REFLEKSI YANG KE-58 TAHUN

UNCEN UNIVERSITAS CENDERAWASIH DI JAYAPURA-PAPUA

Refleksi Pribadi

                                                                                       Oleh Yanuarius Petege

Universitas Cenderawasih (UNCEN) berdiri sejak tanggal 10 November 1962 berdasarkan surat keputasan Presiden Repoblik Indonesia Nomor 389 Tahun 1962 keputan bersama WANPA/ kordinator urusan Irian Barat dan Manteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No 140/PTIP/1962 tanggal 10 November 1962. Pada saat berdiri, uncen memiliki 2 Fakultas dan satu lembaga yakni Fakultas Hukum dan Ketatanegaraan  (FH KK), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Lembaga Antropologi yang berlokasi di Jayapura, sebelumnya bernama Holandia atau Soekarno putra atau Kota baru. Pada tanggal 5 Oktober 1964 dibuka satu Fakultas di Manokwari yakni Fakultas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (FPPK).

Bersamaan pada tahun itu, FKIP dipecah menjadi dua Fakultas yakni Fakultas Keguruan (FK) dan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Kemudian tahun 1965 (FHKK) membuka Jurusan Ilmu Admintrasi Niaga di Sorong dan Jurusan Ilmu Admintrasi Negara di Biak pada tahun 1967. tahun 1970, kedua Jurusan tersebut dipindakan kembali ke FHKK Uncen di Jayapura.

Perkembangan selanjutnya, berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor: 5 tahun 1980, Keputusan Presiden RI Nomor 74 Tahun 1982 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI : 0576 /0/1983 maka FKIP membawahi tiga Jurusan yakni:

  1. Jurusan Ilmu Pendidikan
  2. Jurusan Pendidikan Matematika
  3. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sejalan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat, Uncen mengalami perkembangan dengan membuka beberapa Fakultas antara lain, FMIPA, FT, FKM, Fakultas Kedokteran dan terakhir Fakultas Ilmu Keolahragaan.

Pada tahun 2001, Uncen secara resmi melepaskan Faperta Manokwari yang dikenal dengan nama Universitas Negeri Papua (UNIPA) yang berlokasi di Manokwari. Sehingga sampai saat ini Uncen memiliki 9 Fakultas dan menawarkan 58 Program Studi baik dari Program Diploma, Strata satu dan Pascasarjan.

 

Mentari yang terbit ufuk Timur membawa harapan hidup setiap hari. Tumbuhan bertunas, burung menetaskan telurnya, menusia merayakan hari ulang tahunnya. Ketika hari kelahirannya tiba, ada sukacita dan kebahagiaan besar. Demikian mentari 58 tahun Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura-Papua itu telah terbit.

Matahari harapan itu membawa cerita baru dalam sejak-sejak sejarah 58 tahun lalu. Saat itu 10 November 1962, lahir sebuah lembaga Pendidikan tertinggi tertua di Tanah Papua yang mendahului proses aneksasi Papua tahun 1969. Uncen lahir ditengah prahara politik kepentingan NKRI, Belanda dan Amerika Serikat.

Kelahiran Uncen yang prematur punya alasan politis. Yakni ingin mensejajarkan kedudukan manusia Papua dalam wajah Pendidikan Indonesia dimata dunia Internasional. Bahwa seakan-akan manusia Papua telah menjadi perhatian khusus NKRI sejak 1945.

Padahal, dasar-dasar Pendidikan dan pembangunan manusia Papua sesunggunya telah dimulai tahun 1855 oleh misi Zending Belanda dan Gereja, Pendekatan sosial budaya menjadi kunci penyemaian benih peradaban baru Eropa dan Kristenan. Meski sesunggunya ada kelemahan cara pandang terhadap nilai-nilai adat sebagai nilai kodrati tiap etnis orang Papua.

