Kekerasan Terhadap “Wajah Yang Lain” Sebagai Bentuk “Wajah Allah” Yang Menderita di Tanah Papua

     (Sebuah Analisis teologis)

(*Oleh: Novilus K. Ningdana

Kekerasan dan kekerasan menjadi realitas kehidupan manusia. Di sekitar kita pasti saja ada kekerasan, misalnya menyebarkan berita hoax, saksi dusta, berbohong, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Kekerasan dikategorikan menjadi dua, yakni kekerasan fisik dan non fisik. Fisik seperti membunuh, memperkosa, menganiaya, mengancam, meneror, dan sebagainya yang merusak keharmonisan hidup dan bahkan menghilangkan nyawa seseorang.Dan kekerasan non fisik seperti korupsi, rasisme, fitnah, berbohong, dan saksi dusta. Namun apa pun bentuk kekerasan antar manusia dapat merusak harmoni kehidupan dan citra manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.

Kita pun menyadari bahwa subjek dan objek kekerasan ialah manusia yang memiliki akal budi untuk berpikir, bersikap dan bertindak secara tepat dan benar. Namun kehidupan melaporkan bahwa manusia yang berbudi itulah yang menciptkan kekerasan terhadap sesama dan alam ciptaan. Ironisnya manusia dapat melakukan kekerasan terhadap sesama yang serupa dan segambar sebagai wujud lain dari dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena manusia tidak mempu mengelolah akal budinya secara sehat, tepat, dan benar demi penghormatan dan keluhuran martabat manusia.

Sebagaimana dalam dasar biblis dikatakan bahwa manusia secitra dan segambar dengan Allah (Wajah Allah Yang Lain), manusia dalam kehidupannya di tengah sesama yang lain semestinya menjaga Imago Dei (wajah Allah) itu sebagai wujud dari manifestasi diri-Nya yang transenden dalam inkarnasi. Artinya bukan mentuhankan manusia namun melihat wajah sesama sebagai Allah yang tampak, rill dan ada bersama aku dalam kehidupan.

Manusia sebagai wajah Allah yang patut dilindungi, dihormati dan mendapat hak-hak hidup pun terancam dalam kehidupan kini karena ketidakmampuan akal budi dalam mengerti dan memahami nilai-nilai kemanusiaan. Dan juga manusia menyalahgunakan kebebasan otonomi dan eksistensial untuk merusak dan membunuh wajah yang lain karena impian akan harta duniawi.

Dalam kehidupan orang Papua kekerasan terhadap wajah yang lain sebagai manifestasi wajah Allah sering ditemukan sebagai sebuah realitas hidup. Maka dalam pembahasan ini akan dikaji tentang kekerasan Negara terhadap orang Papua sebagai pembunuhan wajah yang lain. Beberapa pertanyaan yang mendapat perhatian penting ialah siapakah wajah Allah? Adakah wajah Allah dalam diri wajah orang Papua? Apakah wajah yang lain sebagai wajah Allah yang menderita di tanah Papua?

WAJAH ALLAH

1. Allah Tampil dalam Wajah Manusia.

Dalam pergulatan teologi Allah menjadi manusia tidak terlepas dari Misi keselamatan Allah terhadap manusia, yakni Allah harus menjadi sama seperti manusia untuk membawa mereka kepada Allah. Pada abad IV dan selama abad V kontroversia Kristologi Yesus Kristus sungguh manusia dan sungguh Allah diperdebatkan dalam dua perguruan tersohor, Antiokhia dan Aleksandria. Perguruan Antiokhia memikirkan misteri Inkarnasi lebih menurut pola Paulus dalam Flp 2:7 (Logos “mengambil rupa seorang hamba”, menjadi “sama dengan manusia” dan Aleksandria, inkarnasi lebih dipikirkan menurut pola Yoh 1:14 (Logos itu “telah menjadi manusia”. Terlepas dari kontroversi di atas saya menekankan bahwa secara dogmatik bahwa Yesus “sungguh Allah” dan “sungguh manusia”. Yakni Allah tampil dalam wajah yang lain sudah terjadi sejak penciptaan manusia pertama yakni Adam dan kemudian Hawa (Kej 1:26-27). Sejak penciptaan Allah telah tampil dalam wajah manusia yang serupa, segambar dan secitra dengan diri-Nya.

