Gagasan Theodor Adorno Mengenai Pribadi Otoriter, Anti-Semitisme, dan Psikodinamika Modernitas

(*Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Theodor Adorno menganggap penting mempelajari patologi budaya (terutama fasisme) secara sosiologis dan psikologis. Menurut Adorno, meneliti peran otoritarianisme irasional dalam kebangkitan fasisme dan anti-semitisme di Eropa selama Perang Dunia II merupakan sesuatu yang penting secara politik. Adorno menemukan dalam pemimpin fasis, rezim fasis, dan propaganda fasis, logika psikodinamik yang mempunyai karakter sadomasokis (sado-masochistic character). Karakter sadomasokis merupakan keinginan untuk menghancurkan dan merendahkan yang lain.

Menurut Adorno, ketidaksadaran yang tertekan terbentuk oleh situasi dan kondisi sosial serta politik. Karena keyakinan politik, ekonomi, dan sosial membentuk pola yang luas serta koheren. Terdapat tiga elemen kunci dalam tesis Adorno mengenai otoritarianisme irasional yang menyebar ke seluruh masyarakat modern. Pertama, akhir individu (end of the individual). Kedua, kemenangan ketidaksadaran atas kesadaran diri. Ketiga, tindakan membunuh yang terkait dengan kecenderungan fasis atau identitas otoriter.

Kebangkitan otoritarianisme irasional berasal dari pemahaman bahwa telah terjadi perubahan besar dalam cara masyarakat membentuk individu. Selain itu, masyarakat kontemporer mengalahkan individu melalui budaya massa yang monoton dan standar. Terkait hal ini, masyarakat kontemporer menghasilkan tipe karakter sosial otoriter.

Pada dasarnya individu rentan terhadap ideologi fasis. Menurut Adorno, ketika individu berhadapan dengan kelompok besar, ia tidak mengidentifikasi cita-cita egonya (ego-ideals) dan mengarahkan diri pada cita-cita kelompok (group ideals). Identifikasi dengan kelompok mengakibatkan represi pada individu. Sebagaimana dikatakan Adorno, propaganda fasis mengubah agresi menjadi rasisme dan kebencian terhadap yang lain.

Perlu diketahui bahwa pemimpin fasis menjadi penjamin ikatan sosial sejauh ia tidak lagi mewakili otoritas sosial yang superior. Namun, pemimpin fasis jarang menampilkan diri sebagai figur otoritas tradisional. Pemimpin fasis cenderung menampilkan diri sebagai orang yang menantang bentuk tradisional otoritas patriarki.

Individu didominasi oleh impuls bawah sadar yang merana dalam cengkeraman tatanan sosial yang kuat. Terkait hal ini, teori sosial berfokus pada individu dan memanfaatkan aspek aktivitas manusia yang tidak disadari untuk penelitian sosial. Dalam sebuah penelitian, dimensi pribadi ideologi fasis mempunyai sembilan ciri.

Pertama, konvensionalisme (conventionalism), ketaatan pada nilai-nilai kelas menengah dan tidak fleksibel terhadap yang lain. Kedua, penyerahan otoriter (authoritarian submission), orientasi yang tidak kritis dan tunduk pada figur otoritas. Ketiga, agresi otoriter (authoritarian aggression), kecenderungan mencari orang-orang yang melanggar nilai-nilai konvensional dan menghukumnya.

Keempat, anti-intraception (penolakan imajinasi, kreativitas, dan berpikiran emosional). Kelima, stereotip dan takhayul (stereotype and superstition), percaya pada takdir dan pengaturan dunia melalui stereotip yang kaku. Keenam, kekuasaan dan ketangguhan (power and toughness), penyataan kekuatan yang berlebihan dan membuat dikotomi dominasi-penyerahan, kuat-lemah, dan pemimpin-pengikut.

Ketujuh, kehancuran dan sinisme (destructiveness and cynicism), permusuhan serta kebencian terhadap yang lain. Kedelapan, proyektivitas (projectivity), proyeksi aspek emosional yang tidak diinginkan dari diri sendiri ke orang lain. Kesembilan, seks (sex), perhatian berlebihan terhadap aktivitas seksual orang lain.

Kepribadian otoriter telah dikritik sebagai upaya mereduksi fenomena sosial otoritarianisme yang kompleks ke tingkat psikologi individu. Terkait hal ini, Adorno menilai bahwa pembentukan identitas dan terutama patologi diri tertanam dalam struktur kehidupan sosial. Sedangkan analisis ciri-ciri kepribadian dalam kaitannya dengan otoritas (secara khusus anti-semitisme), hanya dapat dilakukan secara memadai dengan referensi sosiologis untuk melakukan perubahan dalam keluarga, budaya, dan ekonomi.

Sumber Bacaan:

Adorno, Theodor. Minima Moralia: Reflections from Demaged Life. Penerj. E. F. N. Jephcott. London: NLB, 1974.

Lemert, Charles C. dan Anthony Elliott. Introduction to Contemporary Social Theory. New York: Routledge, 2014.