Ketika itu pada 1962, Uncen hanya terdiri dari dua atau tiga disiplin ilmu: Keguruan, Hukum, dan Ekonomi, Namun seiring perjalanan waktu, mencelma menjadi Universitas besar dan Universitas negeri pertama di Tanah Papua.

Di era 1970-1980an, Uncen terkenal dengan kajian Etno-Antropologi di Nusantara dan dunia luar. Kekuatan Etno-Antropologi sebagai kekuatan sesatuan ilmu dan identitas Papua ternyata menjadi ketakutan pemerintah Indonesia. Akhirnya rumah pendidikan yang dibangun sebagai simbol aneksasi Papua kedalam NKRI itu dirusaki sendiri oleh ibu kandungnya.

Boleh dibilang group Mambesak dan Blac Brothers adalah korban ketidak seriusan dan kejujuran Pemerintah Indonesia dalam membangun (SDM) Papua melalui Uncen kala itu.

Saat memasuki era baru, bangunan yang mencadi lorong sejarah bahwa Uncen perna hadir di Abepura masih tetap kokoh. Bangunan ini membisu sebagai saksi rumah tua yang terus diberi lebel uncen kampus perjuangan dan kampus politik. Padahal, jika menengok ke dalam, tak ada jurusan dan dasar politik yang diajarkan di Uncen saat itu seperti di Universitas Indonesia (UI). Apa penyebabnya? Entalah. Yang jelas, pemerintah Indonesia takut kalau ilmu dasar berpolitik diterima, pasti Papua Merdeka sejak dulu.

Kini sprit merdeka itu terus bertumbuh dan merambat walaupun institusi keamanan semisal badan inteljen Nasional (BIN) dengan segalah cara membabatnya. Sebab ideologi ke-Papua-an tidak berasal dari dunia pendidikan ia hidup dalam rahim setiap mama Papua yang mengandung dan melahirkan manusia Papua.                                                                                                                 Benih-benih tertabur dari darah dan tangisan orang Papua yang telah lenyap dalam gejolak politik kepentingan Indonesia, Belanda dan Amerika atas kekayaan alam dan budaya manusia Papua. Meneropong Uncen dalam era reformasi saat ini, praktek monopoli berbagai aspek kepentingan terus berlanjut.

Penghambatan pembangunan penaburan benih keilmuan yang subur masih terus diganggu dengan manajemen politik global yang diperankan di pentas lembaga pendidikan. Setiap isu kepentingan politik, golongan dan individual menjadi palang pintu afektifitas pembelajaran.

Tanggal 10 November 2015, perjalanan ziarah ke lorong Uncen di gedung eks Gubernur Nederlands Nieuw Guniea di Holandia Binnen telah dilangsungkan. Dihadiri segenap civitas akademia Uncen: pimpinan, staf, mahasiswa dan para alumni.

Sebuah ritual khidmat tahunan. Satu dalam empat pilar kekuatan: pimpinan, staf dosen, mahasiswa dan alumni.

Lantas, apa yang menjadi perenungan dan dan pergumulan yang hendak kita bawah kedalam lorong sejarah Uncen itu? Hendak kemana dan seperti apakah Uncen kelak?

Masa depan Uncen ke arah yang lebih baik tentu menjadi beban kita. Uncen tidak harus mencetak generasi instan dan sarjana supermi. Atau menghasilkan generasi teropong yang hanya ingin gelar dan kedudukan tapi tak mau ikut membangun, merawat dan merehap rumahnya.

Dengan begitu membiarkan para benalu dan linta darat menghisap darah manusia Papua. Penulis mengajak mari kita merenungkan, mari tanya isi hati kita dan mari bersatu semua alumni, mahasiswa, dosen dan pimpinan serta staf, mari kita menjadi satu pilar yang kokoh untuk kualitas dan kejayaan lembaga pendidikan dan almamater kita Universitas Cenderawasih Papua.

 

Dirgahayu Uncen Ke-58 tahun (10 November 1962 – 10 November 2020).

(*Penulis adalah: Mahasiswa Papua kuliah Uncen FKIP Jurusan Sejarah