Dalam pandangan pra-eksistensi Yesus Kristus wajah Allah tampak dalam Trinitas yakni Bapa, Putra dan Roh Kudus. Wajah pra eksistensi akan tampak dalam eksistensi Yesus Kristus sebagai Putra Allah. Persatuan Firman menjadi manusia itu terjadi melalui inkarnasi. “Firman telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Artinya bahwa Firman yang hadir dalam kerapuhan kemanusiaan. Dengan demikian, wajah kemanusiaan, wajah korban itulah yang menjadi tanda kehadiran Allah di tengah-tengah manusia, namun bukan korban pasrah pada nasib melainkan mempunyai harapan karena Allah berpihak pada mereka. Itulah bukti solidaritas Allah pada manusia yang menderita, ditindas, putus asa, berpengharapan, dan lapar.Keberpihakan Allah dapat menyelamatkan, membebaskan, mendamaikan dan memerdekakan manusia dari maut. Puncak dari kemenangan wajah keilahian Allah ialah salib Yesus Kristus.

2. Wajah Allah Yang Menderita

Allah yang menderita ialah wajah Allah yang solider terhadap kemanusiaan dalam diri Yesus Kristus. Selain eksistensi-Nya sebagai manusia Ia pun merendahkan diri-Nya bersama manusia yang menderita, lapar, haus, dicemoh, diteror dan ditangkap. Akhrnya Ia menanggung segala dosa dan kelemahan kemanusiaan dalam jalan salib. Inilah bukti kasih Allah yang tak terlampaui dengan menyerahkan Anak-Nya (Rm 8:35.39) sampai pada salib. Wajah yang penuh belas kasihan terhadap manusia rela mengorbankan diri-Nya. Dalam seluruh peristiwa kehidupan hingga berpuncak pada salib, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang menderita.

Yesus sebagai Sakramen Allah dalam mengantar manusia kepada Diri-Nya. Sebagai sakramen, Yesus meghadirkan di dalam diri-Nya sakramen keselamatan Allah, sehingga menjadi jalan bagi manusia untuk menuju Allah. Dialah jalan kebenaran dan hidup. Yesus benar-benar menghadirkan Allah dalam wajah yang berlumuran darah, keringat, haus, dan mati di kayu salib sebagai undangan untuk bersatu dengan Allah. Perjumpamaan ataupun pendamaian manusia dan Allah hanya dapat terjadi kalau Allah menyapa manusia, Allah hadir dalam penderitaan manusia dan bersatu dengan manusia. Allah tidak terlena dalam penderitaan manusia, namun Ia berusaha mengeluarkan manusia dari penderitaan tersebut. Itulah wajah Allah yang menderita dalam kehidupan manusia hingga berpuncak pada kematian di kayu salib.

III. RELEVANSI KONTEKS DALAM WAJAH ORANG PAPUA

1. Kekerasan Terhadap Wajah Yang Lain Di Tanah Papua

Konflik sosial politik di tanah Papua terjadi antara orang Papua dan representasi Negara Indonesia di tanah Papua. Konflik yang berkepanjangan sejak tahun 1963 hingga kini belum terselesai secara tuntas. Di Papua, wajah Negara yang hadir ialah TNI/Polri untuk menjaga wilayah kesatuan Republik Indonesia. Namun sejarah mencatat bahwa orang Papua memiliki pengalaman buruk bersama Indonesia. Misalnya sejak integrasi Papua dalam NKRI, Papua dijadikan daerah oprasi militer. Pembunuhan dan penculikan terhadap aktivis pro merdeka terjadi sejak dibentuknya gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) hingga kini. Juga penyisiran, penangkapan, pemblokiran ruang demokrasi, terror, pengejaran, penembakan dan pembunuhan pun dialami oleh orang Papua. Begitu pula dalam dimensi kehidupan lainnya seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, pun masih cacat. Sumber daya alam Papua pun digaruk hingga kering dan menyebabkan kesakitan dan kematian warga. Juga konflik bersenjata tercacat sering terjadi terhadap warga sipil, misalnya di area tambang Freeport. Inilah bentuk-bentuk wajah Negara yang hadir merusak dan membunuh wajah orang Papua.

