(*Oleh: Petrus Odihaypai Boga

“Keluarga tidak harmonis, masa depan anak-anak dipenjarakan dalam penjara globalisasi yang tidak ramah dan tuntutan kualitas dengan bobot manusia secara intelekual maupun moralitas kian meningkat”

Saya selalu merasa bangga dengan generasi muda Papua yang kreaktif, inovatif, produktif, berbudaya, berbakat seni, dan memiliki cita-cita yang tinggi, harapan yang menawan dan sikap bijak dalam membela jati diri serta keberanian dalam perjuangan hidup. Sungguh mengagumkan, bahwasannya banyak orang muda Papua mengibarkan panji kemenangan dalam hidupnya. Mereka adalah pemenang dalam hidup. Artinya, mereka adalah orang-orang yang berani mendobrak tantangan globalisasi yang tidak ramah dan telah mencapai cita-citanya dalam kemajuan. Dalam hal ini, saya ter-salut dengan dukungan orang tua, pemerintah, lembaga yayasan dan pihak lainnya, yang selalu dengan cara masing-masing mendukung peningkatan karier para generasi muda, baik melalui kesempatan belajar, fasilitas belajar dan lapangan ekspresi diri orang muda.

Mengikuti perkembangan generasi muda Papua di masa kini, baik melalui media masa maupun di tempat-tempat studi serta upaya meningkatkan kualitas manusia Papua yang diupayakan oleh berbagai pihak, sangat luar biasa peningkatan menghasilkan manusia Papua yang berbobot, bermarifat, bermoral dan bertanggung jawab. Ada pula upaya yang berjasa untuk mengurangi kuantitas konsumen narkoba dan miras di tanah Papua oleh berbagai pihak demi memperjuangkan generasi muda mengendalikan dan mengembalikan pada rumpun hidup yang baik dan benar sebagai manusia beradap, bernilai luhur, berbudaya dan penuh bertangggung jawab pada hidup baik secara personal maupun hidup dalam bermasyarakat.

Keluarga adalah ladang benih kesuksesan generasi muda

Memang sejauh ini upaya bersama untuk meningkatkan kualitas manusia di kalangan generasi muda di tanah Papua sangat banyak dan bermutuh, namun ada satu faktor penghambat upaya meningkatkan kualitas generasi muda Papua yang sedang membusuk dan menyebar, yakni ketidakharmonisan hidup di kalangan sekelintir keluarga. Secara realitanya kehidupan berkeluarga dalam sekian banyak keluarga di tengah masyarakat di tanah Papua dan Indonesia pada umumnya tidak harmonis lagi. Setiap hari bertengkar, cemburu, ribut, tidak ada kesempatan doa, diskusi, belajar bersama anak-anaknya, bahkan terjadi penceraian di mana-mana. Ketidakharmonisan ini sangat amat besar dampaknya pada perkembangan anak-anaknya yang adalah aset-aset bangsa.

Secara psikologis sangat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kematangan karakter dan kepribadian sebagai sosok yang sejati. Sosok yang sejati adalah pribadi yang normal, memiliki cita-cita, impian, harapan dan mempunyai greget yang mapan dan tekun serta ulet untuk memperjuankan tujuan hidupnya. Mereka terlihat bertanggung jawab pada apa saja yang mereka perjuangkan. Setiap perbuatannya memiliki nilai dan dampak positif bagi dirinya dan sesama. Setiap tindakan yang tidak ramah dalam rumah tangga, kepribadian anak terbentuk menjadi pribadi yang tidak percaya diri, minder dan arogan, apatis, dan skeptis.

