Oleh: Florentinus Tebai*)
KEBADABI VOICE. Menurut Koran Jubi (Jujur-Bicara) pada edisi (Kamis, 20, February 2020 pukul 6:40 pm) bahwa bupati Deiyai menegaskan kepada rakyatnya, agar tidak menjual tanah “Bupati Deiyai, Ateng Edowai, menegaskan agar masyarakatnya tidak boleh menjual tanah”. Menurutnya (Bupati Deiyai, Ateng Edowai) bahwa tanah itu ada kaitannya dengan nasib dari kehidupan anak cucu kita di masa depan. Oleh karena itu, baginya bahwa tanah itu mesti dijaga dan dikelola dan bukan dijual sembarangan. “Sebab nantinya yang akan terancam adalah masa depan anak dan cucu”.
Pernyataan Bupati Deiyai di atas, yakni Jangan jual tanah” merupakan satu sikap dan bentuk kepeduliaannya dan keprihatinannya terhadap masyarakatnya, tapi juga nasib masa depan anak-anak cucu kita di masa yang akan datang. Sebab, kehidupan yang sebenarnya tidak hanya sebatas kita bernafas, tetapi kehidupan yang sesungguhnya yang harus dialami oleh kita orang asli Papua (Selanjutnya akan disebut orang Papua). Pernyataan jangan jual tanah oleh Bapak Bupati mengingatkan kita orang Papua bahwa tanah adalah bagiaan dari kehidupan kita orang Papua. Artinya bahwa dalam pandangan hidup orang Papua sejak dahulu-kala (Kehidupan Tete-Nene Moyang) kita hingga kini (Zaman Sekarang) bahwa tanah adalah Mama. Orang Papua memaknai tanah sebagai mama. Mama (Tanah) yang dapat memberikan keberlangsungan hidup kita di atas tanah Papua. Singakatnya bahwa tanah adalah warisan Leluhur.
Mengapa Stop Jual-Warisan Leluhur?
Yang dimaksudkan sebagai warisan leluhur di dalam ulasan ini adalah Tanah. Jadi, Stop jual warisan leluhurmr (Selanjutnya akan disebut Tanah) sama halnya dengan stop menjual tanah. Karena pada dasarnya, bagi orang Papua dalam kehidupanya tanah sudah dianggap dan dipandang sebagai warisan leluhur yang sangat berharga. Benda berharga dan bernilai. Oleh karena itu, orang Papua mengalami kehidupan di atas tanahnya. Dalam konteks, orang Papua mengalami kehidupan yang layak itu artinya bahwa kehidupan yang kita jalani orang Papua, sebenarnya kehidupan yang sesungguhnya tidak hanya sebatas bernafas. Tetapi, kehidupan yang sesungguhnya adalah kepenuhan atas hak-hak hidup kita. Yang dalam konteks ini ada hubungannya dan kaitannya dengan stop jual-tanah, sebab bagi orang Papua tanah adalah hak ulat. Artinya tanah milik adat yang harusnya dijaga dan diolah oleh orang Papua. Karena dengan menjaga dan mengelola tanah, orang Papua akan mengalami kehidupan yang sebenarnya.
Mengalami kehidupan yang sebenarnya yang dimaksudkan disini adalah kehidupan yang layak di atas tanah Papua. Artinya bahwa sebagai mana semua manusia ingin mengalami suatu kehidupan yang penuh dengan merasakan perdamaiaan dalam seluruh kehidupannya. Arti kehidupan tidak hanya sebatas bernafas, akan tetapi kehidupan yang selama hidupnya harus mengalami suatu perdamaian di dalam dirinya. Kehidupan yang penuh damai itu sendiri identik dengan adanya suasana aman, kepenuhan terhadap hak-hak hidupnya (Keadilan), terciptanya kenyamanan dan ketentraman, tidak ada kekerasan, mengalami kesejahteraan hidup dalam segala bidang aspek kehidupan (Sosial-Ekonomi, Pendidikan, dan lainya), hidup sehat baik secara jasmani maupun rohani, adanya jaminan atas hak-hak hidup (Dihargai dan Dihormati), di atas tanahnya, beserta semua sumber daya alamnya. Sebab, kehidupan yang demikian adalah sebuah hak hidup yang telah dianugerahkan oleh Allah Bapa sang Pencipta segalanya kepada semua orang dan bukan oleh siapa pun dan bangsa mana pun di dunia.
