Kehadiran Pemilik Bumi Tidak Jauh Berbeda Dengan Perkembangan
Gereja Pribumi di Tanah Papua

(*Oleh : Marco Kasipdana

Kehidupan masa kini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan yang telah ada sebelumnya. Selalu ada sejarah dibalik setiap peristiwa kehidupan yang ada pada masa kini, yang selalu diwarnai dengan pahit manisnya kehidupan. Hal ini berlaku bagi setiap bidang kehidupan termasuk di dalamnya sejarah gereja. Th van den End mengatakan bahwa sejarah gereja ialah kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami gereja selama di dunia ini, yaitu kisah tentang pergumulan antara injil dengan bentuk-bentuk yang kita pakai untuk mengungkapkan injil tersebut. Penulis kutip dari sebuah ungkapan yang berkata bahwa “jangan sekali-kali melupakan sejarah” dalam hal ini yang dimaksudkan ialah supaya umat kristen tidak melupakan bagaimana sejarah perjalanan sebuah organisasi untuk memperoleh kemenangan di dalam sebuah perjuangan. Dari ungkapan ini, penulis juga ingin menyampaikan kepada orang-orang kristen yang hidup pada masa kini untuk tidak melupakan sejarah perjalanan gereja. Terkhusus yang akan penulis tulis dalam artikel ini, yakni bagaimana latar belakang sejarah berdirinya Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Pada hakikatnya gereja merupakan orang yang di panggil keluar dari dalam kegelapan menuju terang yang ajaib untuk mewartakan berita sukacita tentang Yesus Kristus Sang Juruselamat. Secara etimologi gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreja”, yang berarti kawanan domba, yang dikumpulkan oleh seorang gembala. Kata gereja dalam bahasa-bahasa lainnya ialah “kerk” (Belanda), “church” (Inggris), “Kirche” (Jerman). Kata-kata itu mungkin saja berasal dari kata Yunani “kuriake”, artinya yang adalah milik Kuriuos. Kurious ialah Tuhan (Allah, Yesus).

Dalam kitab Perjanjian Baru untuk gereja dipergunakan kata Yunani ‘ekklesia’. Artinya di panggil dari antara orang banyak”. Jadi, gereja ialah persekutuan orang-orang yang di panggil yang kemudian menjadi milik Allah. Untuk menyelami panggilan sebagai orang -orang yang di panggil kepada terang, gereja harus menyadari apa sesungguhnya arti dari gereja itu sendiri. Gereja adalah umat Allah yang dipersatukan oleh Roh Kudus, Gereja sabagai sarana kehadiran Kristus di dunia ini dan di panggil untuk melanjutkan karya-Nya. Konsekuensi gereja sebagai sarana kehadiran Kristus di dunia ini ialah melahirkan gereja yang berdimensi dua, yakni dimensi ilahi dan dimensi organisasi(insani). Dimensi ilahi diatur oleh (Roh dan Kebenaran menurut kehendak Bapa tanpa campur tangan manusia) pengakuan dan dimensi organisasi (insani) diatur oleh manusia tetapi atas persetujuan Allah melalui tata cara gereja). Gereja sebagai dimensi ilahi atau yang tidak kelihatan adalah gereja yang ada di dalam iman, sedangkan gereja sebagai dimensi organisasi atau yang kelihatan adalah yang dapat dilihat oleh indra yang berhubungan dengan tempat dan organisasinya.

Gereja sebagai organisasi merupakan sebuah lembaga yang memiliki perangkat organisasi, lengkap dengan struktur organisasi, kepemimpinan dan anggotanya. Gereja yang kelihatan itu dilihat sebagai komunitas yang hadir dalam ruang dari waktu tertentu. Sedangkan gereja yang tidak kelihatan ialah gereja yang ada di dalam iman yakni persekutuan orang percaya yang dibangun oleh Allah melalui pekerjaan Roh Kudus di mana Kristus sebagai kepalanya. Mengenai dimensi organisasi. (Bolan dan Niftrik) mengatakan bahwa gereja mengingatkan kita kepada suatu organisasi tertentu, baik suatu organisasi setempat (dengan suatu majelis gereja dan seorang pendeta) maupun suatu organisasi yang meliputi wilayah yang lebih besar (kantor sinodenya dianggap sebagai pusatnya)
Gereja yang ada sebagai organisasi pada masa kini seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa tidak terlepas dari sejarah atau latar belakang terbentuknya.