Ada dua factor yang menyebabkan keluarga tidak harmonis, yakni faktor interen dan eksteren. Factor interen adalah hal-hal yang kurang bina dari dalam diri, seperti terbatas pemahaman nilai-nilai hidup yang baik dan benar. Terbatasnya memiliki dan menghidupi nilai-nilai moral yang berasal dari ajaran sosial, budaya, dan ajaran agama serta kurang mampu menginternalisasikan ajaran dan tradisi leluhur. Faktor intern lain adalah terbatasnya kemampuan merencanakan dan merancang suatu keluarga yang harmonis pada usia pranikah. Sedangkan faktor ekstern adalah keterbatasan seseorang dalam kemampuan untuk menerima dan memupuk hal-hal baik dari luar baik dari sesama atau melalui situasi lingkungan yang mendukung mencapai terciptanya suatu keluarga yang harmonis, seperti tidak menerima nasehat, saran, dan tidak mau meniru teladan hidup sesama yang baik serta menolak sikap simpatik sesama yang membantu keluarga menjadi harmonis.
Kedua faktor ini sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi politik dan ekonomi saat ini di tanah Papua.

Kalangan terpelajar terjung ke dunia politik untuk mencari sebuah kedudukan di lembaga eksekutif maupun legislatif.

Di antara para perebut kursi Dewan perwakilan daerah (DPR) maupun kepala daerah (Bupati) dengan jumlah banyak itu mengorbankan banyak kehidupan keluarga yang harmonis. Karena pada realitasnya pemekaran kabupaten di tanah Papua semakin banyak dan sekian juta kepala keluarga melupahkan dan meninggaalkan istri dan anak tanpa memenuhi kebutuhan keluarga di rumah, dengan alsan tim kampanye atau tim sukses dari salah satu calon DPR atau Bupati.

Selain itu hidup ekonomis masyarakat Papua pun sangat memperhatingkan dan pemerintah tanpa tahu latar belakang hidup masyarakat, selain PT Freeport membuka pula banyak perusahaan di mana-mana dengan alasan menyediakan lowongan kerja atau wadah memenuhi kebutuhan ekonomis masyarakat setempat di seluruh pelosok tanah Papua baik melalui negosiasi bersama pemilik ulayat maupun perusahan-perusahan illegal, seperti: Perusahan minyak, dan gas, emas dan kayu, gaharu dan kelapa sawit, batu bara dan pasir. Jadi sekian banyak kepala keluarga meninggalkan dan melupahkan anak dan istrinya di rumah tanpa ada jaminan hidup yang memelihara keharmonisan hidup dengan alasan mencari uang. Pada kenyataannya banyak laki-laki cepat terkontaminasi dengan situasi setempat baik dalam situasi politik maupun di perusahan, sehingga banyak yang mabuk dan konsumsi narkoba.

Akhirnya kehilangan keluarga yang ditinggalkannya karena tidak ada solusi lain untuk kembali pada istiri dan anak-anaknya hanya menikmati kenikmatan sesaat dengan keberadaan setempat.
Bermula dari ekasistensi di atas ini terciptalah realitas baru dalam keluarga. Tuntutan finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin meningkat.

Namun tanggapan para sekilintir kepala keluarga tidak positif pada tuntutan tersebut, sehingga terjadi konflik dalam keluarga. Sekian lama tidak hidup bersama dengan alasan suami cari uang dan terjadi cemburu di antara suami dan istri. Cemburu terjadi karena kesalapahaman di antara suami dan istri dan berbeda pendapat dalam mengambil keputusan bersama. Realitas ini ini, merusak benih harapan masa depan anak-anaknya. Anak-anak merasa tekanan. Tidak ada kebebasan. Mereka merasa tidak dihargai. Tidak ada kesempatan mengembangkan cita-cita dan bakatnya sejak usia dini. Mereka kehilangan damai, suka cita, kegembiraan, cinta dan belaskasihan dari orang tua, perhatian dan pelukan hangat dari orang tuanya. ia merasa ladang harapannya rusak, bibitnya kesuksesannya terancam punah.

