JAYAPURA-SUARA FAJAR TIMUR. COM. Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur Abepura-Papua. Melalui Biro Seminar dan KKRS telah menerbitkan Majalah Ilmiah Mahasiswa ” SUARA FAJAR TIMUR” sekaligus dalam tiga  edisi : Juli-Agustus, September-Oktober, November-Desember 2020. Dengan beragam tema terkait situasi hidup Orang Papua dengan masing-masing tema: HAK ASASI MANUSIA DI TANAH PAPUA, TANTANGAN GEREJA MASA KINI, IMPLEMENTASI OTSUS DI TANAH PAPUA.

Sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terkait situasi hidup Orang Papua, maka mahasiswa STFT Fajar Timur sebagai calon-calon imam yang adalah tulang punggung gereja membuka suara kenabian ditengah hiruk pikuk problematika realita sosial dari perspektif gereja.

Menurut redaksi Suara Fajar Timur,  bahwa pada edisi ini mahasiswa akan mengulas mengenai persoalan kemanusiaan, alam dan implementasi penerapan Otonomi Khusus di tanah Papua. Dengan melihat sejumlah konflik dan kesenjangan yang sudah lama mengundang beragam pertanyaan pro kontra dan indikasi oleh berbagai pihak.

Sebagai bentuk perspektif mahasiswa Filsafat dan Teologi, mahasiswa ingin memahami dan menilik sejumlah judul dari pandangan yang berbeda melalui artikel ilmiah tersebut. Hal ini dikatakan Darius Marian sebagai ketua BEM (berjalan masa Bahkti 2020-2021) pada (Jumat,12/12/2020).

Dalam keterangan persnya melalui media ini, Darius mengatakan, “dengan terbitnya karya ilmiah seperti ini merupakan bentuk keprihatinan akan martabat manusia guna memberi penyadaran dan manfaat tentang manusia dan hidupnya dari berbagai segi bidang ilmu. Karena itu untuk memahami situasi dan kondisi real mengenai situasi HAM dan OTSUS sebetulnya merupakan sebuah kesadaran moral akan pentingnya Manusia beserta segala hak hidupnya sebagai bagian integral ciptaan Tuhan.

Menurutnya, Dari sisi pengetahuan karya ilmiah ini bermanfaat bagi masyarakat ilmiah di tanah Papua. Karena itu, Tema yang diangkat adalah terkait situasi hidup orang Papua yang akan selalu dihadapi, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keprihatinan gereja, ungkapnya.

Hal yang sama juga ditambahkan oleh Florentinus Tebay selaku Koordinator Biro KKRS dan Seminar,  bahwa kekuatan STFT Fajar Timur memiliki dua Roh antara lain Roh Musik etnis dan Roh  Roh literasi yaitu Baca dan Tulis. Hal ini juga adalah Gema insani dan Kenabian sehingga diwajibkan dan dihayati oleh mahasiswa dalam upaya mengembangkan talenta yang Tuhan berikan. Dan hal ini juga yang ditekankan oleh  Alm. Dr. Neles Kebadabi Tebay, Pr dan terus ditekankan oleh Dr. Yanuarius T. Matopay You selaku Ketua Sekolah STFT Fajar Timur (sekarang ini).  Karena itu kedua roh ini senantiasa “Berakar dalam Injil dan Berkembang dalam Budaya” sesuai konteks pelayanan Pastoral di tanah Papua dengan mengedepankan Iman, Harapan dan Kasih sesuai semangat Visi-Misi Sekolah “Membentuk dan menciptakan Calon-calon imam yang berilmu,  beriman dan bermoral” untuk mewartakan Misi Allah di Indonesia dan Papua khususnya.

Harapan yang sama juga disampaikan Sekretaris BEM (Julian Kudiai) bahwa semangat untuk menulis tetap dipertahankan karena lembaga STFT Fajar Timur adalah lembaga yang mendidik para calon imam sebagai pemimpin masa depan Gereja Katolik tanah Papua yang akan mengalami suka-duka hidup umat beriman.Makatulis-menulis adalah salah satu sarana pewartaan konteks zaman modern.

Dalam kesempatan ini juga, Darius dan teman-temanya melalui Perwakilan Badan Pengurus Inti BEM beserta Koordinator Biro Seminar dan KKRS menyampaikan ucapan terima kasih kepada Civitas Academica STFT Fajar Timur yang selalu memberikan dukungan berupa moril dan materil guna mendukung terlaksananya program Badan Eksekutif Mahasiswa.

Dukungan dari pihak Civitas academica STFT Fajar Timur berupa moril dan materil  berupa sport dan dana sehingga majalah ilmiah ini berhasil diterbitkan. Dan juga bentuk ucapan terima kasih berupa bantuan dana bagi mahasiswa yang mengambil bagian dalam menulis artikel ilmiah demi membangkitkan semangat literasi di lingkungan Kampus STFT Fajar Timur Abepura-Papua.

Selanjutnya majalah ilmiah ini akan dijual untuk kalangan umum, 50 Ribu /lembar dari tiga edisi yang berbeda. Semoga karya ilmiah mahasiswa ini memberi wawasan bagi orang Papua dari berbagai perspektif, keprihatinan, dan harapan demi situasi hidup Orang Papua yang lebih baik dan bermartabat.

Reporter: Erick Bitdana