(Sebuah refleksi untuk kembali menghidupkan akal orang Papua yang sehat)

(Oleh: Sebedeus Mote)

Tulisan ini adalah sebuah refleksi pribadi penulis dengan melihat, mendengar, mengalami dinamika problematika kehidupan sosial politik dalam hubungannya dengan partisipasi pihak Pemerintah maupun gereja yang adalah dua institusi yang memiliki pengaruh besar terhadap kelangsungan hidup masyarakat di Papua dan Indonesia umumnya. Terutama Suara rakyat yang sering dikorbankan dengan berbagai hal yang tidak bermanfaat untuk kebaikan umum.

Suara rakyat untuk menentukan hak atau bicara soal pilihan adalah hak dasar yang tidak bisa ditawar dengan nilai rupiah belaka yang dapat mengorbankan rakyat. Masa-masa ini memang sangat panas jika dipikirkan dengan baik, karena nilai rupiah sangat melemahkan hak pilih dan hak untuk hidup. Di seluruh Tanah Papua akal budi manusia Papua terlihat suram karena bisa ditawar-tawar.

Akal budi manusia masa kini menjadi sebuah nilai tawar dan bisa diperjualbelikan, karena di semua daerah itu selalu saja terlihat suara dan mulut untuk berkata yang benar ditutupi dengan nilai rupiah (uang). Misalnya saat pemilu di kabupaten di seluruh Tanah Papua, kalau bupati kasih dana secara diam-diam ke kepala distrik, desa, atau ketua-ketua TPS lainnya, lalu suara murni sebagai hak pilih menjadi sebuah formalitas belaka.

Dewasa ini di seluruh kota maupun pelosok di Tanah Papua menurut pengamatan saya viral dengan kata “dapat bayar”. Maksudnya adalah seandainya masyarakat sudah dapat bayar (mendapat bayaran) berarti uang itu dapat menutupi mulut mereka.

Berkaitan dengan judul ini kita bisa bertanya, benarkah akal budi OAP disita oleh nilai rupiah? Tahun 2021 menjadi tahun pertobatan dan perenungan untuk mengembalikan akal sehat yang sudah diracuni berbagai nilai tawar yang tidak masuk di nalar murni manusia dan bangsa Melanesia, karena itu menjadi alasan yang tidak manusiawi lalu mengorbankan rakyat jelata yang dianggap tertinggal. Kalau mau jujur, nalar sehat manusia Papua rusak akibat penjajahan yang terstruktur dan sistematis.

Menghidupkan akal budi

Tahun ini kita dituntut untuk memulai hidup baru yang murni bukan palsu. Kemurnian dan kepalsuan manusia selalu berjalan dalam hidup kita. Itu kita tak bisa pungkiri karena nalar kita selalu dipengaruhi oleh yang baik dan jahat. Tentang hal ini memang sangat berpengaruh erat dalam hidup harian kita.

Dalam hidup kita sebagai manusia yang berpikir atau yang punya akal budi selalu berseberangan untuk memaknai nilai-nilai dan tata cara hidup yang menjadi budaya dalam kehidupan, selalu ada yang menjaga rahasia dan ada yang menjadi wasit di antara kita. Kalau menjadi wasit untuk meruntuhkan nalar murni manusia lebih baik setop dan tidak usah buat onar.

Kepada semua yang menjadi wasit untuk mengerdilkan akal sehat setop sudah, lebih baik urus diri sendiri. Mulai dengan diri untuk memurnikan akal sehat itu dalam kehidupan sebagai makhluk yang berpikir. Dalam kehidupan kita mesti berpikir dewasa dan tidak perlu saling membatasi kreativitas sebagai makhluk yang berpikir. Menjadi terpenjara dalam tembok nalar yang rusak yang dibangun pula oleh kolonialisme, pejabat, dan para kapitalis.

Keruntuhan akal sehat menjadi terlihat di mana-mana, lebih terlihat itu saat pesta demokrasi atau pemilu. Masa kini manusia yang berpikir murni untuk memilih dan memelihara akal sehat itu hanya segelintir orang saja. Jika demikian apa yang kita hidupi sebagai makhluk berpikir yang “ada” sejak alam semesta ini ada? Mengapa? Akal budi disita oleh nilai rupiah, suara pun menjadi korban dan mulut terpenjara.

Tahun 2021 mesti butuh perenungan bersama untuk mengakhiri hal-hal yang meruntuhkan nilai kemanusiaan orang asli Papua (OAP). Ini yang menentukan kita untuk menghidupkan akal sehat kita yang sudah lama dimatikan oleh kolonial Indonesia. Rupiah Indonesia menjadi racun untuk membunuh akal sehat manusia Papua.

