TANAH KAMI “MAMA KAMI”

(Suatu Perspektif Teologis tentang Sumber Kehidupan Orang Papua)

 

Oleh: Juan Izako Renjaan de Arauj

 

Lebih dari setahun sudah Mgr. Jhon Philip Saklil Pr. meninggalkan umatnya di Keuskupan Timika. Kepergiannya menghadirkan duka terutama bagi mereka yang berada di bawah naungan kegembalaannya. Hingga saat ini, takhta keuskupan yang ditinggalkannya masih berada dalam status lowong (sede vacante) dan untuk sementara waktu tugas-tugas penggembalaannya ditangani oleh seorang imam yang kedudukannya sebagai administrator diosesan. Beliau bukan hanya figur yang meninggalkan tugas, Beliau menyisahkan warisan berharga yang dapat dijadikan pertimbangan di tengah wacana Otsus jilid II yang segendang sepenabuhan dengan kekhawatiran akan hilangnya hak hidup Orang Asli Papua (OAP).

“Stop jual tanah!

Orang Papua bisa hidup tanpa uang, tapi tidak bisa hidup tanpa tanah”. Ungkapan ini merupakan satu dari sekian ucapan yang terlontar dari bibir Mgr. Jhon Philip. Dalam setiap kesempatan perjumpaan dengan umat, uskup yang low profile ini selalu mewanti-wanti dan sekaligus mengedukasi umatnya untuk menyadari betul fungsi tanah. Orang Papua perlu kembali pada konsep pemikiran kultural yang mengedepankan alam. Nenek moyang papua tidak pernah mati kelaparan di tanah sendiri, nenek moyang Papua selalu dicukupkan oleh alam Papua.

Tanah dalam Pemaknaannya
Hampir setiap suku di Indonesia punya hubungan yang khas dengan tanah. Orang Nias di Provinsi Sumatera Utara menyebut daerah mereka sebagai Tanö Niha. Orang Jawa menyebut daerah mereka sebagai Tanah Jawi. Demikian pula secara berturut-turut, orang Timor dengan istilah Tana Timor, orang Toraja dengan ungkapan Tana matari Allo Tondok Lepongan Bulan , orang Kei melalui ungkapan Tanat Evav hingga orang Papua yang menyebut wilayahnya sebagai Tanah Papua. kesemua ungkapan ini menunjukkan fakta empirik bahwa manusia Indonesia terikat dengan tanah dan sekaligus pada daerah asalnya. Negara Indonesia sendiri bahkan disebut oleh rakyatnya dengan istilah tanah air. Dengan demikian, tanah bukan hanya menunjuk pada realitas fisik-organik yang tampak melainkan juga pada aspek sosio-kultural yang melekat di dalamnya. tanah yang setiap hari dipijak dan dijejali adalah sesuatu hal yang sarat akan nilai dan makna bagi kehidupan manusia Indonesia.

Banyak kebudayaan di Papua hidup dengan pemaknaan yang mendalam akan fungsi tanah. Tanah adalah sesuatu yang ‘dikhultuskan’. Tanah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dan disanjung dengan ungkapan mama. Budaya Ngalum adalah salah satu cerminan dari kekhasan hubungan antara manusia Papua dengan tanah. Tanah adalah milik mama (nan mangola). Tanah harus dihormati sebagaimana orang Ngalum menghormati mama sebab mama dan tanah adalah sama-sama figur yang memberi hidup. Persekutuan yang khas antara manusia Ngalum dengan tanah terwujud dalam ritus memakan segumpal tanah saat pembukaan kebun. Ritus ini melambangkan kesatuan antara tanah dengan manusia sekaligus peran tanah sebagai sumber kehidupan dan kesuburan (Erari :1999. hal. 48-49).
Dari segi sosio-kultural, sebagian besar masyarakat Papua tidak mengenal sistem kepemilikan tanah pribadi.

