Cerita Mengenai Pilot-Pilot Pertama Fransiskan di Papua

(*Oleh Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM,

Disamping permasalahan helikopter atau pesawat terbang, yang pada waktu sangat mendukung kelancaran misi. Ada juga pertanyaan dari mana dapat diperoleh pilot-pilot. Akhirnya oleh para Fransiskan diputuskan untuk mendidik saudara-saudara Fransiskan sendiri menjadi Pilot. Dari enam calon yg ditentukan oleh dewan pimpinan persaudaraan OFM, terpilih tiga orng untuk mengikuti pendidikan pilot. Saudara-saudara yang terpilih itu adalah sdr. Frans Verheijen, OFM, sdr. Henk Vergouwen, OFM dan Sdr. Karel Hermans, OFM. Pendidikan menjadi pilot itu ditempu di Belanda dan Amerika. Mereka dinyatakan lulus sebagai pilot pada Oktober 1957.

Sementara itu juga sudah diambil keputusan perihal pesawat mana yang akan diterbangkan. Maka dipilihlah pesawat Cessna 180. Pada tahun 1957 pesawat-pesawat mulai dipesan. Setelah tiba di Papua, pesawat-pesawat itu diberkati oleh Mgr. Staverman, OFM pada 23 Maret 1959. Tanggal ini menjadi tanggal resmi mulainya penerbangan misi di Papua. Pada mula misi ini terasa susah. Misalnya sesudah setiap 25 jam terbang, pesawat terbang itu harus diterbangkan ke Wewak (PNG) untuk pemeliharan teknis, yang belum dapat dilakukan di Hollandia (sekarang dikenal dengan Jayapura). Tetapi yang terpenting yaitu penerbangan sudah dimulai.
Pada bulanJuni 1959 tiba sdr. Frans Verheijen, OFM di Hollandia dengan sebuah CPL dan selembar lisensi mekanik di tangan. Maka pada bulan September pada tahun yang sama sebuah hangar dibuka di Hollandia. Dengan demikian perusahan penerbangan dapat berjalan. Pertama-tama Wamena dan Sibil. Kemudian menyusul Kepala Burung dan pada bulan September di Paniai siaplah strip landasan yang pertama di Eupouto. Peristiwa ini menjadi peristiwa besar dalam sejarah penerbangan misi Fransiskan di Papua.

Doc. Fransiskan Papua

Insiden Kecelakaan Pesawat di Hutan Keerom
Setelah melalui proses yang panjang dalam memanjukan misi pewartaan Injil di Papua. Para Fransiskan mempunyai perusahan penerbangan yang sangat berjasa mendukung misi tersebut. Penerbangan itu mula-mula bernama MILUVA (Missie Lucht Vaart) atau dikenal dengan sebutan penerbangan misi, demikianlah nama organisasi penerbangan itu. Dikemudian hari pada tahun 1963 diubah menjadi AMA (Associated Mission Aviation) sampai saat ini.

Setelah perusahan penerbangan ini berkambang baik. Namun pada 27 April 1963 terjadilah kecelakaan pesawat yang dikemudikan oleh Pater Henk Vergouwen, OFM (dia adalah salah satu pilot pertama dari kalangan Fransiskan). Dia dinyatakan hilang saat sedang dalam perjalanan dari Sentani menuju Oksibil. Ketika ia dinyatakan hilang kontak, mulailah proses evakuasi dan pencarian dimulai. Dalam proses pencarian itu AMA dibantu oleh para pilot dari Zending (MAF) dan yang lain ikut ambil bagian dalam proses itu.
Selama kurang lebih satu Minggu proses pencarian secara intensif dari udara para pilot mencari suatu tanda yang menunjukan titik pesawat yang hilang itu, tetapi ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Tidak ada titik terang keberadaan pesawat yang jatuh. Baru setalah kurang lebih dua tahun setelah insiden ini, pada 21 Januari 1965. Bangkai pesawat ini beserta jasad dari Pater Vergouwen, OFM di temukan di hutan Keerom. Dari hasil penyelidikan, diduga kuat pesawat ini telah memasuki suatu down draft (kawasan hampa udara) dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk naik kembali. Pesawat ini menabrak puncak pepohonan dan menghujam ke bawah. Keseluruhan jam terbang dari Pater Vergouwen, OFM mencapai sekitar 2.000 jam.

Pater Henk Vergouwen, OFM meninggal dalam usia 32 tahun. Sebagai Fransiskan selama 13 tahun dan sebagai imam 6 tahun. Ia sendiri tiba di Papua pada tahun 1958. Ia adalah imam Fransiskan pertama yang ditugaskan untuk mengikuti pendidikan pilot dan akhirnya ia berhasil dengan hasil yang memuaskan. Dikemudian hari ia bersama dengan Pater Karel Hermans, OFM (juga seorang pilot) dan beberapa pilot yang lain mendirikan penerbangan misi di Papua.

Mahasiswa Pasca Sarjana STFT “Fajar Timur” Abepura – Papua

Sumber:
Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua, Jayapura; Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012, Jilid I.
———-, “Fransiskan Masuk Papua, Jayapura; Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2016, Jilid II.
Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua, “Necrologium” (Mereka Yang Sudah Berbahagia), 2019.