Terbentuknya gereja sebagai sebuah organisasi tidak terlepas dari pengaruh orang-orang yang ada di dalam gereja itu sendiri dan juga pengaruh dari luar dimana gereja itu lahir, baik itu dari segi sosial, politik dan juga budaya. Dalam perkembangannya secara organisasi, gereja sejak lahirnya hingga saat ini banyak mengalami masalah salah satu diantaranya ialah adanya perpecahan dalam gereja. Perpecahan yang terjadi biasanya dilatarbelakangi oleh adanya ketidaksepahaman antara oknum-oknum dalam gereja itu sendiri dan juga pemahaman doktrin yang berbeda. Sejarah gereja mencatat bahwa perpecahan besar yang pernah terjadi dalam gereja ialah pada saat lahirnya reformasi pada abad ke-16 di Jerman yang dipelopori oleh Martin Luther, yang pada saat itu menjadikan gereja terbagi dua yakni Gereja Katolik Roma dan Gereja Kristen Protestan. Namun sebelum perpecahan besar tersebut terjadi terlebih dahulu telah terjadi juga perpecahan dalam gereja secara organisasi yang telah terjadi sejak abad ke-4 yakni terpecahnya gereja menjadi dua bagian yakni Gereja Timur dan Gereja Barat. Gereja Timur meliputi Gereja Ortodoks Timur, Gereja Nestorian dan Gereja-gereja Monofisit sedangkan Gereja Barat meliputi Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan yang adalah buah dari reformasi Marthin Luther dan kawan-kawannya. Gereja sebagai persekutuan orang percaya membentuk suatu perkumpulan atau perhimpunan yang kemudian dikenal dengan istilah jemaat.

Lebih luas dari jemaat terbentuklah sinode yang merupakan suatu lembaga yang terdiri dari himpunan atau perkumpulan dari beberapa jemaat. Berbicara mengenai sinode gereja, GIDI merupakan salah satu didalamnya dan tentunya memiliki catatan sejarah seperti gereja lainnya misanya Babtis, GBI, GKI, GJRP, GPIT, GIPJ dan organisasi-organisasi lainnya yang berdiri sebagai sebuah persekutuan tentulah memiliki latar belakang sejarah berdirinya sebuah sinode.

Sejarah Singkat Kelahiran Pemilik Bumi

Dalam artikel ini penulis ingin menceritakan secara singkat Awal mula berdirinya Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Judul dari artikel ini adalah Kehadiran Pemilik Bumi Tidak Jauh Berbeda Dengan Berdirinya Gereja Pribumi. Tulisan ini dimaksudkan bukan untuk menjelaskan bahwa Tuhan Yesus sama dengan gereja tetapi kenyataannya pelayanan kelahiran Yesus di Israel tanah Yudea ternyataan persis dengan kelahiran dan perkembangan gereja pribumi yakni gereja Injili Di Indonesia.
Siapakah Yesus?. Ia adalah pemilik langit dan bumi. Ia sudah lahir diperkirahkan abad ke 6 SM (Lukas 2 :1-20). Ia lahir dalam sebuah kandang. Kandang adalah tempat tinggal binatang atau hewan. Maria merebahkan Yesus dalam palungan, yaitu tempat makanan bagi keledai dan binatang-binatang lain. Sudah tempat itu kotor, bauh, pinggir kota, tempatnya tidak layak dan hina Tapi mengapa Maria dan Yusuf tinggal bersama binatang-binatang itu? Tapi inilah sebabnya mengapa mereka sampai tinggal di sini? Tetapi apa yang telah terjadi ketika Tuhan Yesus adalah yang adalah sang Juruselamat yang dijanjikan Allah kepada Abraham bahwa “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12 : 4).

