Refleksi Teologis makna Kehadiran Kristus dalam Liturgi (SC, Art. 7) 

(*Oleh: Anselmus Faan

Saya sejak dipermandikan hingga sekarang kurang memahami baik mengenai perayaan liturgi. Saya mengikuti perayaan Ekaristi pada Hari Minggu, Hari Raya Natal, Hari Raya Paskah dan perayaan Ekaristi harian dalam komunitas di Seminari Mengah Petrus Van Diepen, Aimas Kabupaten Sorong Papua Barat hanya karena rutinitas saya sebagai umat Katolik dan sebagai seminaris. Di seminari jika saya tidak mengikuti Perayaan Ekaristi Harian, maka saya dihukum oleh para pembina dengan sangsi berupa bersihkan kotoran babi dalam kandang atau membersihkan got sekitar komplek Seminari. Masih ada bentuk sangsi lainnya yang saya tidak mampu menyebutkan satu demi satu. Jika saya menyebutkan semua maka bisa jadi diterbitkan dalam bentuk buku. Aturan seminari seperti itu tentunya memaksa saya untuk rajin mengikuti misa harian. Tidak heran bahwa saya selama 6 tahun di Seminari mengah mengikuti misa karena aturan. Padahal saya kurang memahami bahwa mengikuti misa bukan karena aturan tetapi mengikuti misa merupakan kebutuhan setiap umat Katolik untuk bertemu dengan Kristus. Karena Perayaan Liturgi merupakan perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam Ikatan Roh Kudus. Sebab itu, dalam tulisan ini saya memilih judul “Kehadiran Kristus dalam Liturgi (SC, Art. 7)”, untuk berusaha mencari dan memahami sejauhmana “Kehadiran Kristus dalam Liturgi”. Beberapa pertanyaan ini, Apa itu Liturgi? Siapa Itu Kristus? dan Apa itu Perayaan Liturgi? dan Berapa lama kehadiran Kristus dalam tubuh kita melalui Ekaristi? Pertanyaan tersebut membantu untuk memahami kehadiran Kristus dalam Liturgi. Dalam tulisan ini saya membatasi diri pada beberap pertanyaan tersebut saja.
Apa itu Liturgi?
Liturgi dapat dipahami dari banyak pengertian. Yakni pengertian Liturgi secara populer, istilah Litrgi dan sejarahnya, dan pengertian liturgi menurut Konsili Vatikan II. Pengertian Liturgi secara populer yakni mengenai hal praktis yang berhubungan dengan tata ibadat atau doa atau hal-hal yang bersifat kultis. Yang dimaksud dengan bersifat kultis adalah hal-hal mengenai doa, ibadat, urutan ibadat, nyanyian liturgi, peralatan liturgi, warna liturgi, cara duduk dan berdiri yang liturgis, petugas menjalankan kolekte, petugas pimpin Ekaristi, yang konselebrasi siapa saja, yang membuat teks panduan misa, petugas koor atau paduan suara, dan hal liturgi praktis lainnya. Pandangan yang melihat liturgi secara kultis ini tidaklah salah tetapi belum mencakup keseluruhan makna liturgi.
Pandangan populer yang memahami liturgi pertama-tama berciri kultis ini tampaknya dipengaruhi oleh cara pandang lama yang sudah ada sebelum Konsili Vatikan II. Paham liturgi yang berciri kultis ini mau menekankan segi penyembahan kepada Allah. Dikatakan kultis sebagai penyembahan kepada Allah karena istilah kultis berasal dari kata Latin cultus, dari kata kerja Latin colere yang berarti memelihara, merawat, menghormati atau menyembah. Karena dalam arti kultis atau colere ini, berliturgi berarti melaksanakan tindakan kultis, yakni melakukan tindakan penghormatan dan penembahan kepada Tuhan dengan serangkaian tata upacara yang serba teratur dan kurang lebih tetap. Ini sebabnya banyak umat yang bertanya mengenai liturgi umumnya lebih mengenai peraturan dan norma yang berciri praktis. Misanya, orang bertanya bagaimana cara berlutut, berdiri, menjadi lector, membawa persembahan dan sikap menyambut tubuh dan darah Kristus yang benar. Kalau kita melihat dari contoh-contoh itu hanya menunjuk berbagai makna upacara dan aturan yang dilaksanakan jemaat yang sedang beribadat bersama. Persoalannya, apakah liturgi hanya berkaitan dengan aturan dan berbagam makna tindakan simbolis serta upacara ibadat? Jika ia, maka ilmu liturgi hanya mengenai rubric atau peraturan. Akibanya banyak orang yang hanya belajar mengenai aturan liturgi saja. Memang liturgi mencakup juga aturan tetapi makna liturgi sebenarnya jauh lebih luas dari sekedar aturan. Sebab itu kita perlu belajar lagi mengenai asal usul istilah liturgi itu sendiri, (lih. E. Martasudjita, Pr, 2011: 13-14)
