(Sebuah refleksi kemanusiaan di balik Natal 2020)

Oleh: Sebedeus G. Mote

Cara merayakan Natal tahun 2019 dan 2020 umat Ndugama, Intan Jaya, Puncak dan daerah konflik lainnya sangat berbeda. Derita dan kematiaan melanda sekaligus meredupkan semangat Natal. Tidak ada yang salah dengan umat Ndugama, Puncak, Intan Jaya, dan daerah konflik lainnya.

Tak seorang pun dapat memahami mengapa derita dan pembunuhan oleh kolonial Indonesia bisa menerobos masuk sampai kampung-kampung terpencil dan saling membunuh. Saya mengikuti seluruh realitas hidup dari umat Ndugama dan daerah konflik lainnya serta mempelajari daftar kejadian yang begitu panjang, menit demi menit. Saya berpikir “rakyatku mengapa diperlakukan demikian”.

Natal di tahun yang kedua (2020) pun mereka merayakannya dalam suasana kematian dan penderitaan. Mungkinkah itu sebuah takdir yang harus dilewati?

Sejak kolonial Indonesia (TNI/Polri) masuk di Ndugama, Puncak dan Intan Jaya, saya membaca rakyat sipil—korban di atas korban dan penyakit akibat mengungsi, sehingga menambah penderitaan yang panjang. Semua kisah, pertanyaan, dan jeritan membangkitkan semangat sedih yang aneh dalam benak sejak 1960 sampai kini secara menyeluruh di Tanah Papua.

Mengapakah pembunuhan dan penderitaan ini terus dialami? Mengapa Allah itu terus-menerus mengizinkan mereka sampai kejahatan kolonialnya terus merajalela atas rakyat Papua? Kebaikan atau apa gerangan yang bisa dihasilkan dari kejadian-kejadian sadis ini? Marilah kita bergumul bersama dengan pertanyaan-pertanyaan ini.

Hutan-hutan dan gunung-gunung yang berselimutkan salju yang bernuansa keemasan dibelai cahaya di Tanah Papua, semoga itu menyembuhkan hati dan keinginan untuk merayakan Natal.

Derita Ndugama, Puncak, Intan Jaya, dan daerah konflik lainnya mengenang wajah-wajah sedih demi persatuan dan kesatuan. Ah, dimanakah mereka? Hati pun terus bertanya, apakah arti Natal bagi mereka?

Memang suram tapi penderitaan itu tidak untuk selamanya, dan pasti ada cahaya kemenangan nanti. Kesedian memang dialami untuk semua berkumpul seperti umat-umat di daerah lain, tetapi itulah kehidupan yang tak bisa kita bantahkan.

Kolonial Indonesia (TNI/Polri) merusak hari raya Natal umat Ndugama, Intan Jaya, dan daerah konflik lainnya. Seharusnya mereka merayakan Natal dengan penuh sukacita. Namun Natal justru menjadi momen duka dan derita bagi mereka. Hati pun seakan menolak Dia, yang datang sebagai Sang Penyelamat dan berkata: ah, Ko kembali sudah!

Perlombaan yang dibuat oleh kolonial Indonesia dengan cara mengheningkan cipta yang tidak manusiawi membuahkan duka, kematian, dan penyakit berkepanjangan. Ndugama, Intan Jaya, dan daerah konflik lainnya dijaga dengan begitu ketat dengan cara militerisme hingga menyebabkan kematian dan duka, serta melukai hati anak negeri Papua.

Penyakit luka yang dahsyat pun mengguncang rakyat Ndugama dan sulit diatasi. Terima kasih untukmu yang rela membantu keluarga Ndugama dan Intan Jaya yang kena luka, derita dan kematian. Semoga pelaku kejahatan yang menyebabkan semua itu, dapat diampuni oleh Allah leluhur Papua, dan dengan itu memasuki suatu proses rekonsiliasi dan pertobatan yang hakiki.

Pertanyaan tentang duka, derita, kematiaan, dan penyakit yang umat alami tidak mungkin terlepas dalam hidup harian saya untuk menggumuli itu semua. Terlalu suram, tapi ya begitulah hidup manusia yang selalu memangsa hati anak negeri. Semoga tetap ada cahaya bintang kejora dari ufuk timur untuk melihat dan menyembuhkan luka mereka sampai menikmati hidup bebas abadi di Tanah Papua tercinta ini.

Kita itu sebenarnya hidup di suatu planet yang rapuh dan rusak oleh penyakit nalar sampai membunuh rakyat Ndugama dengan sikap tidak hormat. Apakah dengan tindakan kekerasan ini Ndugama bisa mengalami kehadiran penyelamat yang seharusnya dihormati secara mulia?