Jangan kita tertipu dengan tawaran kolonial yang tidak manusiawi. Kita harus hidup di atas modal alam kita yang sangat kaya ini. Dengan demikian nalar manusia OAP dapat bertumbuh dengan baik dan tidak mudah disita oleh nilai rupiah itu sendiri.

Masa kini memang ditandai oleh arus perkembangan dan perubahan hidup. Perubahan yang terus berlangsung ini kita tidak bisa tahan atau hilangkan tetapi otomatis berlangsung dan itu nyata. Alam Papua, penduduk asli menyebutnya “surga kecil yang jatuh di bumi”, dan juga orang lain di dunia menyebut demikian. Namun, semenjak Papua diintegrasikan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), negara memulai suatu misi pembunuhan di semua aspek.

Dalam refleksi ini penulis juga mau mengajak kita, baik OAP, maupun non-OAP, untuk menata kembali alam Papua yang sudah berantakan. Mereka yang merusak alam Papua adalah mereka yang jual tanah, membangun jalan trans, membuka perkebunan kelapa sawit, mendulang emas secara ilegal seperti di Degeuwo, Paniai, dan lain-lain. Akibat penjualan tanah adalah pembangunan perkantoran, rumah indekos atau rumah kontrakan yang notabene bukan milik OAP.

Kita punya alam Papua sangat kaya. Kita punya modal alam untuk memproduksi sesuatu, mengapa kita cepat terlena dengan tawaran sesaat sampai akal sehat kita seakan disita oleh rupiah?

Dari hari ke hari orang Papua semakin tidak menyadari kenyataan dan seluruh problematika yang ada. Maka hal yang dituntut untuk kita semua adalah kembali menyadari diri dan mengobati akal budi yang terluka ini. Semoga kita tidak mudah ditipu hal-hal ini. Dengan demikian akal budi kita sehat dan kita bebas menentukan kehidupan sendiri sebagai satu bangsa Melanesia.

Merawat akal budi dalam pagar hidup Papua

Tanah Papua sudah dipagari oleh Allah, dan yang boleh hidup adalah manusia yang berada di dalamnya, yakni manusia yang memelihara kemurnian akal sehat, yang tidak mudah ditipu nilai rupiah lalu mengorbankan dan menjadikan rakyat sebagai objek. Selain manusia yang ada di dalam tidak boleh ada manusia yang masuk sembarang, kecuali ada mengizinkannya. Tetapi oknum-oknum pendatang dari berbagai daerah masuk ke Papua secara sembarang atau ilegal untuk menghabiskan semua ciptaan yang ada di dalam pagar hidup Papua. Akibatnya hubungan kita dengan seluruh alam ciptaan-Nya retak.

Saudara/i yang datang dari luar Papua merasa nyaman dengan kita, suka dengan kita, mencintai kita, tetapi sebenarnya mereka mencari keselamatan, kekayaan, dan kenyamanan. Mengapa demikian? Karena orang yang memasuki pagar hidup Papua, dengan sendirinya hidup dan mencari kemuliaan Allah bersama manusia Papua.

Namun, yang menjadi persoalan ialah orang-orang non-OAP maupun OAP terkadang belum puas dengan apa yang sudah ada. Mereka ingin mencari yang lebih demi kepuasan jasmani semata sampai akal sehat menjadi runtuh. Hasil dari ketidakpuasan hanya merusak alam ciptaan Allah yang ada di Papua.

Oleh karenanya, Allah menuntut kita untuk hidup dengan apa yang ada pada kita, bukan mencari hidup yang lebih, sebab selebihnya berasal dari iblis. Allah menuntut kita tidak mencari yang lebih. Orang yang mencari lebih merupakan manusia yang rakus dan sedang dirasuki oleh iblis (roh jahat).

Dengan demikian akal budi sebagai sang pengarah dalam proses berpikir tetap sehat dan tidak dinodai rupiah. Semoga di tahun 2021 akal budi rakyat West Papua tidak mudah ditipu rupiah penjajahan/kolonialisme Indonesia. Marilah kita kembali merawat akal budi kita dalam pagar hidup Papua. Masuklah dan temukanlah, di sana ada nalar murni yang membebaskan kita dari segala bentuk penjajahan. (*)

Penulis adalah mahasiswa dan Anggota Kebadabi Voice di STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Erick Bitdana