Istilah Liturgi dan Sejarahnya
Kata liturgi (bahasa Latin: Liturgia) berasal dari bahasa Yunani leitourgia. Kata leitourgia terbentuk dari akar kata ergon, yang berarti karya dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos, yang berarti bangsa atau rakyat. Sehingga secara harfiah, leitorgia berarti karya atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa. (lih. E. Martasudjita, Pr, 2011: 15) Kata leitorgia berarti karya publik yakni pelayanan dari rakyat dan untuk rakyat (lih. KGK no. 1069). Dalam kehipan masyarakat Yunani kuno, kata leitourgia dimaksudkan untuk menunjuk karya bakti atau karya pelayanan yang tidak dibayar, iuran dari masyarakat yang kaya, dan pajak untuk masyarakat atau negara. Dari sisi asal usul istilah ini, maka kata leitourgia pertama-tama justru memiliki arti profane-politis, dan bukan arti kultis seperti yang kini dipahami. Sejak abad ke-4 SM, pemakaian kata letourgia diperluas, yakni menyebut berbagai macam karya pelayanan.
Makna Liturgi dalam Perjanjian Lama
Makna kultis untuk kata leitourgia baru muncul sejak abad ke-2 SM. Dalam arti kultis liturgi berarti pelayan ibadat. Pengertian ini digunakan oleh kelompok Septuaginta (LXX), ketika mereka menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani ke Ibrani pada ke-3 sampai abad ke-2 SM. Terjemahan Septuaginta itu, kata leitourgia digunakan untuk menunjuk pelayanan ibadat para imam atau kaum Lewi, yakni pelayanan ibadat pada Allah di Yerusalem. Sedangkan tindakan kultis umatnya disebut lattrea (penyembahan) dan leitorgikos menunjuk alat atau perlengkapan liturgi. dan leitourgikos hanya dipakai dalam Yesaya 61:6 dan Sir 7:30 dan disini istilah leitourgos berarti pelayan liturgi atau pelayan dalam arti umumnya.
Makna Liturgi dalam Perjanjian Baru
Kata benda leitourgia dan leitourgein mengalami perubahan yang menarik dalam Perjanjian Baru. Dalam Injil Lukas masih mneggunakan 1:23, leitourgia masih memiliki makna yang sama dalam Perjanjian Lama, yaitu pelayanan imam Perjanjian Lama. Dalam Surat Ibrani juga sering menggunakan kedua kata itu, (lih. Ibr. 8:6; 10:1), yang artinya pelayanan imam, namun kedua kata itu dalam Perjanjian Baru memiliki makna yang baru. Penulis Surat Ibrani menggunakan kata leitourgia untuk menjelaskan makna Imamat Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imamat Perjanjian Baru. Imamat Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna dibandingkan dengan peyanan imam Perjanjian Lama. Oleh sebab itu, imamat dan tata liturgi Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi sebab Kristus adalah satu-satunya pelayan (leitourgos), tempat kudus dan kemah sejati (bdk. Ibr. 8:2). “Yang pertama Ia hapuskan supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” (Ibr 10:9-10). Dalam Kis. 13:2 satu-satunya teks Perjanjian Baru yang gunakan kata Liturgi menurut arti yang kita mengerti hari ini yakni untuk menunjuk ibadat atau doa Kristiani “pada suatu hari ketika mereka beribadah (litourgein) kepada Tuhan dan berpuasa”, Roma 15:16, Paulus disebut pelayan (leitourgos) Yesus Kristus melalui pelayanan pemberitaan Injil Allah. Maka istilah liturgi berarti pelayanan dalam bidang pewartaan Injil. Tetapi dalam 2 Kor 9:12 dan Rm 15:27, kata liturgi berarti sumbangan yang merupakan tindakan amal kasih bagi saudara-saudari seiman di tempat lain. Filipi 2:25.30, Rm 13:6; Ibr 1:7, kata liturgi memiliki arti “melayani” dalam arti yang biasa. Dengan demikian disimpulkan, kata liturgi dalam Perjanjian Baru dihubungkan dengan pelayanan kepada Allah dan sesama. Pelayanan kepada Allah dan sesama itu tidak dibatasi hanya pada bidang ibadat saja, tetapi juga pada aneka bidang kehidupan lain. Istilah liturgi dalam Perjanjian Baru tidak pernah untuk menunjuk pelayanan kultis dari pemimpin jemaat Kristiani, seperti para rasul, nabi, imam, dan uskup. Dan pelayanan Imam atau kaum Lewi serta didasarkan pada pelayanan Bait Suci. Namun imamat Perjanjian Baru hanya berdasarkan pada satu-satunya Imamat Yesus Kristus. Sedangkan Imamat yang kita kenal seperti imamat umum dan imamat khusus (kaum tertahbis) dalam gereja selalu merupakan partisipasi pada satu-satunya Imamat Yesus Kristus.
