(*Oleh: Yohanes Wahyu Prasetyo OFM

Sains merupakan salah satu pendekatan atau metode yang digunakan untuk memahami realitas berdasarkan cara kerja ilmiah. Perlu diketahui bahwa sains merupakan penemuan yang relatif baru, dikembangkan pada abad enam belas dan tujuh belas. Terkait hal ini, Francis Bacon (1561-1626) merupakan filsuf yang mempunyai perhatian besar terhadap sains.

Dalam sains, ilmuwan mengumpulkan data melalui observasi dan eksperimen. Hal ini dilakukan dalam rangka membuat rumusan hipotesis dan teori. Selanjutnya, teori yang sudah ditemukan diuji atau diperiksa melalui observasi.

Pengujian teori yang bersifat sistematis dan ketat merupakan landasan metode ilmiah sains. Karena teori dan prediksi yang ditemukan harus jelas serta presisi. Dengan kata lain, dapat diukur secara matematis, objektif, dan tepat.

Karena ilmuwan adalah manusia, mereka rentan terhadap tekanan sosial, psikologis, dan finansial. Realitas tersebut seringkali berpengaruh ketika ilmuwan melakukan observasi dan merumuskan teori.

Sehingga tidak mengherankan apabila teori yang dirumuskan terkadang bias. Namun, penerapan metode ilmiah yang ketat pada dasarnya mampu mengantisipasi terjadinya bias dalam sebuah teori.

(Artikel terkait sudah diterbitkan di JPIC OFM Indonesia)

Sumber Bacaan:

Law, Stephen. “Science, Reason, and Scepticism.” Dalam Andrew Capson dan A.C. Grayling (editor). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Chichester: John Wiley & Sons, 2015, hlm. 55-71.