JAYAPURA-SUARA FAJAR TIMUR.COM. Hari terakhir Livelet Seni Pertunjukan Tradisional Nusantara Tahun 2020 yang digelar UPTD Taman Budaya melalaui Pemerintah Provinsi Papua Dinas Pariwisata benar-benar menjadi panggung pertunjukan sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa kelompok-kelompok etnik di Papua masih hidup dan berkembang dengan baik. Dari berbagai kelompok suku yang mendiami kota Jayapura dan sekitarnya terdapat 20 Suku yang menjadi perwakilan dari berbagai suku di Indoensia guna menunjukan identitasnya melalui ragam tari khas dengan berbagai pesan yang ingin diungkapkan. Kegiatan ini melibatkan seluruh suku tradisional Nusantara dari Sabang sampai Merauke untuk mengambil bagian dalam event ini yang dilangsungkan selama empat hari di Expo Waena-Papua (Jumat, 27/11/2020).


Ada begitu banyak suku-suku yang terlibat dalam ajang seni pertunjukan tradisional tersebut salah satunya adalah Suku Ngalum Kabupaten Pegunungan Bintang. Suku Ngalum dengan tari tradisional Limne/Yimne yang dimainkan oleh kelomok yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Oksop Sebang yang terdiri dari tiga basis distrik yang mendiami tiga wilayah distrik yaitu Distrik Okaom, Oksop, Sopsebang dan Pepera. Tari tradisional Pegunungan Bintang Suku Ngalum yang diwakili oleh Himpunan Mahasiswa Oksopsebang (HIMAPOKBA) tersebut menjadi ajang pertunjukan identitas suku dan daerah di Pegunungan Bintang sekaligus memberi waktu dan ruang bagi mahasiswa sendiri untuk terus menjaga, melestarikan dan menghidupkan tarian adat suku-suku yang mendiami wilayah Pegunungan Bintang.

Tujuan keterlibatan mahasiswa ini guna memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa kelompok-kelompok kesenian etnik di Papua masih ada dan hidup termasuk tarian adat dari suku-suku di Kabupaten Pegunungan Bintang yang terus ada dan hidup dan berkembang sejak nenek moyang hingga kini.

Budaya sebagai identitas bangsa, kelompok mahaisiwa ingin terus mempertahankan, memelihara, menjaga dan mewariskanya kepada adik-adik mahasiswa berikut ditengah-tengah maraknya doiminasi budaya globalisasi-modern. Hal ini diungkapkan oleh Okto Kalakmabin selaku koordinator pelaksana dalam badan pengurus dalam organisasi kemahasiswaan basis distrik. Menurutnya, budaya adalah identitas. Jika budaya hilang ditelan perkembangan zaman maka tentu orang Ngalum, Ketengban, Murob, Kambom, dan berbagai sub suku yang mendiami wilayah Pegunungan Bintang tidak akan dikenal beberapa tahun kemudian.
Oleh karena itu hal penting yang perluh diperhatikan adalah tanggungjawab orang tua untuk mendidik dan mengajarkan kepada anak-anak agar mereka tahu menyanyikan lagu adat, tahu benar memakai aksesoris budaya beserta nama-namanya, tahu menari tarian adat agar benar-benar menjadi orang yang berakar dalam budaya sebelum mereka melanjutkan study ke luar daerah.
Hal ini menjadi perhatian serius juga bagi semua pihak termasuk keluarga, dewan adat daerah, Pemerintah guna mengakomodir kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan budaya salah satunya adalah memvasilitasi ajang festival seni budaya di ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang.

Karena cukup disayangkan jika orang tua melepaskan anaknya tanpa diserta nilai-nilai budaya. Ditegaskan juga oleh beberapa senior bahwa “melihat kaum muda zaman sekarang yang selalu terjerumus dalam acara goyang disetiap ajang kegiatan mahasiswa karena di daerah tidak di biasakan. Ajang Festival seni budaya tarian lokal belum diusahkan. Sehingga adik-adik sekarang serta kita yang ada ini cenderung ikut arus dan sedikit melupakan budaya kita yang sesungguhnya.

Menanggapi hal ini, akan memprogramkan tarian adat sebagai tarian wajib guna mempertahankan dan melestarikan serta menjaga sebagai identitas dikalangan mahasiswa di empat wilayah Ok tersebut. Dengan begitu, kami pun berharap teman-teman dari 30 distrik lain pun bisa menunjukan tarian asli disetiap ajang seperti acara sykuran wisuda, ulang tahun organiasai disetiap wilayah distrik hingga ke di organiasai umum HIMPETANG bahkan atas nama mahaiswa bisa tampil di ajang yang lebih tinggi di tingkat provinsi. Untuk itu kami pesan agar teman-teman dari wilayah distrik lain agar antar kita mahaiswa sebagai basis pertahanan menjaga dan melestarikan budaya kita. Karena didaerah saat ini orang tua sudah berali ke wilayah lain dan meninggalkan wilayah adat (ungkapnya).

Reporter: Erick Bitdana