Liturgi Menurut Konsili Vatikan II
Pengertian yang utuh mengenai makna liturgi dapat kita temukan dalam Konstitusi Liturgi hasil sidang Konsili Vatikan II, yaitu Sacrosanctum Concilium (SC). Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam Ikatan Roh Kudus (bdk. SC Artikel 5-13).
Siapa Itu Kristus?
Saya tidak menggunakan istilah Yesus tetapi Kristus karena istilah Yesus umum pada zaman Yesus berada di dunia. Saya menggunakan istilah Kristus karena memberi arti bahwa Kristus adalah satu-satunya yang diutus Allah dengan menggunakan pengurapan khusus yang menjadi satu-satunya pengharapan dunia sebagai Jurus Selamat manusia. Atau istilah Yesus berarti juruselamat, Yang diurapi. Kristus dalam bahasa Yunani, “Messiah” (yang turun dari surga, Yoh 3:13), dalam bahasa Ibrani berari yang diurapi. Maka yang diurapi untuk menyelamatkan dunia disebut Yesus Kristus. Nama Yesus merupakan nama yang populer dipakai oleh umum. Tetapi setiap kali pada waktu Rasul Paulus menulis tentang Yesus selalu dengan beberapa sebutan, yakni Tuhan Yesus, Yesus Kristus, Yesus Kristus Tuhan kita, Kristus Yesus Tuhan kita. Sebutan itu berarti menegaskan sifat Kristus dan karya Kristus yang unik berbeda dari yang lain. Kristus menyebut diri Anak manusia karena Dia sudah ada di dunia ciptaan. Dia masuk, menerobos, dan berada dalam lingkaran ciptaan. Tetapi sebenarnya Dia adalah Pencipta. Dia adalah Meisas yang dinantikan oleh Isarel, diutus ke dunia oleh Bapa, disalibkan kemudian mati dan bangkit memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (bdk. Mat. 20:28), (Mengapa Yesus disebut Kristus? penakatolik. com 2018).
Kasih Allah turun atas manusia
Plato memakai istilah kasih dengan istilah rendah yaitu eros, yaitu satu permulaan dari yang rendah ke atas, mau mencari yang lebih baik dan kebenaran. Sejak timbulnya kekristinan kita tahu bahwa eros itu bukan kasih yang sejati, bukan dari bawah menuju ke atas. Cinta adalah dari atas ke bawah, yaitu agape (cinta dari Allah). Rela berkorban, merendahkan diri demi yang lebih rendh, itulah cinta yang utuh. (Siapakah Kristus? Taripar Doly, SE, MM, 2014. nusahato. com, diakses 30 Januari 2021).
Apa itu Perayaan Liturgi?
Perayaan secara spontan muncul dari inisiatif para peserta. Tidak ada petugas khusus, semua ikut terlibat aktif. Tujuan perayaan adalah pertemuan itu sendiri. Pada dasarnya perayaan selalu bersifat “sharing”, saling membagikan kegembiraan, atau mungkin juga dukacita. Diadakan perayaan karena memang ingin bertemu bersama. Perayaan sebenarnya sudah mulai dengan persiapannya, masih berjalan terus selama dinikmati dalam hati. Perayaan liturgi adalah perayaan bersama umat Allah dalam gereja. Keterlibatan “aktif” umat dalam perayaan liturgi khususnya perayaan Ekaristi. Sebab yang paling menentukan dalam perayaan liturgi adalah “partisipasi” umat Allah sehingga ditekankan dalam konsili Vatikan II, bahwa kalau umat hanyalah penonton yang bisu, maka tidak ada perayaan dan tidakan liturgi yang baik ( bdk. SC 48 dalam Prof. Dr. Tom Jacobs, SJ, 2004: 47-49).
