JAYAPURA- Suara Fajar Timur.com. “Solidaritas Muda Katolik Di Tanah Papua Di Wilayah Jayapura Untuk Kemanusiaan Di Intan Jaya” melakukan kegiatan aksi nyata kemanusiaan dalam bentuk doa bersama, pemasangan lilin dan jumpa pers. Kegiatan tersebut dilangsungkan guna menanggapi situasi ketidak adilan hak asasi manusia di Tanah Papua pada umumnya dan Intan Jaya khususnya terkait penembakan kedua orang Katekis dan Pendeta baru-baru ini. Selain itu juga Solidaritas Muda Katolik yang terdiri dari berbagai organisasi, Sekolah-sekolah tinggi dan asrama-asrama yang milik swasta maupun negeri guna mendorong Dialog Cinta Kasih dari pemimpin-pemimpin gereja Katolik terhadap umatnya yang ditindas.

Harapan tersebut datang dari berbagai pihak orang muda yang bersatu dalam “Solideritas Muda Katolik Untuk Kemanusiaan di Intan Jaya” yang melakukan jumpa pers, pemasangan lilin bersama dan doa di lingkungan Kampus STFT Fajar Timur (Sabtu/15/11/20) Waktu Papua.

Awal sambutanya Benediktus selaku ketua PMKRI Provinsi Papua. Dalam sambutanya hendak mengajak seluruh umat katolik, terutama kaum muda katolik bahwa” menyadari diri dan mengaktifkan kesadaran dan kepekaan kita akan kemuasiaan di tanah Papua adalah tugas kita bersama”. Karena itu kita mesti berjuang bersama. Kebersamaan dan persatuaan menjadi kekuatan kita, dengan bersama kita satu hati dan suara pasti kita berhasil”. Dalam kesempatan yang sama Darius Marian selaku ketua BEM STFT Fajar Timur menegaskan “kita semua mempumyai keprihatinan yang sama pada realitas kemanusiaan yang tidak adik dan merajalelah serta berkepanjangan di seluruh tanah Papua. Semua ini terjadi karena kekuasaan dan kepentingan ekonomi negara. Kita mesti memperjuangkan bersama, dan hal ini pemerintah indonesia harus bertanggung jawab dan merealisasinya secara tuntas secara hukum”.

Lebih lanjut ditegaskan pula oleh Jhon Gobay perwakilan dewan adat provinsi Papua (DAP). Beliau menegaskan bahwa semua pesan dan permohonan kepada gereja dan pemerintah bahwa: Gereja Katolik dan pemerintah harus melihat realitas kemanusiaan di Papua dan merealisasi semua masalah kemanusiaan mestia ada kontribusi dari Komisi Wali Gereja Indoensia dan Dewan Kepausan Tahkta Suci di Vatikan. Sebab gereja hadir sebagai penyelamat umat manusia di dunia ini. Gereja sebagai Biji Mata Allah, Suara Allah dan Corong Allah, hendaknya gereja membuka dialog Cinta Kasih sebagai senjata untuk menerobohkan tembok pemisa antara kekuatan-kekuatan besar NKRI harga mati dan Papua Merdeka harga Mati. Sehingga hal ini perluh ditindaklanjuti oleh pemimpin-pemimpin gereja di tingkat umum.  Ketidakadilan kemanusiaan dan pembunuhan sitematis oleh Negara melalui berbagai pendekatan seperti pendekatan militer, selalu terjadi sejak peristiwa aneksasi West Papua ke dalam pangguan Negara Indonesia (1969-2020) gereja sering terlihat diam. Maka gereja saatnya bersuara. Kita sebagai uamat atau anggota gereja mesti bersatu menyuarakan kemanusiaan (tandasnya/red).  Lebih lanjut, Gobay sebagai senior dalam wadah solideritas muda katolik berharap kepada Gereja katolik di Papua (lima uskup), Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Kepausan di Roma harus bersuara. Menurutnya, Pater Neles Kebadabi Tebay, Pr telah mendorong gereja untuk terus berdialog. Jadi berdasarkan hukum “Cinta Kasih” gereja harus bersuara. Mewartakan dan menyaksikan kasih Kristus kepada dunia melalui tindakan nayata untuk menyauarahkan,membelah hak kodrati maunusia dalam Tritugas Gereja sebagai (Nabi, Imam dan Raja). Terutama dalam menyatakan sikap gereja dalam keberpihakannya kepada kaum kecil, yang terpingkir, miskin dan yang ditindas. Agar orang Papua yang adalah Mahkluk Ciptaan Tuhan yang termuliah pun boleh mengalami kasih Allah diatas tanah “Surga Kecil ini” (tegas Gobay). Ia pun mengajak anak muda katolik harus bersatu untuk menyuarakan kemanusiaan di tanah Papua. Untuk melawan semua ketidakadilan kemanusiaan (pembunuhan orang Papua) di tanah Papua yang berkepanjangan selama enam dekade ini (1961-2020).

Menurutnya, salah satu penyebab utama terciptanya konflik berkepanjangan adalah diskriminasi dan istigma yang dibangun oleh pihak meliter Indonesia terhadap orang Papua. Militer Indonesia menjastifikasi semua orang Papua, seperti para pendeta, pewarta (pastor) petugas gereja adalah kaki tangannya TPN /OPM. Hal ini sudah semakin nyata terhadap pembunuhan Pendeta dan pewarta. Jangan sampai kedepan akan ada lagi pembunuhan terhadap calon imam dan imam orang Papua. Gobay mengingatkan lagi bahwa UUD 1945 tentang kemanusiaan itu belum bisa terjamin kehidupan orang Papua, sampai hari ini peristiwa pelanggaran HAM terus bertambah di Papua. Orang Muda Katolik jangan menyerah dengan keadaan seperti ini, melainkan terus bersatu dan menyuarakan kemanusiaan di atas tanah ini. Terlepas dari Soal idelogi NKRI harga mati dan Papua Merdeka harga mati adalah kolidor politik, urusan bagi yang berwenang di bidangnnya, tetapi soal kemanusia kita berhak untuk terus bersuara (tegas Gobay).

Sambutan  Gobay membawa solidaritas muda katolik dalam suatu suasana batin yang sedih, berduka, prihatin dan terlihat semua anggota peserta merenung nestapa menyelah semua realitas dan bawa dalam sebuah doa sulung dari dalam lubuk hatinya. Dengan harapan bahwa awal yang baik ini sebagai kekuatan untuk tetap menjadi garda terdepan suara gereja orang muda  katolik kedepan.  Kegiatan ini diakhiri dengan pemasangan lilin di lingkungan Mousolium (Alm. Dr. Neles Kebadab Tebay), Jumpa Pers, Suara dalam ungkapan hati Mama Papua yang menderita (Puisi) dan doa.

SOLIDARITAS MUDA KATOLIK UNTUK KEMANUSIAAN DI INTAN JAYA JUMPA PERS, DOA BERSAMA DAN PEMASANGAN LILIN

 

Reporter: Petrus Odihaypai Boga

Editor: Erik Bitdana