  Orang Papua jangan menjual tanah, karena di dalam tanah sendiri memiliki nilai-nilai yang amat fundamental (Mendasar) di dalam seluruh kehidupanya. Bahwasanya diantaranya seperti, ada nilai perdamaiaan, kebahagiaan, kenyamanan, keadilan, merasa terpenuhi atas seluruh kebutuhan hidupnya,  ada nilai kemanusiaan, ada nilai harga diri, ada nilai martabatnya sebagai orang Papua. Oleh karenanya, orang Papua mesti menjaga dan mengelola tanah sebagai bentuk perlindungan dan penghargaan kepada tanah sebagai tanah yang dapat memberikan kehidupan yang sebenarnya.
ada nilai perdamaiaan. Artinya bahwa terkadang orang sering berkelahi ketika orang tidak memiliki sebidang tanah. Dan bahkan perang hanya karena tanah dirampas, atau dijual.  Maksudnya ada konflik-konflik yang sering terjadi antara warga sendiri dan itu hanya karena tananya sudah dijual dan karena tidak memiliki sebidang tanah lagi. Ringkasnya bahwa dengan begitu orang tidak mengalami hidup damai sendiri, karena tanahnya sudah tidak ada. Jadi terkesan bahwa menjual tanah sama hallnya dengan hilangnya kehidupan yang damai (tidak ada perang; tidak ada kerusuhan, aman, tenteram; tenang, keadaan tidak bermusuhan; rukun).
Kebahagiaan dan kenyamanan. Artinya bahwa dengan memiliki sebidang tanah. Orang Papua bias mengalami kebahagiaan dan kenyamanan di dalam seluruh keberlangsungan hidupnya. Dan hal ini hanya bias terjadi dan tebukti jikalau orang Papua tidak menjual tanah. Sebab, dengan tidak menjual tanah maka, orang Papua akan mengalami kebahagiaan dan kenyamanan di dalam seluruh kehidupannya. Artinya bahwa orang Papua akan mengalami kebahagiaan hidup yang tidak hanya sebatas bernafas, tetapi juga mengalami kehidupan yang sebenarnya di atas tanah Papua baik di generasi kini maupun di generasi yang akan datang.  Dalam konteks ini sangatlah benar dengan apa yang disampaikan oleh Bupati  Deiyai bahwasanya “Kalau jual tanah, maka masa depan anak cucu mau ke mana? (Koran Jubi, Kamis, 20/2/2020).
Jangan menjual tanah, karena ada nilai keadilan yang tersirat dalam tanah itu sendiri. Artinya bahwa kehilangan tanah sebagai warisanan leluhur sama halnya dengan kehilangan kesempatan untuk belajar, bertumbuh dan hidup dari tanah yang merupakan miliknya sendiri. Bila nasibnya sudah demikiaan, maka sudah menjadi jelas bahwa seorang pribadi tersebut kehilangan segala-galanya. Baik itu kehidupannya di masa kini, maupun kehidupan bagi anak-anak cucunya di masa depan. Oleh karena itu, jagalah negerimu, supaya engkau memperoleh kehidupan yang sebenarnya. Jagalah duniamu dengan baik, supaya engkau memperoleh kehidupan yang layak darinya. Rawatlah duniamu, agar engakau merasa terpenuhi atas seluruh kebutuhan hidupmu.
 ada nilai kemanusiaan. Artinya bahwa orang Papua sejak dahulu hingga kini sudah menganggap dan memandang tanah Papua sebagai mama yang selalu melayani seluruh kehidupan orang Papua Karena, Tanah Papua baik di dalam tanah maupun dia atas tanah, tanah Papua sudah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh orang Papua. Singkatnya, alam Papua seperti supermarket yang sudah menyediaakan segala sesuatu bagi keberlangsungan hidup orang Papua. Oleh karena itu, orang Papua jangan menjual tanah, karena tanah adalah mama dalam kehidupan orang Papua.
Ada nilai harga diri. Artinya bahwa hanya dengan memiliki sebidang tanah kita dianggap sebagai orang Papua. Kita dihargai dan dihormati oleh orang lain, karena kita memiliki tanah. Tanah yang adalah mama yang sudah, sedang dan akan selalu menjaga-melindungi-memelihara kita dan seluruh kebutuhan hidup kita sebagai orang Papua. Ingat tanah adalah harta benda yang paling mendasar dan utama. Oleh karena itu, jagala dusunmu sebagai harta yang paling berharga dan anggaplah tanah sebagai harga dirimu, sebab hanya dengan memiliki sebidang tanah, kita orang Papua dihargai dan dihormati serta dijunjung tinggi akan harkat dan martabat di hadapan orang lain di atas tanah negeri Papua. Singkatnya, harkat dan martabat serta harga diri sebagai orang Papua sebagai orang yang memiliki harga diri dan martabat ada di atas tanah Papua. Stop jual tanah, jagalah duniamu dengan baik, agar engaku tetap terpelihara dan terlindungi dari segala ancaman bahaya dari orang lain.
Akhirnya bahwa hanya dengan menganggap tanah sebagai warisan leluhur, simbol harga-diri dan martabat, simbol pernamaiaan, keadilan, kenyamanan dan keadilan, kebahagiaan dan perdamaiaan sajalah kita bisa menjaga dan mengelolah dan melindungi tanah sebagai mama dan warisan leluhur orang Papua. Stop jual tanah.
*)Penulis adalah Mahasiswa Semester IV dan Aggota Kebadavi Voice di STFT “ Fajar Timur” Abepura, Jayapura-Papua.