. Yesus hadir dalam perayaan misa terutama dalam diri seorang pelayaan karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan iman sama saja dengan Dia yang ketika itu mengurbankan diri di kayu salib maupun terutama dalam kedua rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam sakramen-sakramen sedemikian rupa sehingga “bila ada orang yang membaptis, di situ Kristus sendirilah yang membaptis” (jelas pak Abdon Bisei M. Hum dosen STFT “Fajar Timur”, saat kuliah Baptis-Krisma pada tnggal 29/01/ 2021). Yesus hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam gereja. Sabda Allah itulah yang memanggil umat untuk berkumpul, umat mendengarkan, umat dikuduskan dan umat menjadi pelaku sabda Allah dalam kehidupan . Akhirnya, Ia hadir sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji bahwa bila ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Aku, di situlah Aku berada atau hadir di tengah mereka (bdk. Matius 18:23).
Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa pada saat konsekrasi dalam Ekaristi Kudus, roti dan anggur di altar sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Hakekat roti dan anggur berakhir, meskipun wujud, rasa atau sifat-sifat roti dan aggurnya masih tetap sama. Perubahan yang sangat mengagumkan ini kita kenal dengan istilah “trans substansiatio” yaitu perubahan substansi dan hakekat. Setidaknya tercatat 44 mukjizat Ekaristi diberbagai benua. Salah satunya kisah mikjizat Ekaristi Luciano sekitar tahun 700 masehi. Seorang imam mengucapkan kata-kata konsekrasi lalu roti berubah menjadi daging dan roti berubah darah manusia (Yesus), (bdk. Herman Musakabe, 2008: 99). Kristus yang telah kita rayakan dalam Ekaristi adalah Kristus yang telah bangkit dan mengatasi atau mengalahkan maut. Dengan demikian, penghadiran kembali kurban Kristus yang satu dan sama itu, tidaklah dengan cara yang sama, seperti halnya saat Yesus sengsara di Salib, saat tubuh-Nya terpisah dari darah-Nya pada saat menderita di salib sebelum wafat dan kebangkitan-Nya. Namun kini, Kristus telah bangkit dan mengatasi maut. Kuasa Roh Kudus yang membangkitkan-Nya dan menghadirkan kembali misteri Paska Kristus itu, menghadirkan kepenuhan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Maka, pemberian komuni dalam bentuk satu rupa (hosti saja atau anggur saja) telah mengandung keseluruhan Kristus: tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya (lih. Katekismus Gereja Katolik, 1413). Jadi komuni dapat diberikan rupa hosti saja sudah lengkap. Komuni dalam dua rupa penggambaran tubuh dan darah Kristus menjadi lebih penuh (lih. KGK 1390). KGK 1390 karena Kristus hadir secara sacramental dalam setiap rupa itu (dalam rupa roti saja atau anggur saja atau dalam rupa roti dan anggur sekaligus), maka seluruh buah rahmat Ekaristi dapat diterima walaupun komuni hanya dapat diterima berupa roti saja.
Berapa lama kehadiran Kristus dalam tubuh kita melalui Ekaristi?
Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa Yesus Kristus selalu hadir secara nyata, substansial di dalam Ekaristi, yaitu tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya dalam rupa roti dan anggur (KGK 1374). Yesus hadir seutuhnya, bahkan sampai di partikel terkecil roti dan tiap tetesan anggur. Dengan demikian, kita dapat menerima Kristus dalam rupa roti atau anggur saja atau keduanya secara bersama (KGK 1390). Dalam setiap hal ini kita menerima Yesus yang utuh di dalam sakramen khususnya peryaan ekaristi. Kehadiran Kristus dalam ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih berada (KGK 1377). Maksudnya pada saat waktu roti dan anggur itu dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk roti, maka itu sudah bukan tubuh Kristus. Jadi Yesus bertahan di dalam diri kita dalam rupa roti kira-kira selama 15 menit. Inilah sebabnya banyak orang kudus menyarankan untuk berdoa 15 menit setelah komuni sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Ini memungkinkan jiwa menikmati kehadiran Allah dan relasi “hati ke hati” yang sejati dengan Yesus. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah Allah karena untuk sesaat kita sungguh-sungguh menjadi tabernakel Allah yang hidup. Dalam dunia ini kita serba cepat, seringkali sulit untuk tetap berdoa setelah misa, bukan berarti kita tidak dapat berdoa singkat. Intinya adalah bahwa kita perlu mengingat kehadiran Yesus dalam Ekaristi tinggal bersama kita selama beberapa menit dan memberikan kita waktu khusus untuk berkomunikasi dengan Tuhan kita dan merasakan kasih-Nya di dalam kita. Kita harus mempersiapkan diri kita untuk saat anggung dan kudus ini dengan melayakkan diri melalui pemeriksaan batin dan mengaku dosa, agar layak menyambut kedatangan Tuhan, kita harus berada dalam keadaan berdamai dengan sesama dan dengan Allah, (bdk. 1 Korintus 11:27-32 dan KGK 1385).
