Oleh: Sebedeus G. Mote

Arti persatuan dalam konteks judul ini adalah untuk orang-orang yang mungkin menyebut diri (kaum) spiritual tetapi tidak religius. Itu untuk mereka yang merasakan kedalaman keberadaan mereka sendiri dan merayakan kesadaran akan kekuatan yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Ajaran tentang persatuan menyatukan kebijaksanaan kuno dengan interpretasi baru tentang apa artinya hidup dan manusia di Tanah Papua. Persatuan mengilhami manusia dengan berbagai cara untuk berpikir tentang kekuatan cinta dan kecerdasan, yang oleh banyak orang disebut “Tuhan”.

Meskipun prinsip-prinsip penyembuhan dan kemakmuran yang diajarkan di masyarakat kini telah dijelaskan secara ilmiah, gagasan tersebut pasti tampak radikal ketika dikemukakan oleh Charles dan Myrtle Fillmore mulai tahun 1880-an.

Sejak Tanah Papua “ada” seruan tentang pembebasan dan perdamaian pun dimulai supaya manusia Papua hidup dalam persatuan yang dilandasi dengan cara duduk bicara bersama.

Namun, di antara masyarakat yang tinggal di Papua, yakni non-OAP (orang asli Papua) dan OAP masih saling mencurigai, misalnya, antara kelompok pro “Papua merdeka harga mati” dan “NKRI harga mati”. Letak keruntuhan hidup dalam persatuan persis terletak di situ.

Jaringan Damai Papua (JDP)berusaha menyatukan semua kelompok supaya di Bumi Cenderawasih tercipta hidup yang bebas dan damai yang abadi, tetapi persatuan hidup antara pejuang perdamaian, masyarakat dengan masyarakat masih saja terjadi. Dengan demikian apakah hidup bebas dan damai itu terjadi?

Kebiasaan hidup zaman leluhur setiap manusia belajar bagaimana berelasi, termasuk bagaimana menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dalam hidup orang Papua. Untuk melihat suatu gaya konflik cenderung manusia gunakan ketika mengalami hidup persatuan sebagai sesama meruntuh.

Sekian banyak orang yang beranggapan lebih baik mengalah daripada ribut dan memecah-belah persatuan. Dengan demikian persatuan pun terpelihara dan diredam.

Cara mengalah bukan berarti tidak mampu tetapi justru mereka yang memiliki pikiran dan akal sehat yang bisa mempersatukan semua orang. Harus mengorbankan tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan secara sepihak, supaya melalui itu tercipta persatuan yang menyeluruh, sehingga keinginan untuk Bumi Cenderawasih sebagai Tanah Damai itu benar-benar tercipta.

Mengalah itu baik dan mengalah juga menjadi cara praktis yang harus ditempuh agar tidak terjadi konflik-konflik yang mengorbankan persatuan. Kalau itu terus dilakukan, dalam suatu proses dari hari ke hari mengalami relasi yang tidak sehat dan pihak lain menjadi korban di atas korban.

Memang setiap orang mengungkapkan opini adalah hal yang wajar. Masalahnya bagaimana hasilnya? Maka dibangunlah relasi yang baik karena leluhur kita sedang marah. Untuk itu, menjaga persatuan demi Papua Tanah Damai amatlah penting.

Dalam kehidupan di pulau paling timur Indonesia ada yang tidak mau terlibat dalam menyelesaikan konflik dengan mekanisme-mekanisme yang ada. Mereka selalu berpikir bahwa hal itu tidak nyaman atau hanya membuang-buang energi. Misalnya Si Matahari mau membicarakan masalah yang berkaitan dengan keluarga Si Bulan. Namun kerap kali Si Matahari sengaja menghindar dengan alasan ada urusan lain lalu pergi, atau mengatakan “mengapa hal yang memecah-belah persatuan harus ditinggikan?”

Ada manusia Papua sekarang yang merasa super dan selalu ingin menang dalam setiap keputusan, baik dengan diri sendiri, sesama, maupun dengan atau di dalam organisasi tertentu. Mereka akan berusaha dengan segala upaya dan mungkin meninggikan nada suaranya, bahkan dengan saling mengancam kalau perlu.

Memang tidak mudah mempersatukan semua orang supaya menikmati tanah damai, tetapi percayalah bahwa dengan pertobatan setiap orang yang tinggal di Tanah Papua, Allah leluhur mempersiapkan kerajaan damai itu sendiri. Bangunlah dan sadarlah! Kita jangan lagi mengorbankan relasi yang sudah dibangun sejak Tanah Papua itu “ada”. Semoga tidak menyisakan luka pada pihak yang dikalahkan dan dimenangkan.

Janganlah menghidupkan kompromi yang berkepanjangan dalam mempersiapkan kebebasan dan damai itu, yang menyeluruh untuk manusia Papua. Seluruh perbedaan pendapat dan kepentingan hendaknya dipersatukan dan kita mau mengorbankan sebagian keinginan dan sebagian yang lain terpenuhi.

Memang benar bahwa sikap kompromistis seakan dirasa bahwa tidak ada yang dikalahkan atau rasa harga diri kedua belah pihak tetap terjaga. Namun semua orang yang ada di Papua perlu menyadari apakah itu suatu ketidakpuasan secara terpendam dan sulit mendapat solusi?

Semoga kembali terbangun sikap konsekuen dan konsisten dengan pikiran murni demi mempersatukan semua orang yang hidup di Papua menuju suatu hidup yang damai, bebas, alami, dan abadi.

Saat ini persatuan antarmanusia yang hidup di Papua sudah baik, di tingkat konsolidasi pun mantap. Namun itu menjadi terkikis karena kita tidak konsisten dengan diri kita, saling menuding, tidak melepaskan ego, dan lain sebagainya. Maka untuk menghidupkannya perlu rekonsiliasi supaya mulai sadar dan menyambut “bintang kejora” yang diam dalam ruang mulia itu.

Hemat penulis, untuk membangun persatuan yang menyeluruh di Tanah Papua, baik persatuan dengan diri, sesama, dan kepada Allah leluhur Papua, maka harus dilakukan dialog antarsemua organ yang ada, baik dalam negeri, maupun luar negeri, supaya kita tidak saling menuding atau menyalahkan satu sama lain, tetapi bersama-sama mencari solusi, untuk merehab kembali hidup persatuan sebagai satu rumpun bangsa Melanesia. Semoga pintu hati dan persatuan kita menyatu kembali demi pembebasan dan perdamaian untuk semua orang di tanah leluhur kita, Tanah Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur, Abepura- Jayapura

Editor: Erick Bitdana