon yang berteduh,
Hidupku terasa mimpi dan terbangun.

Kicauan itu digantikan suara mesin sensor
Kicauan itu digantikan suara senjata api
Kicauan itu digantikan suara tangisan
Kicauan itu digantikan suara Gemuru
Aku digantikan jembatan melayang.

Pemodal belaka datang dan menjadi racun
Pemuas kenikmatan datang merampas setiap segalah yang ku hidupi,
alam yang indah digantikan pembangunan berpola atapan daung seng.
Aku dan jati diriku semakin terhina
dan tak terlihat dimana honai itu berasap
tapi terbakar panasnya daun seng.

Aku dan jati diriku kiang sunyi dicincang pembangunan,
terbuang jahu tak seperti biasanya
aku terlindung dalam honai menghangatkan jati diriku.
Alamku disiksa dan dicakar habis-habisan
oleh lahan kelapa sawit dan lahan sawa,
dan tak seperti biasanya tak terlihat duan keladi dan sagu berlambai.

Yerusalem Baru Abepura-Papua, 12 Februari 2021

Karya: Karya Fransiskus Tsolme