Memang sungguh dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja mempelai-Nya yang amat terkasih dengan diri-Nya, Gereja yang berseru kepada Tuhannya dan melalui Dia berbakti kepada Tuhan Allah Bapa yang kekal. Sebab itu, kita dapat mengatakan bahwa wajar saja liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, dan di situ juga dilaksanakan cara yang khas bagi masing-masing serta dilaksanakan ibadah umum yang seutuhnya oleh tubuh mistik Yesus, yakni kepala beserta para anggota-Nya. Oleh karena itu, setiap perayaan liturgis sebagai karya Kristus san imam serta tubuh-Nya yakni Gereja merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada kegiatan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.
Kehadiran Kristus dalam Gereja bersandar pada Kitab Perjanjian Lama yaitu “Bait suci sebagai tempat kediaman Allah”. Tabut Perjanjian yang berisi loh-loh Allah atau Sepuluh Perintah Allah diberikan oleh Allah kepada Musa ditempatkan di dalam Kemah Allah atau Bait suci. Sebab itu, Kehadiran Kristus dalam liturgi khususnya Perayaan Ekaristi perlu dirayakan misteri keselamatan itu di dalam Bait Allah yang kini disebut gedung gereja. Bait Allah itu ada dan terawat karena itu tergantung pada kesetiaan umat untuk mendengarkan Tuhan yang bersabda kepada manusia saat Kitab Suci dibacakan. Umat sebaiknya beriman kepada Allah dengan baik. Iman itu sebagi bentuk ketekunan, ketaatan, kesetiaan dan kesediaan umat untuk mendengarkan sabda Allah. Jika umat Allah tidak setia datang dalam gereja untuk berjumpa dengan Kristus yang hadir dalam perayaan Ekaristi. Maka akan menimbulkan murka Allah kepada umat seperti yang dialami bangsa Israel. Umat Israel tidak taat kepada Tuhan akhirnya Bait Allah dihancurkan dan mereka dibuang ke Babilonia. Akibat dari pembuangan itu, Orang Israel mengalami kehilangan identitas sebagai bangsa pilihan Allah. Yahwe yang diam di Bait Suci telah hancur. Hancurnya Bait suci itu lalu saat mereka berada di Babilon merefleksikan bahwa itu Allah marah kepada mereka. Meskipun Bait suci runtuh, umat Israel kuat dalam refleksi bahwa tubuh mereka sebagai Bait Allah yang hidup.
Dalam Perjanjian Baru,Yesus tampil sebagai Bait Allah yang sempurna. Dia mengatakan bahwa “Aku adalah Baait suci”. Selain itu, Paulus juga menegaskan lagi bahwa tubuh manusia adalah bait Allah. Nabi Yeremia juga mengatakan bahwa Allah hadir dan tinggal di dalam diri manusia. Sebab itu, dalam Gereja Perdana, para Rasul sebagai komunitas gereja perdana. Para murid yang berperan sebagai himpunan awal berdirinya gereja. Di dalam gereja itu, mereka mewartakan Allah yang telah ada bersama dan mereka dan kemudian wafat, bangkit untuk menyelamatkan manusia. Maka Gereja adalah “tempat kediaman Allah karena tempat perjumpaan umat secara sacramental. Di dalam gereja bertahtalah Kristus”. (Jelas, Pak Abdon Bisei M. Hum saat kuliah liturgi pada tanggal 25 November 2020).

Penulis adalah Mahasiswa di STFT Fajar Timur Abepura-Papua

Editor: Erick Bitdana

Referensi
1. Jacobs Tom. 2004. Teologi Doa. Yogyakarta: Kanisius.
2. Musakabe Herman. 2008. Menuju Hidup Yang Lebih Ekaristis. Yuana Bogor: Citra Insan Pembaru.
3. Martasudjita Emanuel. 2011. Rev., Liturgi Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.
4. Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta. 2012. Ed., Alkitab Deuterokanonika, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
5. Konferensi Waligereja Regio Nusa Tenggara. 2014. Kitekismus Gereja Katolik. Flores, NTT, Indonesia: Nusa Indah.
6. Doly Taripar. 2014. Siapakah Kristus? ( nusahato. com, diakses 30 Januari 2021).
7. Dokumen Konsili Vatikan II. Terj. 2017. Hardiwirjana R. Jakarat: Obor.
8. 2018. Mengapa Yesus disebut Kristus? ( penakatolik. com, diakses 30 Januari 2021).