JAYAPURA-SUARA FAJAR TIMUR. COM. Sangat mengejutkan berita kematian Fr. Silvester Hisage dalam suasana perdamaian Natal dan ditengah kesibukan pelayanan. Hal ini dikatakan Pastor Yanuarius You, Pr sebagai Ketua Sekolah STFT Fajar Timur Abepura-Papua saat ini.

Menurutnya, Kematian Fr. Silvester Hisage diluar dugaan kita, mahasiswa dan seluruh civitas akademika STFT Fajar Timur Abepura-Papua. Karena para mahasiswa dan karyawan sudah pada libur dan sibuk pelayanan pada momen Natal.

Memang sangat kontradiktif diluar dugaan kita. Ditengah kesibukan pelayanan Natal 2020 yang diwarnai dengan peristiwa serius bagi umat Katolik di Papua menjadi pelajaran bagi calon-calon imam di tanah Papua.
Hal ini dikatakanya pada Misa tiga hari tiga Malam kematian Fr. Silvester Hisage pada 28/12/2020.

Peristiwa kematian secara tragis Pada malam tanggal 24 Desember, mau menunjukkan bahwa kejahatan masih menguasai hidup manusia di dunia ini, di Indonesia dan Papua khususnya, dengan perbuatan gelap masih dikuasai, kekerasan tetap ada, sekalipun Sabda Allah sudah hadir menerangi hati manusia. Hal ini sudah terjadi sejak kelahiran Yesus Kristus pada zaman Herodes yang hendak membunuh bayi Yesus. Dimana Herodes merasa disaingi dengan mendengar berita tentang kelahiran Raja Baru “Yesus Kristus”. Untuk membawa kedamaian, keselamatan dan sukacita.

Walaupun situasi demikian, kita tetap menerima danĀ mendoakan agar Tuhan memberkati mereka yang mempunyai rencana kejahatan, yang terus menghabisi nyawa manusia diatas tanah ini dengan beragam cara yang kurang beradab.
Tentu sebagai manusia, kita menduga bahwa ada tangan lain yang menghabiskan nyawa saudara kita. Dimana orang tidak menghargai harkat dan martabat manusia, karena manusia sudah dianggap Binatang.

Karenanya Kita diajak untuk menjadi pembawa damai ditengah gelapnya hidup. Sebagai pengikut Kristus diajak untuk tidak boleh melakukan pembalasan dendam. Masa itu sudah lewat, tuturnya.

Karena itu, Peristiwa tragis merupakan tanda dan bentuk kekerasan di tanah Papua. Kita diajak lebih sungguh-sungguh menjadi pembawa damai. Mari kita ingat kembali doa St. Fransiskus. Sebagai pengikut Kristus untuk tidak boleh melakukan pembalasan melainkan pengampunan. Sebagai pengikut lebih memilih perdamaian bila terjadi penghinaan, perselisihan, kembingan, kekacauan, ketidakpastian dan kebenaran bila terjadi penghinaan.
Mungkin sebagai manusia, kita merasa emosi, protes, membalas dendam. Namun tetap dengan hati dingin kita serahkan kepada Allah. Kita juga iklhas untuk mengampuni. Mari dengan persitiwa ini menjadi suatu pelajaran bagi kita untuk menjadi pembawa damai ditengah suku, kelompok, agama. Dan situasi Papua menjadi tantangan untuk terus kita mewartakan menjadi pembawa damai sesuai amanat Tuhan Yesus Kristus.

Dengan peristiwa tragis ini, Pater Yan You sebagai ketua sekolah sekaligus pembina mengingatkan agar kita sungguh menjadi pembawa damai ditengah keluarga, komunitas, agama dan suku dalam hidup kita, sambil berhati-hati dalam membangun relasi, jangan ikut arus dengan pengaruh dan situasi dan hal lain yang membahayakan.

Lebih lanjut dalam sambutannya, ketua Sekolah menegaskan, akan dibentuk Tim investigasi dari pihak Kampus STFT Fajar Timur untuk mencari sebab-akibat dan diproses sesuai hukum atas meninggalnya saudara kita secara tidak manusiawi.

Reporter: Erick Bitdana