Walaupun Yesus di lahirkan dikandang yang hina tetapi oleh pertolongan Rohkudus dengan Kehendak Bapa bekerja melalui Kelahiran-Nya, Kehidupan-Nya, pelayanan-Nya jalan kaki dari rumah ke rumah dengan tinggalkan jabatan ke-Allahannya sehingga manusia mengalami ciptaan baru ( 1 Korintus 5 :17) Terang dan cahaya Kristus menerangi setiap suku bangsa mendengar berita tentang Dia yang adalah pemilik bumi/Sang kreator kalik langit dan bumi itu. Itulah Yesus yang pernah di lahirkan di kandang Betlehem yang adalah tempat yang tidak layak itu sampai sampai raja-raja kaget bingung dan panik karena dari kesederhanaan menuju keilahian (Injil Yohanes 1 : 1-10).

Itulah sejarah singkat kelahiran Yesus Sang Imanuel dahulu sekarang dan selama-lamanya.
Gereja Injili Di Indonesia adalah satu satu gereja yang di lahirkan dari tempat yang semestinya menurut dunia tidak harus bentuk tetapi atas pertolongan Tuhan Yesus sendiri mampu berbicara kepada telingah pada para pendiri gereja sehingga dengan apa adanya lahirlah gereja ini dan nyatanya hari ini kita melihat buah pertobatan bukan kemana-mana tetapi ada dimana-mana. Oleh karena itu jangan ragukan dengan gereja ini. Dalam kesederhanaan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya (Roma 1 : 16-18).

Sejarah Singkat Status Gereja Pribumi

Gereja ini berdiri sejak tanggal 12 Februari 1962. Terdaftar pada : Departemen Agama RI di Jakarta Nomor: E/Ket/385-1745/76. Daftar Ulang: F/Ket/43-642/89. Akta Nomor: 15 Tanggal06 Januari 1989. Bentuk: Otonom dan Gereja Nasional. Masa Berlaku: Tak Terbatas. Sistem Pemeritahan: Presbiterian-Kongregasional.
Gereja GIDI secara keseluruhan terdiri dari 8 Wilayah Pelayanan di seluruh Indonesia. Terdiri atas 61 Klasis, 11 Calon Klasis. Memiliki 2 buah rumah sakit swasta: Klinik Kalvari di Wamena dan rumah sakit Immanuel di Mulia. Pendidikan: sekolah Tingkat Atas: STAKIN, SAID. Perguruan Tinggi: STT GIDI di Sentani. Sekolah Alkitab berbahas daerah (Lokal): 7 buah. TK-PAUD 5 buah, SMP dan SMU sebanyak 9 buah tersebar di seluruh wilayah GIDI.

Gereja GIDI pertama kali dirintis oleh tiga orang dari Badan Misi UFM dan APCM yaitu Hans Veldhuis, Fred Dawson, Russel Bond. Setelah merintis pos di Senggi termasuk membuka lapangan terbang pertama Senggi (1951-1954), pada tanggal 20 Januari 1955 ketiga misionaris beserta 7 orang pemuda dari Senggi terbang dari Sentani tiba di Lembah Baliem di Hitigima menggunakan pesawat amphibi “Sealander”. Kemudian mereka melanjutkan misi dengan berjalan kaki dari Lembah Baliem ke arah Barat pegunungan Jayawijaya melalui dusun Piramid. Dari Piramid bertolak menyeberangi sungai Baliem dan menyusuri sungai Wodlo dan tiba di Ilugwa. Setelah mereka beristirahat lanjutkan perjalanan ke arah muara sungai Ka’liga (Hablifura) dan akhirnya tiba di danau Archbol pada tanggal 21 Februari 1955.

Di area danau Acrhbold disilah pertama kali mereka mendirikan Camp Injili dan meletakkan dasar teritorial penginjilan dengan dasar visi: “menyaksikan Kasih Kristus Kepada segala Suku Nieuw Guinea”, didasarkan pada Kisah Para Rasul 1:8. Dalam tahun itu pula pada tanggal 25 Maret 1955 pesawat jenis JZ-PTB Piper Pacer berhasil mendarat di Danau Archbold. Mereka membuka lapangan terbang di Archbold sambil mengadakan survei pengembangan pelayanan di sekitar Bokondini dan Kelila. Nama danau Archbold diambil dari nama seorang ahli Zoologi dan dermawan yang mensponsori ekspedisi biologis untuk New Guinea di tahun 1907-1976 bernama Richard Archbold.
Pada bulan Maret 1955 Bert Power dan Ross Bertell tiba di Bokondini. Selain misi UFM, Gesswein dan Widbin bersama Misi ABMS lainnya meninggalkan Camp Injili Archbol pada tanggal 28 April dan tiba di Bokondini pada tanggal 1 Mei 1955.Di Bokondini membuka lapangan terbang pertama tanggal 5 Juni 1965 dan Pilot Dave Steiger mendaratkan pesawat pertama kali di Bokondini.Sejak itulah secara resmi membuka Pos UFM dan APCM di Bokondini sebagai basis penginjilan di seluruh pegunungan tengah Papua.