Ketiadaan sistem ini dikarenakan manusia Papua adalah manusia-manusia yang hidup secara komuniter. Manusia-manusia tersebut senantiasa membentuk kelompok atau komunitas mini yang kemudian mengelola tanah dengan tetap mempertimbangkan aspek komunal masyarakat. Pola hidup berkelompok ini lantas berkembang dalam terbentuknya keret/marga yang tinggal bersama dan lalu menjadi kesatuan unit masyarakat yang disebut dusun atau kampung.
Tanahku Sumber Kehidupanku
Manusia Papua adalah manusia yang kehidupannya tidak dapat dilepaskan dari alam. Kebanyakan dari manusia Papua adalah pengolah alam. Mereka adalah para pemburu hewan, pembuka kebun, peternak kelas kecil, juga pengrajin hasil alam berskala rumahan yang kesemua aktivitasnya bergantung sepenuhnya pada tanah dan alam. Kedekatan manusia Papua dengan alam menimbulkan adanya hubungan emosional yang mendalam dan penuh dengan solidaritas tinggi pada tanah (Stockton : 1986, hal.8).

Sebagaimana masyarakat global, masyarakat tradisional nan bersahaja di dusun-dusun Papua juga berhadapan dengan tantangan modernitas. Arus globalisasi yang tak dapat dielakkan menawarkan suatu perspektif baru dalam memandang dunia. Kedudukan alam yang bersahabat perlahan terganti dengan pola pikir dunia yang penuh perhitungan. Pada tahap ini, terjadi pergeseran paradigma berpikir dan cara pandang manusia Papua. Kehidupan modern menawarkan suatu paradigma untuk tidak perlu lagi mencari makanan di hutan atau membuat bedeng untuk ditanami sayur. Manusia hanya perlu menyeduh makanan siap saji dengan segelas air panas. Perspektif yang sama turut mempengaruhi seluruh aspek kehidupan bermasyarakat sehingga kultur hidup bersahabat dengan alam mulai berganti dengan mentalitas ekonomis yang penuh pertimbangan taktis berujung serba duit. Demi uang, tanah yang adalah warisan leluhur untuk anak cucu dapat saja digadai bagi kepentingan para pemodal dan investor. Demi uang, tanah yang sepatutnya diatur secara bersama dengan mudah dilupakan. Lantas, perspektif tanah sebagai mama yang memberi hidup dan senantiasa mencukupkan kebutuhan dipertaruhkan.

Perspektif Teologis

Dalam terang iman kristiani, dikisahkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali kepada tanah (bdk. Kej. 2:7).

Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan kemudian menghembuskan nafas hidup sehingga manusia itu hidup. Perspektif ini menjadi suatu fondasi dasar untuk menarik kesimpulan bahwa manusia punya relasi khusus dan keterikatan tertentu dengan tanah. Relasi tersebut semakin diperdalam maknanya dengan merenungkan kisah panggilan Abram. Sebagai cikal lahirnya suatu bangsa yang dipersiapkan Allah untuk karya penebusan, serta sebagai suatu model bangsa yang dipilih Allah, sejak mulanya Allah memberikan janji tanah yang subur dan berlimpah susu dan madunya bagi Abram dan keturunannya. Dengan demikian, muncul suatu gambaran bahwa tanah merupakan unsur fundamental dalam kehidupan manusia.Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa tanah.

Tindakan mencipta Allah sendiri merupakan suatu proses yang tergolong ribet: mengambil debu tanah, membentuk manusia dan menghembuskan nafas pada hidungnya, menjadi suatu hal lain yang pantas direfleksikan. Allah tidak pernah menjadikan manusia dengan cara instan sekalipun ia dapat melakukannya. Ia bertindak demikian agar manusia tahu menghargai suatu proses dan tidak bermental instan.

Pada akhirnya, mengingat lekatnya hubungan manusia Papua dengan tanah, prinsip pengelolaan tanah di Papua, termasuk kekayaan yang terkandung di dalamnya, perlu dikelola layaknya suatu perpustakaan dan bukan toko buku. Pengelolaan berbasis perpustakaan adalah bentuk tata kelola paling tepat sesuai kultur dan sisi sosiologis manusia Papua. Perpustakaan tidak pernah menawarkan kepemilikan pribadi namun hanya melalui perpustakaan kebutuhan bersama selalu tercukupkan.

 

(*Penulis adalah Mahasiswa di STFT Fajar Timur Abepura-Papua