2. Wajah Yang Lain Sebagai Wajah Allah Yang Menderita.

Wajah yang lain sebagai orang asli Papua dengan berbagai kekerasan dalam subdimensi kehidupan dapat merusak tatanan hidup baik, hidup berlimpah dan hidup ceriah. Seolah-olah wajah orang Papua di mata Negara merupakan domba yang harus diterkam oleh serigala. Pada hal orang Papua merupakan manusia yang sama seperti orang Indonesia lainnya. Wajah bukan dilihat dari perbedaan ciri-ciri fisik namun seluruh diri sebagai citra yang sama dengan Tuhan. Sebenarnya mereka yang melakukan tindakan menghilangkan nyawa sesama sama halnya dengan mengancam dan membunuh dirinya sendiri yang ada dalam diri orang lain. Orang lain adalah diriku dan diriku ada dalam orang lain sehingga saya harus menghargai, melindungi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dalam ajaran kristiani bahwa “Jangan Membunuh” merupakan pesan moral untuk mencintai sesama sebagai diriku yang lain.
Orang Papua sebagai korban atas kekerasan Negara pun memiliki wajah Allah sebagai makhluk ciptaan Allah. Maka ketika Negara membunuh orang Papua maka ia sama dengan membunuh wajah Allah dalam diri sesama, dan sebaliknya. Begitu pula berbagai gelombang kejahatan dan kekerasan yang terjadi pada orang Papua. Allah pun solider dalam penderitaan orang Papua. Pries berbicara mengenai keberpihakan Allah dengan orang-orang yang tersingkir dan menderita.

dalam akhir tulisan ini, penulis memahami bahwa beragam kekerasan dapat merusak kehidupan manusia pada sub dimensi kehidupan. Manusia adalah subyek dan obyek kekerasan maka konflik ini perlu diselesaikan oleh manusia sendiri dengan cara dialog humanis. Wajah-wajah Indonesia dalam TNI/Polri dan kapitalisme serta pemerintah dapat merusak dan juga memperbaruhi kehidupan. Namun di tengah kepentingan Negara dan pembangunan dapat merusak wajah sesama dengan meneror, mengejar, membatasi, menangkap, memenjara, dan bahkan membunuh secara sistematis.
Manusia sebagai citra Allah pun dengan perbuatan-perbuatan tidak manusiawi dapat merusak citra diri sendiri dan Allah. Manusia bersikap tidak seperti Allah bertindak. Karena tindakan Allah ialah sikap belas kasih untuk keselamatan manusia dan surga. Sebagai Roh yang telah inkarnasi Firman menjadi manusia melebur dalam sisi kemanusiawiaan manusia. Sikap solider ini berpuncak pada salib sebagai lambang kasih Allah(*).

Penulis adalah Anggota Kebadabi Voice dan Anggota Aplim Apom Research Group di STFT Fajar Timur Abepura-Papua

Editor: Erick Bitdana

Sumber rujukan

  1. Dister, Nico Syukur. Teologi Sistematika 1 Allah Penyelamat; Compendium Sepuluh Cabang Berakar Biblika Dan Berbatang Patristik . Yogyakarta: Kanisius, 2004.
  2. Konferensi Waligereja Indonesia. Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
  3. Purwatma. M. Firman Menjadi Manusia, Refleksi Historis-Sistematis Mengenai Yesus Kristus dan Allah Tritunggal. Yogyakarta: Kanisius, 2015.
  4. Saur, Wilhelmus I.G dan Bernard Koten. Yang Hilang Dan Tumbuh Dalam “Endemik” Kekerasan, Beragam Peristiwa Dan Fakta Hak Asasi Manusia di Tanah Papua 2017. Buku Seri Memoria Passionis No. 35. Jayapura: SKPKC Fransiskan Papua, 2019.