Pada tanggal 5 Juni 1957, pesawat MAF pertama kali mendarat di Swart Valley sekarang disebut Karubaga Wilayah Toli. Lalu, pada bulan Agustus 1958, tiga orang UFM : Ralph Maynard, Bert Power dan Leon Dillinger berjalan kaki dari Karubaga menuju ke daerah Yamo membuka lapangan terbang di Mulia.
Setelah membuka pos-pos penginjilan, sebagai hasil pertama dari Badan Misi UFM dan APCM melakukan pembaptisan pertama berjumah 9 orang di Kelila wilayah Bogo pada tanggal 29 Juli 1962. Inilah cikal bakal jemaat mula-mula dalam sejarah berdirinya Gereja Injili Di I ndonesia. Dan, baptisan yang kedua dilakukan pada tanggal 16 september 1962 di Bokondini dan disusul baptisan ketiga di Kanggime tanggal 27 Januari 1963. Sejak itu, terjadi pembaptisan diman-mana, suatu bukti Tuhan menunjukkan kasih yang besar kepada suku dan kaum bangsa Papua di wilayah besar pegunungan tengah Papua. Inilah awal permulaan dari kongregasional, suatu pertumbuhan orang-orang percaya yang kemudian menjadi sebuah gereja lokal yang otonom, independen dan demokrasi dengan sistem pemerintahan Kongregasional-Presbiaterian.
Pada waktu itu gereja pribumi ini semakin hari semakin bertumbuh dan mengalami kemajuan yang sangat pesat maka para pendiri bekerjasama dengan Tiga Badan Misi APCM, UFM dan RBMU bersepakat untuk mendirikan gereja dengan nama sendiri (terpisah dari gereja-gereja dari luar). Akhirnya pada tanggal 12 Februari 1963 mereka bersepakat memberi nama gereja ini pertama kali disebut Gereja Injili Irian Barat (GIIB) -1971 dengan pusat gereja di Irian Jaya. Pada tahun 1971 nama gereja GIIB diganti dengan GIIJ (Gereja Injili Irian Jaya) – 1988, sejalan dengan masa peralihan Irian Barat ke wilayah NKRI dimana nama Irian Barat diganti dengan Irian Jaya. Pada tahun 1988 nama gereja inipun ikut berubah menjadi Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan gereja dari tanah Papua meramba hingga ke pulau-pulau seluruh Nusantara Indonesia bahkan seluruh dunia.

Penulis menyadari sebagai warga gereja, pada momen bersejarah ini mengucap syukur atas Rahmat Tuhan dengan Memperingati Hari Ulang Tahun Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Yang Ke-58 Tahun. Tak lupa juga mengatakan Selamat Berkarya Bagi Kristus Sang Pendiri Gereja Ini, Yang Sedang Bekerja Gereja Ini Dan Akan Mengakhiri Gereja Ini Memberkati Kita Semua.

Daftar pustaka
1. ALKITAB /LAI
2. Aneke Ranting, Djoys Resolusi Konflik Dalam Organisasi
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017
3. Ariteneng Jan, S. Berbagai Aliran Di Dalam Dan Di Sekitar
BPK Gunung Mulia, 2011
4. Dalimond, A Metode Penelitian Sejarah, Jogjakarta Katalog Dalam Terbitan 2018
5. Purwantara, Iswara Rintis OIKUMENE. Mengapa ada berbabagai macam denominasi gereja.
6. Dokumen gereja GIDI dan AD/ART/ internet
7. Hasil wawancara dengan gembala jemaat Zetding Oksibil

Penulis adalah Anggota Aplim Apom Research Group dan Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura-Papua

Editor: Erick Bitdana