Penderitaan ini memang Salib Kristus, dan kebenaran pasti nyata di tengah rakyat yang merindu. Hampir tiap hari kita memperoleh laporan kematian, pengungsian, sampai mendapat luka yang sulit disembuhkan. Apakah gerangan keterlibatan Allah dalam situasi semacam ini?

Kami sangat sadar bahwa tidak ada satu pun buku tulis yang mampu ”memecahkan” masalah kepedihan ini, tapi bisa berbagi dan terdorong untuk berefleksi tentang penderitaan tentang Natal yang suram ini. Penghiburan bagi umat Ndugama yang terluka harus mulai sekarang supaya luka mereka segera sembuh,

Seluruh lembaran hidup umat Ndugama dan Intan Jaya pada Natal tahun kedua ini membuatku sedih. Kakek-nenek senang bersama orang yang mereka cintai untuk merayakan Natal—kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Natal kedua pun mengubah rencana bersama keluarga.

Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita memiliki hak istimewa untuk membungkus kebutuhan kita, kekhawatiran, dan kesepian kita, memberikannya kepada Yesus pada Natal ini. Dia menunggu paket kita sehingga Dia bisa memberi kita hadiah kedamaian-Nya untuk bebas, yang tentu berada di luar pemahaman kita.

Semoga melalui peristiwa Natal 2020 ini Allah berkarya untuk memulihkan kematian, duka, derita, dan penyakit yang menimpa umat Ndugama, Intan Jaya, dan daerah konflik lainnya, dan semoga Allah memulihkan wajah kehidupan kolonial yang rusak akibat kuasa dosa—penembakan-penembakan yang mengakibatkan kematian.

Allah memulihkan wajah kehidupan umat manusia tidak ditempuh dengan pengiriman bala tentara malaikat untuk membinasakan setiap orang yang jahat dan berdosa. Walau Allah mahakuasa dan adikodrati, Dia memilih cara yang tidak populer namun rendah-hati. Melalui Sang Firman-Nya, Allah berinkarnasi menjadi manusia.

Inkarnasi Firman Allah menjadi manusia berarti Allah berkenaan memposisikan diri-Nya yang tidak terbatas menjadi terbatas, misteri ilahi yang tersembunyi menjadi suatu wujud manusiawi yang kelihatan. Misi inkarnasi Kristus sangat jelas, yaitu: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:4-5).

Saudaraku umat Ndugama yang terkasih, kedatangan Sang Terang ke dunia membawa damai bagi kita untuk mengampuni kolonial. Damai itulah yang harus kita bawa bagi orang lain. Kita telah menerima terang Kristus melalui Natal ini, berarti juga kita dituntut pula untuk membawa terang itu bagi orang lain, terutama mereka yang tidak suka kita model apa pun.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menampakkan cara hidup yang bersumber dari Terang itu. Kalau dahulu kita hidup dalam genggaman kolonial Indonesia dalam situasi gelap., semoga kita menjadi pembawa kebenaran bagi dunia, dan meneladankan serta mewartakan kebaikan-kebaikan itu kepada orang lain.

Dengan demikian lewat keteladanan hidup kita yang penuh dengan derita, duka, kematian, dan penyakitan ini, mengajarkan nilai hidup kepada semua orang, dengan demikian kita telah membawa terang, baik bagi diri kita sendiri, maupun yang terutama bagi orang lain, demi melihat dunia yang tidak ada penderitaan.

Semoga kolonial Indonesia menjadikan momen Natal menjadi saat yang tepat, untuk berubah sikap supaya tahun 2021 bertobat—tidak membunuh dan menganiaya orang Papua. Semoga di Natal yang berbahagia ini kita membawa terang dan kebaikan bagi orang lain.

Cara hidup kita yang kita tampilkan setiap hari dapat menjadi teladan bagi orang lain untuk kembali melihat hidup dalam terang. Semoga di tahun 2021 rakyat Ndugama dan Intan Jaya melihat cahaya kemenangan dari kegelapan kolonial, dan tetap beriman serta mempunyai harapan bahwa kematian, duka, derita, dan penyakit segera berhenti.

Yesus yang lahir dalam kandang yang hina dan sederhana membawa kemenangan untuk melihat cahaya kemenangan yang abadi. Semoga nyawa rakyat Ndugama, Intan Jaya dan Papua pada umumnya tetap dipelihara oleh moyang Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Erick Bitdana