Keluarga rusak benih kesuksesan anak terancam punah

Hal terpenting yang disampaikan adalah beberapa masalah ini sangat berdampak pada perekmabangan anak. Secara psikolgis semua orang pada usia anak atau remaja membutuhan rasa dicintai dan perhatian yang intim dari orang tua. Pada usia remaja membutuhkan pula kesempatan dan kebebasan yang terjaga, teratur, terkontrol, dan dukungan, pujian dari orang tua dalam upaya mencari jati dirinya. Namun sekian banyak anak mengalami kelumpuhan mental fisik dan fisikis. Maka mereka menjadi pribadi yang tidak percaya diri, arogan dan selalu ditakuti oleh perasaan takut dan trauma. Jadi harapan dan jalan menuju masa depan yang lebih berpengharapan, sekian besar persen tanpa disadari kehilangan arah. Akibatnya yang terjadi adalah mereka menjadi sosok yang berpengetahuan tetapi takut, tidak percaya diri dan sempit ruang berpikir dan aktivitasnya. Selain itu yang sangat prihatin adalah banyak anak muda pada generasi ini berputus asa, karena beban hidup yang dibebadi dari keluarga,
Banyak anak muda yang berperan sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga pengganti orang tua yang telah cerai demi menjaga dan memelihara kehidupan adik-adiknya. Mereka mengorbankan segala cita-cita dan masa depan mereka yang telah bertumbuh sebelum orang tuanya bercerai. Di antara golongan anak muda ini, sebagian besar mereka menjalani hidup dengan beban hidup yang unik. Mereka ini diperhatikan kedua orang tuanya, tetapi kedua orang tuanya telah lama berpisah dan mereka dibesarkan sebagai anak tiri dari suami atau istri kedua. Sangat disayangkan kerena harapan mereka untuk dicintai dan dikasihi dari orang tua amat sangat besar. Mereka ini selalu mengalami banyak pengalaman sesat dalam perjuangan hidup mereka. Mereka memang diberi finansial dari kedua orang tuanya, tetapi yang dibutuhkan adalah perhatian dan cinta. Bebannya adalah tidak ada harapan duduk bersama kedua orang tua kandung dalam waktu yang aman dan damai. Derita ini sering mereka menanggung sendiri. Parah penderitaan mereka dibading mereka yang mengalami sakit fisik, sebab sakit fisik bisa diobati namun penderitaan mental dan psikologis ini tidak ada obat selain diobati sahabat atau orang dipercayai mereka melalui diskusi secara internal dan terkontrol. Masa depan mereka terhimpit dalam masalah dan harapannya pudar dalam waktu sesaat yaitu ketika mengalami kehilangan kasih dan cinta dari orang tua.

Oleh karena itu, Orang-orang yang ada di usia ideal menikah harus persiapan yang matang dan yang sudah berkeluarga terus memelihara relasi yang penuh damai dan ramah ketika sebelum memiliki anak. Keluarga adalah dasar pijakan masa depan anak dan bangsa, panggal kehidupan yang damai dan bahagia yang berkepanjangan. Penulis merasa sangat penting jika masalah ini menyadari dan menangani secara bersama, jaksama dan bijaksana oleh semua pihak teristimewa memulai dari keluarga. Keluarga yang terjaga keharmonisan adalah wadah ampuh menyemaikan benih-benih manusia yang berguna, bermarifat, bermoral dan bertanggung jawab pada bangsa dan tanah air. Orang muda yang dicintai, dikasihi, diperhatikan, dijaga, dipelihara, dilindungi, didorong, di motivasi dikontrol dalam mencerca dan menata masa depan melalui pembinaan, pendidikan dan sosialisasi awal dalam keluarga adalah aset-aset bangsa yang akan mampu menjaga dan memelihara identitas, totalitas, integritas bangsa dan Negara ini. Setiap keluarga sebaiknya, dalam globalisasi modern yang tidak ramah ini jangan menjadi “penjara” bagi generasi muda, melainkan jadilah keluarga yang mampu menyediakan wadah yang aman, damai atau harmonis untuk menyelamatkan masa depan generasi mendatang.

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur. Anggota Kebadabi Voice

Editor: Erick Bitdana